Sungkeman, Tradisi Masyarakat Jawa Meminta Maaf Kepada Orang Tua Saat Lebaran

Wonogiri, KPonline – Salah satu tradisi masyarakat Indonesia saat Lebaran atau Idul Fitri tiba adalah Sungkeman.

Dikutip dari KBBI, sungkem adalah sujud atau tanda bakti. Sementara sungkeman biasanya dilakukan pada pagi hari setelah Shalat Idul Fitri.

Pada saat sungkeman Lebaran 1445 H misalnya di Pracimantoro Wonogiri (10/4/2024) orang-orang yang masih muda akan datang ke rumah yang lebih tua dan saling meminta maaf.

Walau menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi Lebaran di masyarakat Jawa, tidak semua orang mengetahui asal kata sungkem.

Dikutip koran perdjoeangan (11/4/2024) dari laman Puro Mangkunegaran, Sungkem diambil dari kata sungkeman yang memiliki arti bersimpuh atau duduk jongkok sambil mencium tangan orang yang dituakan.

Saat sungkeman, anak meminta maaf atas ucapan atau tindakan yang tidak berkenan kepada orang tua. Tujuan permintaan maaf supaya dosa dan kesalahan mereka dihapus melalui wasilah maaf dari orang tua dan yang dimintai maaf.

Anak yang melakukan sungkeman juga bisa berharap doa yang terbaik dari orangtua mereka ketika sungkem. “Ngaturaken sembah pangabekti kawulo dumateng ibu bapak. Sepinten kalepatan kulo, lampah kulo setindak, paben kulo sakecap ingkang mboten angsal idining sarak, kulo nyuwun pangapunten mugi lineburo ing dinzen riyoyo puniko.”

Artinya : Mengucapkan minta maaf atas semua kesalahan saya kepada ibu bapak, semua tidakan saya, setiap ucapan saya yang sembarangan, saya minta maaf sebesar besarnya di hari raya ini.

Itulah hebatnya orang tua yang selalu memaafkan kesalahan anaknya, sebesar apapun kesalahan anak pasti dimaafkan. Maka bagi yang masih memiliki orang tua jangan pernah menyia-nyiakan keduanya.

Dan yang terpenting sebagai generasi muda seyogyanya kita terus melestarikan budaya luhur bangsa dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, karena meminta maaf adalah sebuah tindakan yang mulia. (Yanto)