Sidoarjo, KPonline — Sejarah panjang pergerakan buruh di PT Pakarti Riken Indonesia (Parin) tidak bisa dilepaskan dari sebuah kelompok perlawanan pekerja muda yang dikenal dengan nama komunitas “Nglokro”. Berawal dari militansi pekerja yang didominasi anak-anak muda yang tergabung dalam wadah pecinta alam, komunitas ini menjelma menjadi motor penggerak perlawanan terhadap ketidakadilan kondisi kerja dan upah yang jauh dari kata layak.
Titik balik pergerakan tersebut terjadi pada 28 Agustus 1996. Di bawah kepemimpinan manajemen saat itu, di mana Presdir dijabat oleh Yokoyama dan Direktur oleh Nakajima, momentum upacara perusahaan di depan kantor utama dimanfaatkan oleh komunitas Nglokro untuk melakukan aksi berani.
Begitu upacara selesai, anak-anak Nglokro secara kompak membentuk rantai manusia untuk menahan para peserta upacara agar tidak kembali ke lokasi kerja, sekaligus melakukan perlawanan terhadap pengurus serikat pekerja yang dianggap tidak berpihak kepada buruh.
Aksi yang sempat menciptakan suasana chaos ini digerakkan oleh tuntutan konkret para pekerja, antara lain:
– Kenaikan tunjangan kerja
– Tuntutan agar Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 ditanggung oleh perusahaan
– Realisasi jaminan asuransi yang termaktub dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB)
Aksi tersebut melibatkan barisan perunding dan tokoh penggerak di lapangan, seperti Samsuri, Dwi, Eko Mujarwanto dkk, serta didukung oleh pengurus serikat yang pro-pekerja saat itu, Mas Putut, di bawah kepemimpinan almarhum Sukendar sebagai Ketua Serikat. Selain itu, gelombang perlawanan juga diperkuat oleh kelompok pekerja ex-training Jepang yang menuntut kejelasan status dan hak upah selama mereka magang di Jepang.
Hilangnya kepercayaan anggota terhadap pengurus SPSI saat itu mendorong pembentukan panitia ad-hoc yang diisi oleh perwakilan anggota di luar struktur pengurus resmi, termasuk Heri Novianto (Lelor) yang sekarang menjadi Pengurus Pimpinan Pusat SPLP FSPMI.
Kos-kosan milik Samsuri dan Widodo Karmo pun disulap menjadi basecamp pergerakan.
Dari sinilah konsistensi perlawanan terus berlanjut. Dalam kurun waktu tiga bulan sekali, aksi mogok kerja kerap digelar untuk memperjuangkan hak-hak buruh, mulai dari masalah bonus, Tunjangan Hari Raya (THR) beserta tambahannya, fasilitas rekreasi, hingga standar kesejahteraan harian seperti tambahan susu dan buah di kantin serta penyediaan air mineral yang layak.
Komunitas Nglokro yang didominasi oleh pekerja dari bagian MC dan Pattern tumbuh menjadi kelompok yang sangat disegani di dalam pabrik.
Transformasi Menjadi FSPMI yang Besar.
Seperti yang disampaikan oleh beberapa anggota Nglokro, Siswoyo Buncis, Agung (Londo) Yuwono, Achmad Fatah, Heri (Lelur) Novianto , Endro Wahyono, Komari dan Wahyudi bahwa Nglokro menjadi wadah berkumpulnya berbagai disiplin ilmu mulai Agama islam, Seni, Oleh raga, Teknik Sipil dan Hukum yang akhirnya secara organik bisa saling menguatkan dan Unik.
Ketika para pengurus Serikat di PHK saat perjuangan di dalam perusahaan. Komunitas Nglokro menjadi Garda Terdepan dalam memperjuangkan mereka agar bisa bekerja kembali, mereka mengawal advokasi hingga ke Jakarta, bahkan sampai mendatangi dukun di Gunung Arjuno dan Dukun di Jombang.
Komunitas Nglokro juga selalu bersemangat saat ada aksi demonstrasi, mereka selalu menampilkan aksi teatrikal agar aksi demonstrasi semakin menjadi perhatian publik.
Perjuangan kaum buruh saat itu konsisten dikawal melalui aksi setiap kali momentum bonus atau THR menjelang—mengingat pada masa tersebut, format perjuangan upah secara eksternal belum masif seperti sekarang.
Kini, dari benih militansi Komunitas Nglokro di PT Pakarti Riken Indonesia, FSPMI tumbuh menjadi serikat pekerja yang besar dan disegani. Kader-kader terbaik didikan dari pabrik ini telah banyak melahirkan pimpinan FSPMI di tingkat Kabupaten Sidoarjo, tingkat Provinsi Jawa Timur, hingga nasional.
Sejarah ini menjadi pengingat penting bagi seluruh anggota saat ini, bahwa kenyamanan dan kesejahteraan yang dinikmati hari ini merupakan hasil dari keringat, nyali, dan pengorbanan panjang para pendahulu di lantai produksi. (Khoirul Anam)