Haul Kematian Sebagai Wujud Bakti Anak Kepada Orang Tua

Bekasi, KPonline – Haul merupakan tradisi peringatan kematian seseorang yang diadakan setahun sekali dengan tujuan mendoakan ahli kubur agar semua amal ibadah yang dilakukannya diterima Allah sekaligus mengenang keteladanan semasa hidup dari tokoh atau orang tua yang diperingati tersebut.

Tradisi haul biasanya hanya ditemui di kalangan masyarakat muslim seperti di negeri Yaman,  Indonesia, Malaysia, Singapura, dan negara-negara lain.

Peringatan haul sangat dipengaruhi oleh ajaran tasawuf yang menempatkan guru atau orang tua sebagai panutan atas dedikasi pengajaran ilmu terhadap masyarakat umum dan murid-muridnya, sehingga kewafatan mereka layak diperingati oleh keluarga dan murid-muridnya untuk mengenang keteladanan dan keutamaan tertentu yang tak dimiliki sembarang orang pada masa hidupnya.

Pun demikian dengan Sulaeman salah satu mantan ketua PUK SPL FSPMI PT.Marsol Abadi Indonesia 2 periode ini bersama 6 saudaranya melakukan haul kematian untuk kedua orang tuanya pada Sabtu, 7/5/2022 di rumah Mastur kakak tertua yang beralamat di Pekayon Bekasi.

Dari pantauan koran perdjoeangan (7/5/2022) hadir dalam acara haul ratusan warga, sanak saudara, kerabat teman dekat untuk bersama-sama turut mendo’akan almarhum almarhumah. Sulaeman mewakili keluarga besar mengucapkan banyak terimakasih atas kehadiran para jamaah sekalian

“Terimakasih atas kehadiran bapak-bapak sekalian dalam acara haul ibu kami yang ke 10 tahun, dan bapak kami yang ke 6 tahun, semoga kehadiran bapak-bapak sekalian menjadi keberkahan dan wujud silahturahmi diantara kita,” kata Sulaeman.

Acara diisi dengan pembacaan surah Yasin, tahlil, tahmid dan barjanji memuji Nabi Muhammad SAW. Sementara KH. Ubaidillah Asshofari dalam tausiyahnya mengatakan bahwa haul merupakan bagian dari rasa bakti anak kepada kedua orang tuanya, karena atas asuhan dan didikannya kita bisa seperti sekarang ini.

“Do’akan orang tua kita insyaallah keberkahan dan rezeki kita akan dilimpahkan oleh Allah SWT,” ungkapnya.

Acara diakhiri dengan silahturahmi dan saling memaafkan diantara jama’ah yang hadir dan makan nasi kebuli bersama-sama. (Yanto)