Jika Perjuangan Tak Ditulis dan Difoto, Bagaimana Generasi Mendatang Mengenangnya?

Jika Perjuangan Tak Ditulis dan Difoto, Bagaimana Generasi Mendatang Mengenangnya?

Tangerang, KPonline-Dibalik setiap gerakan, ada sejarah yang harus dicatat, perjuangan yang perlu disebarluaskan, serta jejak yang mesti diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pesan itulah yang disampaikan Agung Purwanto, Koordinator Liputan Nasional (Korlipnas) Media Perdjoeangan, dalam sambutannya pada Rapat Kerja Daerah Khusus (Rakerdasus) yang berbalut Inaugurasi Pengurus dan Anggota Media Perdjoeangan dan Jamkeswatch di Tangerang Raya. Minggu, (18/10/2026).

“Kalau tidak didokumentasikan, ditulis, difoto, divideo, apalah arti pergerakan kita?” kata Agung.

Agung mengungkapkan, hampir setiap tingkatan organisasi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), mulai dari Pimpinan Unit Kerja (PUK), Pimpinan Cabang (PC), Konsulat Cabang (KC), hingga Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), memiliki agenda dan kegiatan perjuangan. Namun, tanpa dokumentasi serta publikasi yang terorganisasi, berbagai aktivitas tersebut berpotensi tidak diketahui oleh anggota maupun masyarakat luas.

Agung mencontohkan, apabila di suatu daerah terdapat puluhan PUK, hampir setiap unit tentu memiliki kegiatan dalam satu bulan. Begitu pula dengan pimpinan cabang dan konsulat cabang yang menjalankan berbagai agenda organisasi.

“Kalau bukan Media Perdjoeangan yang melakukan hal itu, siapa lagi?” tegasnya.

Kemudian, Agung menjelaskan bahwa Media Perdjoeangan terus mengevaluasi kerja organisasi dan melakukan pembenahan untuk memperkuat peran media di setiap tingkatan.

Salah satu langkah yang disiapkan menurut Agung Purwanto adalah membentuk kontributor di tingkat PUK. Kehadiran kontributor ini diharapkan menjadi ujung tombak dalam menghimpun informasi, mendokumentasikan kegiatan, menulis berita, serta memublikasikan berbagai aktivitas perjuangan buruh.

Agung menegaskan bahwa publikasi tidak boleh hanya terpusat di tingkat daerah atau nasional. Setiap PUK perlu memiliki kemampuan untuk menceritakan kegiatannya sendiri sehingga informasi mengenai perjuangan buruh dapat menjangkau lebih banyak orang.

“Harapannya nanti teman-teman kontributor itu bisa membentuk Media Perdjoeangan di tingkat PUK,” ujarnya.

Untuk mendukung langkah tersebut, Media Perdjoeangan berencana memberikan pembekalan kepada para kontributor agar mereka memiliki pemahaman dan keterampilan dalam menjalankan tugas jurnalistik organisasi.

Agung Purwanto juga menyampaikan bahwa telah disiapkan sembilan nama untuk penguatan kepengurusan Media Perdjoeangan Tangerang Raya serta 27 nama kontributor PUK. Ia menegaskan bahwa daftar tersebut belum sepenuhnya final karena proses pembentukan jaringan kontributor masih terus berjalan.

Baginya, pembentukan kontributor bukan sekadar menambah personel, melainkan membangun sistem dokumentasi yang lebih terstruktur agar tidak ada kegiatan penting organisasi yang terlewat dari catatan sejarah.

Lebih jauh, Agung mengingatkan bahwa dokumentasi memiliki arti penting bagi keberlanjutan organisasi. Sejarah perjuangan buruh di Tangerang Raya, termasuk perjalanan berbagai serikat pekerja dan dinamika organisasi dari masa ke masa, perlu ditulis secara sistematis.

Ia mencontohkan berbagai gerakan perjuangan buruh FSPMI yang telah lama berkembang di Tangerang Raya. Perjalanan tersebut harus dihimpun agar generasi mendatang dapat mengetahui apa yang telah dilakukan para pendahulunya.

“Jangan sampai, ketika generasi berikutnya ingin mencari tahu perjuangan FSPMI pada 2010, informasi yang dibutuhkan justru sulit ditemukan karena tidak pernah didokumentasikan dengan baik,” ungkap Agung.

Tugas Media Perdjoeangan, menurut Agung, adalah menyimpulkan, menarasikan, dan mendokumentasikan berbagai peristiwa tersebut agar menjadi rekam jejak organisasi yang dapat dipelajari pada masa mendatang.

Agung juga mengingatkan bahwa pekerjaan Media Perdjoeangan tidak berhenti pada dokumentasi. Setelah suatu peristiwa direkam dan dicatat, informasi tersebut perlu diolah dan disebarluaskan agar masyarakat mengetahui apa yang diperjuangkan kaum buruh.

Ia menilai, publikasi yang dilakukan secara konsisten dapat memperlihatkan aktivitas organisasi, memperkenalkan persoalan yang dihadapi pekerja, serta menggambarkan kekompakan anggota ketika menghadapi persoalan ketenagakerjaan.

Dalam konteks organisasi, propaganda yang dimaksud merupakan penyebarluasan informasi dan pesan perjuangan untuk memperkuat pemahaman anggota serta memperkenalkan agenda organisasi kepada khalayak. Pelaksanaannya tetap perlu berpijak pada fakta, ketepatan informasi, dan tanggung jawab dalam menyampaikan berita.

Sebab, dokumentasi yang hanya tersimpan di dalam arsip belum tentu diketahui oleh banyak orang. Sebaliknya, publikasi yang tidak didukung dokumentasi dan verifikasi berisiko kehilangan konteks serta akurasi.

Karena itu, keduanya harus berjalan beriringan. Peristiwa dicatat dengan baik, informasi diperiksa, kemudian disampaikan secara luas melalui saluran media yang tersedia.

Setelah memberikan sambutan, Agung kemudian mengukuhkan atau melantik pengurus Media Perdjoeangan Tangerang Raya. Dan RD Rizal N didaulat sebagai ketua atau Kepala Biro Media Perdjoeangan Tangerang Raya.