Purwakarta, KPonline-Aroma daging yang dibakar diatas bara arang, berpadu dengan racikan rempah yang meresap hingga ke dalam serat daging, menjadi ciri khas sate maranggi. Kuliner yang kini identik dengan Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, ini bukan sekadar makanan penggugah selera. Sebab dibalik setiap tusuknya, terdapat kisah tentang kreativitas masyarakat, perjalanan para pedagang, dan tradisi kuliner yang berkembang dari generasi ke generasi.
Sate maranggi kini mudah dijumpai di berbagai sudut Purwakarta, mulai dari kawasan Bungursari, Plered, hingga jalur Purwakarta–Wanayasa. Popularitasnya bahkan melampaui batas daerah dan menjadikannya salah satu daya tarik wisata kuliner Jawa Barat.
Namun, pernahkah kita bertanya, dari mana sebenarnya sate maranggi berasal? Siapa sosok dibalik namanya, dan bagaimana makanan yang dahulu dijual secara sederhana bisa menjadi kebanggaan masyarakat Purwakarta?
1. Berawal dari kisah Mak Anggi di Cianting
Salah satu kisah yang paling populer menyebutkan bahwa nama sate maranggi berhubungan dengan seorang perempuan bernama Mak Anggi, yang berasal dari Jawa Tengah dan berjualan sate menggunakan tenda sederhana di kawasan Cianting pada sekitar 1960-an.
Menurut sumber yang dihimpun, masyarakat yang ingin membeli sate tersebut konon menyebutnya sebagai sate Mak Anggi. Karena penyebutan itu berlangsung berulang kali, nama tersebut kemudian berkembang menjadi “sate maranggi”.
Penambahan huruf r dalam penyebutan Maranggi dijelaskan dalam penelitian tersebut sebagai bentuk yang memudahkan pengucapan nama kuliner itu oleh masyarakat.
Dari kisah inilah nama sate maranggi dipercaya mulai dikenal. Meski demikian, cerita Mak Anggi merupakan salah satu versi asal-usul penamaan yang bersumber dari keterangan informan, bukan bukti dokumenter yang memastikan secara mutlak bahwa dialah pencipta pertama sate maranggi.
Menariknya, nama kuliner ini akhirnya lebih terkenal daripada kisah pribadi sosok yang dikaitkan dengannya. Seiring waktu, sate maranggi bukan lagi sekadar sebutan untuk sate dari seorang pedagang, tetapi berkembang menjadi nama hidangan dengan karakter rasa tersendiri.
2. Mang Udeng, pedagang yang tercatat berjualan sejak 1962
Selain kisah Mak Anggi, penelitian Irvan Setiawan mencatat nama Bustomi Sukmawirdja, yang dikenal dengan panggilan Mang Udeng. Berdasarkan keterangan informan dalam penelitian tersebut, Mang Udeng telah berjualan sate maranggi di Kecamatan Plered pada 1962.
Catatan ini menjadi penting karena memberikan gambaran bahwa Plered telah menjadi salah satu pusat perkembangan sate maranggi sejak awal 1960-an.
Artinya, sejarah sate maranggi tidak hanya berkaitan dengan cerita mengenai asal nama, tetapi juga dengan para pedagang yang memperkenalkan dan mempertahankan hidangan tersebut di tengah masyarakat.
Meskipun demikian, tahun 1962 perlu dipahami sebagai tahun keberadaan pedagang yang tercatat dalam penelitian, bukan sebagai tanggal pasti penciptaan sate maranggi.
3. Benarkah sate maranggi berasal dari Plered atau Wanayasa?
Pertanyaan mengenai daerah asal sate maranggi terkadang mengarah pada dua wilayah, yaitu Plered dan Wanayasa. Keduanya memiliki kisah dan tradisi pengolahan sate yang turut membentuk identitas kuliner Purwakarta.
• Plered: jejak pedagang sejak 1962
Plered tercatat memiliki pedagang sate maranggi bernama Mang Udeng sejak 1962. Dalam catatan penelitian, daging sapi dan kerbau menjadi bahan yang digunakan pada masa itu. Kawasan sekitar Stasiun Plered juga disebut sebagai salah satu sentra awal sate maranggi.
• Wanayasa: perkembangan olahan daging domba
Dan masih dari sumber yang dihimpun oleh KPonline, mencatat Mak Unah telah berjualan sate di Wanayasa sekitar 1970. Ia menyebut dagangannya sebagai sate panggang, bukan sate maranggi. Menurut keterangannya, sekitar 1965 ia mulai mencoba daging domba sebagai variasi bahan, sementara sapi dan kerbau juga digunakan sebelumnya.
Berdasarkan keterangan tersebut, bahwa hasil dari penelusuran menyimpulkan bahwa Plered dan Wanayasa sama-sama memiliki peran dalam perkembangan sate maranggi. Plered menonjol dalam catatan awal penjualannya, sedangkan Wanayasa turut berperan dalam perkembangan penggunaan daging domba.
4. Kisah para pekerja peternakan dan cara mengolah daging
Dalam versi yang dipublikasikan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta mengisahkan bahwa sate maranggi berawal dari kreativitas pekerja di sebuah peternakan domba di Plered.
Dalam cerita tersebut, para pekerja terkadang hanya memperoleh potongan sisa daging. Mereka kemudian mencari cara untuk mengolah daging tersebut menjadi makanan yang lezat dan tidak cepat rusak.
Daging dipotong kecil-kecil, direndam dalam racikan rempah-rempah, lalu diberi sedikit gula aren. Bumbu tersebut dipercaya membantu menghasilkan cita rasa khas sekaligus menjadi bagian dari cara pengolahan daging pada masa itu.
Kisah ini menarik karena menggambarkan bagaimana keterbatasan bahan dapat mendorong kreativitas masyarakat. Bahan yang sederhana diolah menjadi hidangan yang kemudian dikenal luas.
5. Apa yang membuat sate maranggi berbeda dari sate lainnya?
Sate maranggi memiliki karakter yang membedakannya dari berbagai jenis sate di Indonesia. Keistimewaannya bukan semata-mata terletak pada proses pembakaran, melainkan juga pada persiapan daging, bumbu, dan cara penyajiannya.
Pertama, bumbu meresap ke dalam daging. Daging dipersiapkan bersama racikan bumbu sebelum dibakar. Cara ini membuat cita rasa tidak hanya bergantung pada saus yang ditambahkan ketika sate sudah matang.
Kedua, menggunakan racikan rempah. Bumbu tradisional menjadi bagian penting dalam menciptakan perpaduan rasa gurih, manis, dan aroma khas saat daging bersentuhan dengan bara api.
Ketiga, memiliki variasi bahan. Sate maranggi Purwakarta dikenal menggunakan daging sapi maupun domba. Catatan sejarah juga menyebut penggunaan daging kerbau pada masa awal perkembangannya.
Keempat, memiliki variasi penyajian. Di sejumlah tempat, sate maranggi disajikan bersama sambal tomat. Di kawasan lain, hidangan ini dapat dinikmati dengan sambal oncom dan ketan bakar.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sate maranggi tidak memiliki satu pola penyajian yang sepenuhnya seragam. Tradisi lokal, bahan yang tersedia, dan kreativitas pedagang ikut membentuk karakter setiap sentra kuliner.
6. Dari pedagang keliling hingga menjadi sentra kuliner
Pada masa lalu, pedagang sate maranggi tidak selalu memiliki rumah makan permanen. Penelitian Irvan Setiawan menggambarkan kebiasaan pedagang berkeliling atau ngider dengan membawa perlengkapan dagangan.
Peralatan yang digunakan antara lain panggangan, arang, kipas tradisional atau hihid, tusuk sate, serta perlengkapan untuk menyajikan makanan. Ada pula pedagang yang membawa nasi berbungkus daun pisang dan teh tawar untuk pembeli.
Persiapan dagangan dilakukan sejak malam hari, sementara aktivitas berjualan berlangsung dari pagi hingga petang. Cara berdagang seperti ini memperlihatkan bahwa sate maranggi berkembang melalui hubungan langsung antara penjual dan masyarakat.
Dari kebiasaan berjualan sederhana tersebut, sate maranggi kemudian tumbuh menjadi usaha kuliner yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Kini, sate maranggi dijual di berbagai warung, rumah makan, dan sentra kuliner. Kawasan Plered, Bungursari, dan jalur Purwakarta–Wanayasa menjadi sejumlah lokasi yang dikenal dengan keberadaan pedagang sate maranggi.
7. Mengapa sate maranggi menjadi ikon Purwakarta?
Popularitas sate maranggi tidak terlepas dari perpaduan cita rasa, tradisi, dan promosi kuliner yang terus berkembang. Ketika masyarakat menyebut sate maranggi, nama Purwakarta ikut teringat.
Dan dari beberapa penelitian juga mencatat peran pemerintah daerah dalam mendorong pengenalan sate maranggi sebagai daya tarik wisata. Pengembangan variasi rasa, pola penyajian, serta promosi turut membantu memperluas popularitasnya.
Bagi pelaku usaha, keberadaan sate maranggi membuka peluang ekonomi melalui penjualan makanan, penyediaan bahan baku, hingga kegiatan wisata kuliner. Bagi masyarakat, kuliner ini menjadi salah satu penanda identitas daerah yang dapat diperkenalkan kepada pengunjung dari luar Purwakarta.
Dengan demikian, sate maranggi bukan hanya produk makanan, tetapi juga bagian dari cerita tentang bagaimana tradisi lokal dapat menjadi daya tarik ekonomi dan kebudayaan.
8. Sate maranggi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Pengakuan terhadap sate maranggi tidak hanya datang dari popularitasnya dikalangan pencinta kuliner. Pada 2018, Sate Maranggi Plered, Kabupaten Purwakarta, tercantum dalam Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia dengan nomor registrasi 201800688.
Penetapan tersebut masuk dalam domain kemahiran dan kerajinan tradisional. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 264/M/2018 menjadi salah satu dokumen resmi yang mendasari penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun tersebut.
Pengakuan ini penting karena warisan budaya tidak hanya berupa bangunan bersejarah, benda kuno, atau kesenian. Pengetahuan mengolah makanan, keterampilan meracik bumbu, cara memasak, serta tradisi yang diwariskan antargenerasi juga merupakan bagian dari kekayaan budaya.
Tantangannya adalah bagaimana menjaga agar sate maranggi tetap memiliki akar tradisi, meskipun terus mengalami inovasi dan penyesuaian dengan selera zaman.
9. Menjaga warisan rasa untuk generasi berikutnya
Sate maranggi mengajarkan bahwa kuliner tradisional dapat bertahan ketika masyarakat terus membuat, menjual, menikmati, dan menceritakan sejarahnya.
Pelestarian tidak berarti setiap pedagang harus menggunakan resep yang sama persis. Variasi justru menjadi bagian dari perkembangan kuliner. Yang penting, identitas dan pengetahuan mengenai asal-usul, bahan, teknik pengolahan, serta tradisi lokalnya tetap dirawat.
Dokumentasi sejarah juga perlu terus diperkuat melalui wawancara dengan keluarga pedagang generasi awal, penelusuran arsip, dan penelitian lanjutan. Dengan begitu, kisah Mak Anggi, Mang Udeng, Mak Unah, dan para pelaku kuliner lainnya dapat ditempatkan secara lebih jelas dalam perjalanan sate maranggi.
Pada akhirnya, kekuatan sate maranggi bukan hanya pada rasa daging yang gurih dan aroma bakarannya. Ada keterampilan, pengalaman, dan perjalanan masyarakat yang membuatnya bertahan hingga sekarang.
Intinya, dari kisah Mak Anggi di Cianting, catatan Mang Udeng di Plered pada 1962, hingga perkembangan sate panggang di Wanayasa, sejarah sate maranggi memperlihatkan perjalanan kuliner yang tidak sederhana.
Ada beberapa versi tentang asal-usulnya, dan bukti tertulis yang tersedia belum cukup untuk memastikan satu cerita sebagai satu-satunya kebenaran. Namun, catatan dari penelusuran yang telah dilakukan oleh KPonline (Media Perdjoeangan) menunjukkan bahwa Plered dan Wanayasa sama-sama berperan dalam membentuk tradisi sate maranggi yang dikenal sekarang.
Dari pedagang sederhana hingga menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia, sate maranggi telah tumbuh menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia adalah identitas, peluang ekonomi, daya tarik wisata, dan kebanggaan masyarakat Purwakarta.



