Buruh Siap Memasuki Gelanggang Politik 2019

politik

Jakarta, KPonline – “Politik itu bukan urusan main-main. Maka tak boleh dibiarkan hanya jadi urusan para politikus.”

Kalimat di atas pernah disampaikan oleh De Gaulle. Seorang Jenderal di Prancis yang kemudian berhasil menjadi Presiden.

Bacaan Lainnya

Karena politik bukan hanya urusan politikus, maka, tidak ada larangan bagi kaum buruh untuk berpolitik. Jika politik adalah sebuah cara untuk memenangkan kepentingan, tentu saja, bagi kaum buruh, kepentingannya adalah untuk kemaslahatan kaum buruh itu sendiri.

Oleh karena itu, sangat tepat jika kemudian KSPI secara resmi mendorong dan mendukung kader-kadernya untuk berpartisipasi aktif dalam Pemilu 2019. Hal ini, juga ditegaskan dalam Konsolidasi Nasional FSPMI dan KSPI di Cisarua, Bogor, pada tanggal 19 – 21 Desember 2017.

KSPI, dengan tegas menyatakan akan berjuang untuk mendudukkan wakil-wakilnya dalam legislatif dan eksekutif. Kader-kader terbaik dari organisasi serikat pekerja ini akan ikut berjuang dalam pemilihan umum. Baik dalam Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

Dalam Pilkada, KSPI mendukung Fuad BM yang merupakan Ketua Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta maju dalam Pemilihan Kepala Daerah Purwakarta yang akan digelar serentak pada tahun 2018. KSPI juga menempatkan wakil-wakilnya dalam pemilihan legislatif, baik di tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi, hingga Nasional. Termasuk dengan menempakat wakilnya di Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Melalui partai mana kader-kader buruh ini akan maju? Hingga saat ini, memang belum ditentukan. Tetapi satu hal yang pasti, para kader serikat buruh ini tidak akan maju hanya dalam satu partai. Sebab, KSPI bukanlah underbow salah satu partai.

Reinhold Niebuhr pernah mengatakan. “Tugas sedih politik adalah menegakkan keadilan di dunia yang berdosa.” Terkait hal ini, Goenawan Mohamad menegaskan bahwa politik adalah sebuah “tugas”. Politik bukan hanya usaha untuk menghimpun dan menggunakan kekuasaan. Tugas politik adalah bergulat untuk mewujudkan keadilan, atau kesetaraan, yang berlangsung terus menerus.

Oleh karena itu, ketika kemudian serikat buruh berupaya untuk mendudukkan orang-orangnya dalam panggung politik, hal itu harus dimaknai sebagai bagian dari ikhtiar-nya untuk membela, melindungi, dan memperjuangkan hak serta kepentingan anggota dan keluarganya.

Akan selalu ada yang sinis, bahwa politik itu kejam. Jahat dan hitam. Tidak layak dimasuki orang-orang baik. Sebab siapa saja yang masuk kedalamnya akan terkontaminasi.

Untuk alasan yang sama, kita juga akan bertanya. Jika memang demikian, mengapa tidak kita mendorong agar semakin banyak orang baik bersedia terlibat dalam politik? Agar ruang-ruang pengambilan tidak didominasi para bandit.

Pos terkait