Jakarta, KPonline — Pimpinan Unit Kerja (PUK) SPAI FSPMI PT Borwita Citra Prima menggelar aksi unjuk rasa yang dipimpin Ketua PUK beserta jajaran pengurus, dengan dukungan Pimpinan Cabang (PC) SPAI FSPMI DKI Jakarta. Aksi ini menjadi bentuk perlawanan terhadap persoalan ketenagakerjaan yang dinilai merugikan pekerja sekaligus desakan agar perusahaan memenuhi hak-hak buruh dan menghentikan praktik hubungan kerja yang dinilai tidak adil.
Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan empat tuntutan utama yang menjadi persoalan mendasar bagi keberlangsungan pekerjaan, pemenuhan hak normatif, dan kepastian masa depan buruh.
Pertama, menolak PHK sepihak terhadap delapan pekerja. PUK SPAI FSPMI menuntut agar persoalan pemutusan hubungan kerja tersebut diselesaikan secara adil, transparan, dan sesuai ketentuan perundang-undangan. Nasib delapan pekerja tidak boleh diperlakukan sebagai persoalan administratif belaka, melainkan menyangkut hak, penghidupan, dan kepastian kerja.
Kedua, hapus outsourcing dan angkat pekerja menjadi karyawan tetap organik. Massa mendesak penghapusan praktik outsourcing oleh PT Sinar Jernih SuksesIndo di lingkungan kerja PT Borwita Citra Prima di seluruh Indonesia. Para pekerja yang menjalankan fungsi sopir, pergudangan, kurir, dan sales dinilai memiliki peran penting dalam operasional bisnis. Karena itu, serikat pekerja menuntut evaluasi menyeluruh atas status hubungan kerja mereka serta pengangkatan menjadi pekerja tetap sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Bagi buruh, outsourcing bukan sekadar persoalan status kontrak. Persoalan ini menyangkut kepastian kerja, perlindungan hak, dan posisi tawar pekerja. Buruh menolak menjadi tenaga kerja yang terus dituntut produktif, tetapi dibiarkan tanpa kepastian masa depan. Serikat pekerja menilai praktik alih daya yang tidak memberikan perlindungan memadai berpotensi melanggengkan ketimpangan antara kepentingan bisnis dan kesejahteraan pekerja.
Ketiga, menuntut pembayaran kekurangan upah. PUK SPAI FSPMI mendesak agar setiap kekurangan pembayaran upah yang menjadi hak pekerja segera dihitung, diverifikasi, dan dibayarkan secara penuh. Upah bukan kemurahan hati perusahaan, melainkan hak pekerja yang wajib dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
Keempat, menuntut penyediaan alat kerja akibat peralihan aplikasi teknologi pengiriman. Perubahan sistem dan teknologi tidak boleh dijadikan alasan untuk membebankan seluruh risiko operasional kepada pekerja. Jika perusahaan melakukan transformasi sistem kerja, perusahaan juga harus memastikan tersedianya sarana kerja yang memadai, pelatihan yang diperlukan, dan mekanisme evaluasi yang adil. Perubahan aplikasi tidak semestinya serta-merta berujung pada PHK sepihak maupun pemberian surat peringatan tanpa dasar dan prosedur yang jelas.
Aksi ini menegaskan bahwa transformasi teknologi harus berjalan beriringan dengan perlindungan tenaga kerja, bukan menjadi pintu masuk bagi penghilangan pekerjaan dan pelemahan hak-hak buruh.
PUK SPAI FSPMI PT Borwita Citra Prima bersama PC SPAI FSPMI DKI Jakarta menegaskan pentingnya solidaritas, konsolidasi organisasi, dan perjuangan kolektif untuk memastikan tuntutan pekerja mendapat penyelesaian yang nyata. Perusahaan didesak membuka ruang dialog yang serius, menyampaikan kejelasan atas persoalan yang diprotes, serta mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan perselisihan sesuai hukum yang berlaku.
Bagi gerakan buruh, persoalan ini bukan hanya menyangkut delapan pekerja atau satu lingkungan kerja. Ini adalah ujian terhadap komitmen hubungan industrial yang adil: apakah pekerja dipandang sebagai manusia dengan hak dan martabat, atau semata-mata sebagai biaya operasional yang dapat dipangkas sewaktu-waktu.
Pesan perjuangan PUK SPAI FSPMI tegas: hak buruh tidak boleh dikorbankan atas nama efisiensi, perubahan teknologi, maupun kepentingan bisnis.
“Kami kelas pekerja tak kehilangan apa-apa selain belenggu penindasan!”
Buruh menyerukan agar seluruh anggota merapatkan barisan, memperkuat solidaritas, dan mempersiapkan aksi massa yang terpimpin, terorganisasi, serta konsisten memperjuangkan kesejahteraan bersama.