Ndilalah, di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, kita semua pada dasarnya adalah buruh. Ya, buruh semua. Entah buruh kantoran yang duduk manis di depan laptop sambil ngopi Starbucks, atau buruh pabrik yang berdiri delapan jam ngawasin mesin yang bunyinya kayak konser dangdut versi industrial.
Anehnya, tiap ngobrol sama teman, selalu saja ada perbandingan.
“Ah, enak lo jadi buruh kantoran, AC dingin, duduk mulu.”
Atau sebaliknya, “Wah, lo buruh pabrik gaji gede, lembur dibayar, nggak mikir KPI.”
Lah, jadi siapa sebenarnya yang lebih enak hidupnya? Mari kita bongkar satu-satu, biar kita sama-sama sadar: hidup ini penuh penderitaan, cuma beda bentuknya saja. Kayak es teh manis sama es jeruk—sama-sama dingin, tapi yang satu bikin diabetes, yang lain bikin asam lambung naik.
Gue pernah jadi buruh kantoran. Bangun pagi, macet di jalan tol yang katanya bebas hambatan, tapi hambatannya justru bikin hati hambar. Sampai kantor jam delapan, disambut meeting pagi yang isinya bos ngomong doang, sementara kita manggut-manggut kayak ayam kehabisan pakan.
Kerjaannya? Excel, PowerPoint, dan Zoom call dengan kamera mati biar bisa ngopi sambil scroll TikTok.
Enaknya, jelas ada: AC dingin, kursi empuk, bisa pura-pura sibuk sambil main game di laptop kantor. Tapi sengsaranya juga nyata. Burnout itu bukan mitos. Otak dipaksa mikir strategi bisnis yang ujung-ujungnya cuma buat bonus bos. Deadline datang kayak tamu tak diundang, revisi laporan nggak ada habisnya.
Belum lagi drama kantor: si A iri sama si B naik jabatan, si C hobi gosip, dan si bos nganggep kita robot yang nggak butuh istirahat.
Yang paling parah, buruh kantoran sering pura-pura bahagia. Pulang jam enam, tapi otak masih di kantor sampai jam sepuluh malam. Grup WhatsApp kerja bunyi jam sembilan malam: “Plis feedback ya besok pagi.” Lah, besok pagi gue mau sarapan dulu, dong.
Akhirnya, weekend yang katanya buat istirahat malah habis buat ngejar kerjaan. Sengsara level mental. Kayak pacaran sama orang toxic: kelihatannya mewah, tapi batin hancur lebur.
Sekarang giliran buruh pabrik. Gue punya teman buruh pabrik di kawasan industri Bekasi–Cikarang. Ceritanya beda jauh. Bangun subuh, naik angkot atau motor ke pabrik, masuk shift pagi jam tujuh.
Kerjaannya berdiri, angkat barang, ngawasin mesin, packing produk entah buat siapa. Suara mesin gede, debu beterbangan, panasnya kayak oven raksasa.
Enaknya, gaji relatif jelas. Lembur dibayar, bahkan bisa dobel. Bonus produksi ada kalau target tercapai. Pulang kerja ya benar-benar pulang—nggak ada chat WA malam-malam. Libur nasional beneran libur (kecuali peak season). Teman-temannya solid, makan bareng di kantin, gosipnya lugas: “Supervisor galak banget hari ini.” Nggak ada politik kantor yang ribet.
Tapi sengsaranya juga brutal. Fisik ambruk. Kaki pegal, punggung sakit, tangan kapalan. Risiko kecelakaan kerja selalu mengintai: jari kejepit mesin, terpeleset oli, atau hirup bahan kimia sampai batuk-batuk. Shift malam bikin jam biologis jungkir balik—hidup kayak vampir versi buruh.
Yang paling ngenes, kalau buruh pabrik demo minta upah, sering dicap anarkis oleh buruh kantoran yang nonton dari rumah ber-AC.
Teman gue pernah bilang,
“Gue lembur sampai jam 12 malam. Gaji sih masuk, tapi badan kayak dipakai terus sampai aus.”
Ibarat mobil rental yang digeber terus tanpa servis.
Kalau dibandingkan, buruh kantoran sengsara secara mental: stres, anxiety, takut karier mandek, takut kena PHK saat perusahaan “efisiensi”.
Buruh pabrik sengsara secara fisik: badan remuk, risiko kecelakaan, jam kerja yang bikin keluarga jarang ketemu.
Lucunya, buruh kantoran sering merasa lebih superior.
“Ah, gue nggak mau jadi buruh pabrik, kasar banget.”
Padahal, sama-sama buruh, cuma beda seragam. Yang satu pakai kemeja rapi, yang lain pakai rompi safety. Yang satu duduk di kursi ergonomis, yang lain berdiri di depan conveyor belt. Ujungnya sama: nunggu gajian buat bayar cicilan, kontrakan, dan makan.
Iri-irian juga nggak ada habisnya. Buruh kantoran iri karena lemburnya gratis. Buruh pabrik iri karena nggak bisa WFH meski hujan badai.
Intinya, kita semua korban sistem kapitalis yang sama. Bos-bos di atas sana naik jet pribadi, kita di bawah rebutan remah bonus. Buruh kantoran merasa “intelektual”, buruh pabrik merasa “pekerja keras”. Padahal kata Marx, kita semua proletariat—cuma beda divisi.
Jadi siapa yang lebih sengsara?
Jawabannya: sama-sama sengsara, cuma beda rasa. Kayak mie instan—yang satu pedas, yang satu asin. Tetap saja dimakan, karena nggak ada pilihan lain.
Saran gue simpel:
Buruh kantoran, sesekali capek fisik biar badan nggak rapuh.
Buruh pabrik, sesekali capek mikir biar otak nggak karatan.
Atau lebih bagus lagi, kita demo bareng minta upah layak, jam kerja manusiawi, dan bos yang punya empati.
Tapi ya sudahlah. Buruh kantoran takut kotor, buruh pabrik takut meeting kepanjangan.
Akhirnya balik kerja lagi.
Hidup memang komedi tragis.
Salam dari sesama buruh yang lagi nunggu gajian.
