Jakarta, KPonline — Sebanyak 50 perwakilan Serikat Pekerja Anggota (SPA) FSPMI mengikuti Sekolah Ideologi Dasar (SEIDA) 2 Perempuan FSPMI yang diselenggarakan di Kantor DPP FSPMI, Selasa (20/10/2026).
Peserta berasal dari SPA SPLP, SPAMK, SPAI, SPEE, dan SPDT yang mewakili wilayah Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan ideologi dan kapasitas kader perempuan di lingkungan gerakan buruh.
Pada sesi materi pertama, Syawal Harahap tampil sebagai pemateri dengan membawakan materi Profil FSPMI sebagai landasan pemahaman identitas dan arah perjuangan organisasi.
Dalam paparannya, Syawal menjelaskan akar sejarah FSPMI yang lahir dari momentum Reformasi 1998 melalui Keppres No. 83/1998 tentang Kebebasan Berserikat. Dari Munas SPLEM FSPSI Reformasi, lahir SPMI sebagai serikat unitaris pada 6 Februari 1999, dan kemudian bertransformasi menjadi FSPMI sebagai federasi pada 1 September 2001.
Ia juga memaparkan Visi FSPMI yakni membangun serikat pekerja yang demokratis, bebas, representatif, dan independen dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Misi organisasi menghimpun pekerja di sektor logam, elektronik-elektrik, otomotif mesin dan komponen, dirgantara, serta dok dan galangan kapal.
Secara struktur, FSPMI memiliki Kongres sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, DPP, Majelis Nasional, serta perangkat organisasi dari PP, PC, hingga PUK di tingkat pabrik, dengan dukungan DPW dan KC sebagai garis koordinatif di wilayah.
Syawal menegaskan, perjuangan FSPMI ditopang oleh 7 Pilar Pendukung Program yakni Garda Metal, LBH FSPMI, Media Perdjoeangan, INKOPBUMI, PUSDIKLAT, Jamkeswatch & Jamnakerwatch, dan GASPOL. Pilar ini menjadi instrumen untuk mengawal advokasi hingga partisipasi politik.
Lebih lanjut, ia menguraikan 12 Strategi Perjuangan FSPMI, mulai dari ideologi dan kaderisasi, penambahan anggota, penguatan iuran (COS), advokasi, K-L-A-P, rapat umum, hingga strategi ke-7 yakni pemberdayaan pekerja perempuan yang menjadi relevansi utama SEIDA 2 ini.
Menurut Syawal, pemahaman profil organisasi bagi kader perempuan bukan sekadar administratif, melainkan fondasi ideologis untuk membangun militansi, solidaritas, dan kemampuan mengambil peran kepemimpinan dalam pengambilan keputusan serikat.
SEIDA 2 Perempuan FSPMI diharapkan melahirkan kader perempuan yang berpengetahuan, kritis, dan berintegritas. Di tengah tantangan ketenagakerjaan, penguatan perempuan pekerja harus berlanjut pada kemampuan mengorganisasi, mengawal hak-hak pekerja, dan mengubah pengetahuan menjadi kekuatan kolektif untuk memperjuangkan martabat pekerja.