Jakarta, KPonline — Di tengah tantangan ketenagakerjaan yang kian kompleks, Dewan Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (DPP FSPMI) mempertegas komitmen regenerasinya dengan menggelar Sekolah Ideologi Dasar (Seida) 2 Khusus Perempuan di Kantor DPP FSPMI, Jakarta.
Agenda kaderisasi strategis ini dihadiri oleh 50 peserta perwakilan perempuan dari Serikat Pekerja Anggota (SPA) FSPMI yang mencakup tiga wilayah basis industri utama, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.
Adapun pilar sektoral yang mengirimkan delegasinya meliputi Serikat Pekerja Logam, Elektronik, dan Mesin (SPLP/SPL), Serikat Pekerja Dirgantara dan Transportasi (SPDT), Serikat Pekerja Aneka Industri (SPAI), Serikat Pekerja Elektronik Elektrik (SPEE), serta Serikat Pekerja Automotif, Mesin, dan Komponen (SPAMK).
Dalam forum tersebut, Syawal Harahap hadir mengupas tuntas dialektika sejarah gerakan buruh, baik dalam lintasan perjuangan nasional maupun fondasi historis kelahiran FSPMI. Pemaparan ini tidak sekadar menuturkan kronologi masa lalu, melainkan menanamkan pemahaman dialektis mengenai akar perjuangan kelas pekerja—mulai dari perlawanan era kolonial, dinamika serikat buruh di masa kemerdekaan, hingga tantangan hegemoni perburuhan di era modern.
Syawal menegaskan bahwa memahami sejarah adalah instrumen mutlak agar kader serikat tidak tercerabut dari jati diri gerakannya.
“Sejarah perjuangan bukan sekadar kisah, ia adalah energi abadi dan penjaga komitmen perlawanan. Kader perempuan harus memahami ideologi perburuhan secara utuh agar ke depan mampu memegang kendali arah perjuangan dan tidak mudah terkooptasi oleh kepentingan pragmatis,” tegasnya di hadapan puluhan peserta.
Penyelenggaraan Seida 2 Perempuan ini menyoroti urgensi regenerasi kepemimpinan serikat buruh yang berkeadilan gender dan berkarakter ideologis. Melalui kurikulum ideologi dasar, forum ini dirancang untuk mendobrak persepsi bahwa perempuan hanya menjadi pelengkap administrasi gerakan, melainkan ditempa menjadi aktor strategis dalam perundingan, pengorganisasian, hingga aksi advokasi di garis depan.
Materi yang diberikan membekali peserta dengan prinsip-prinsip dasar perjuangan FSPMI—mulai dari kemandirian, demokrasi, solidaritas, hingga strategi perjuangan berbasis lobi, aksi, dan politik perburuhan. Para kader muda diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam respon kritis terhadap isu-isu riil di pabrik maupun kebijakan publik, seperti upah layak, jaminan sosial, kepastian status kerja, hingga perlindungan hak maternitas buruh perempuan.
Dengan tuntasnya Seida 2 ini, FSPMI tidak hanya mempertebal kesiapan ideologis kader mudanya di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten, tetapi juga memastikan estafet perlawanan buruh tetap terjaga secara konsisten, kritis, dan berprinsip.