Coretax: Ketika Negara Menguji Kesabaran Warganya

Coretax: Ketika Negara Menguji Kesabaran Warganya

Siapa pun yang pernah mencoba lapor pajak pribadi di Coretax pasti pernah berada di fase hidup:
bengong, keringat dingin, lalu bertanya pada diri sendiri—“Aku salah apa sampai harus mengalami ini?”

Coretax itu seperti escape room versi negara.
Bedanya, kalau escape room hadiahnya foto Instagram, Coretax hadiahnya bukti lapor pajak—kalau berhasil. Kalau gagal? Ya coba lagi besok. Atau lusa. Atau setelah server “kembali normal” (yang entah kapan).

Bacaan Lainnya

Masuk ke sistem Coretax rasanya seperti daftar beasiswa luar negeri:

Login gagal.

OTP tak kunjung datang.

Data tahun lalu “tidak ditemukan”, padahal jelas-jelas kamu yang isi sambil nangis tahun lalu.

Tombol “simpan” berfungsi sebagai tombol uji iman.

Ironisnya, ini pajak pribadi. Tapi rasanya kayak ngerjain skripsi kelompok dengan anggota yang ghosting semua.

Di Luar Negeri: Pajak sebagai Layanan, Bukan Ujian Mental

Mari kita bandingkan dengan beberapa negara yang (katanya) sudah move on dari penderitaan administratif.

1. Estonia
Warga Estonia lapor pajak cuma butuh 3–5 menit.
Datanya sudah terisi otomatis.
Mereka tinggal:

Login

Cek

Klik OK

Selesai

Bayangkan Coretax melakukan ini. Mustahil. Itu terlalu manusiawi.

2. Inggris (HMRC)
Kalau penghasilanmu standar, kamu bahkan tidak perlu lapor apa-apa.
Negara sudah menghitungkan. Kalau kurang bayar, diberi tahu. Kalau lebih bayar, dibalikin.

Di Indonesia?
Lebih bayar? “Silakan ajukan restitusi dengan melampirkan 17 dokumen, doa orang tua, dan bukti kamu tidak pernah bolos upacara.”

3. Australia
Ada aplikasi pajak di HP.
Yes, di HP.
Bukan di browser yang cuma kompatibel dengan jam 2 pagi dan jaringan WiFi tetangga.

Coretax dan Filosofi “Kalau Bisa Ribet, Kenapa Dipermudah?”

Coretax seolah dibangun dengan prinsip:

“Warga harus merasakan perjuangan agar cinta pada negara.”

Karena kalau lapor pajak terlalu mudah:

Kamu tidak akan mengenang prosesnya

Kamu tidak akan trauma

Kamu tidak akan bonding dengan sesama wajib pajak di Twitter

Padahal di luar negeri, pajak itu diperlakukan sebagai layanan publik.
Di sini, pajak masih terasa seperti ritual tahunan penuh pengorbanan.

Kami Taat Pajak, Tapi Tolong Jangan Disiksa

Wajib pajak Indonesia sebenarnya bukan malas.
Kami cuma:

Capek

Bingung

Takut salah

Trauma klik tombol “lanjutkan”

Kami siap bayar.
Kami patuh.
Kami cinta negara.

Tapi mohon, jangan jadikan Coretax sebagai tes ketahanan mental nasional.

Karena kalau tujuan pajak adalah membangun negeri,
seharusnya prosesnya tidak membuat warganya ingin pindah kewarganegaraan setidaknya secara emosional.

 

Pos terkait