5 Jurnalis Perempuan Siap Perkuat Suara Buruh

5 Jurnalis Perempuan Siap Perkuat Suara Buruh

Bekasi, KPOnline – Pelatihan dasar jurnalistik yang diselenggarakan oleh Media Perdjoeangan Bekasi di sekretariat FSPMI Bekasi pada Minggu (18/10/2026) mulai pukul 8:00 WIB pagi sampe jam 17:00 WIB, menariknya dari  52 peserta yang ikut pelatihan tersebut, ada 5 peserta perempuan yang turut hadir menjadi peserta, mereka bertekad untuk belajar menjadi perempuan Cerdas, Kreatif & Berintegritas sesuai slogan Media Perdjoeangan Bekasi dan siap perkuat suara buruh khususnya serikat pekerja FSPMI.

Sebelum dimulai penyampaian materi, acara dibuka dengan acara pembukaan yang dipandu oleh Sudibyo selaku sekretaris Media Perdjoeangan Bekasi, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars FSPMI yang dipandu oleh Fitriana, kemudian dilanjut sambutan dari Kepala Biro (Kabiro) Media Perdjoengan Bekasi Wiwik Aswanti, SH,.MH.

Pelatihan Dasar Jurnalistik Media Perjdoeangan Bekasi diisi dengan 4 materi yang yaitu Penulisan disampaikan oleh Yanto, Photography oleh Rosa Hermawan (ocha), Cyber dan Propaganda oleh M. Indrayana, SH. dan Peran Media, Hukum dan Etika Jurnalistik yang disampaikan oleh Wiwik Aswanti, SH,.MH.

Sebelumnya jurnalistik identik dengan kaum laki-laki, namun seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman, perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki untuk belajar, menambah pengetahuan juga wawasan.

Dalam pelatihan tersebut peserta perempuan  belajar untuk berani, berani bertanya, berani bersuara dan berani menulis. Cerita yang diungkapkan perempuan bukan lagi berupa curhatan namun menyampaikan sebuah fakta sejalan dengan yang disampaikan oleh Wiwik pada saat penyampaian materi.

Dalam sesi akhir penyampaian materi wiwik menyampaikan sebuah slogan yaitu ” Tidak ada ahli yang tiba-tiba menjadi ahli semua melalui proses panjang. Bisa karena terbiasa dan mau belajar, jangan lelah untuk terus belajar, karena belajar tidak mengenal waktu, usia dan tempat”

Mengapa Perempuan Harus Belajar Jurnalistik?

Penulis merasa selama ini isu pekerja perempuan seperti cuti hamil, cuti haid, kdrt/pelecehan ditempat kerja, beban ganda pekerja perempuan, laktasi ketika isu tersebut ditulis oleh laki-laki, dirasa kurang mengena, namun menurut penulis ketika isu tersebut ditulis oleh perempuan tulisannya akan lebih mengena dan lebih banyak empati karena perempuan merasasakan.

Ketika perempuan sudah terjun dan menguasai jurnalistik, dia tidak hanya mendapatkan pengetahuan, skill, juga mendapatkan alat/media untuk melindungi, memperjuangkan dan tak menutup kemungkinan untuk menjadi pemimpin.

Penulis berharap agar 5 orang peserta perempuan yang ikut pelatihan dasar jurnalistik  ini bisa istiqomah, minimal bisa mempublish kegiatan/aktivitas di PUK nya sendiri, hal tersebut untuk menunjukkan eksistensi kita perempuan yang siap jadi kontributor Media Perdjoeangan Bekasi.

Maju dan Terus Semangat Jurnalis Perempuan.