Lima Srikandi SPLP FSPMI Ikuti Sekolah Ideologi Dasar Gelombang III, Perkuat Peran Perempuan dalam Perjuangan Buruh

Lima Srikandi SPLP FSPMI Ikuti Sekolah Ideologi Dasar Gelombang III, Perkuat Peran Perempuan dalam Perjuangan Buruh

Jakarta, KPonline – Lima Srikandi Serikat Pekerja Logam dan Pertambangan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPLP FSPMI) ambil bagian dalam kegiatan Sekolah Ideologi Dasar (SEIDA) Gelombang III yang digelar pada Selasa (20/10/2026) di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) FSPMI, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Kehadiran lima kader perempuan SPLP FSPMI tersebut menjadi bagian dari semangat kaderisasi untuk memperkuat pemahaman ideologi, meningkatkan kapasitas anggota, serta meneguhkan komitmen dalam perjuangan kaum buruh.

Peserta perempuan yang berasal dari anggota SPLP FSPMI Bandung Barat, Bogor dan Tangerang turut memberikan warna tersendiri dalam kegiatan ini. Pendidikan ideologi diharapkan mampu membentuk kader perempuan yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengambil peran strategis dalam kepemimpinan dan perjuangan serikat pekerja.

Di tengah dinamika dan berbagai tantangan dunia ketenagakerjaan, penguatan ideologi menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan perjuangan organisasi. Kader serikat pekerja dituntut memiliki kesadaran kritis, solidaritas yang kuat, serta pemahaman terhadap nilai-nilai perjuangan kolektif.

Bagi perempuan di lingkungan serikat pekerja, kesempatan mengikuti pendidikan seperti SEIDA juga menjadi ruang untuk memperkuat kepercayaan diri, memperluas wawasan, dan meningkatkan kontribusi dalam memperjuangkan hak serta kesejahteraan pekerja.

Melalui SEIDA Gelombang III, diharapkan para peserta mampu membawa pulang pengetahuan dan semangat baru untuk diterapkan di lingkungan kerja maupun organisasi. Dengan kaderisasi yang berkelanjutan, perempuan FSPMI diharapkan semakin berdaya, berani bersuara, dan siap menjadi bagian penting dalam menentukan arah perjuangan kaum buruh.

Lima srikandi SPLP FSPMI ini menjadi gambaran bahwa perjuangan buruh bukan hanya tentang kekuatan dan solidaritas, tetapi juga tentang kesetaraan kesempatan bagi setiap kader untuk belajar, berkembang, dan mengambil bagian dalam membangun organisasi yang semakin kuat.