Oleh Agus Hermawan
Dalam rapat atau obrolan organisasi, kata “seimbang” paling sering kita dengar. Kata ini memang terdengar enak di telinga dan terkesan adil. Rasanya hampir tidak ada orang yang berani membantah ajakan untuk bersikap seimbang. Namun di balik kata yang terdengar bijak itu, keseimbangan sering kali cuma dijadikan alasan paling aman untuk menghindari satu hal penting, yaitu keberanian memilih mana yang harus didahulukan.
Ketika semua urusan dianggap sama pentingnya, ujung-ujungnya tidak ada satu pun yang benar-benar diurus dengan sungguh-sungguh. Keseimbangan sejati sebenarnya bukan soal membagi porsi sama rata seperti membagi jatah jajan. Keseimbangan sejati adalah paham betul mana bagian yang menopang hidup kita dan mana yang sekadar jadi pajangan.
Coba kita perhatikan sebatang pohon. Orang yang lewat di depannya pasti gampang kagum melihat bunga yang mekar indah, daun yang rimbun, atau buah yang menggantung manis di pucuk ranting. Orang sering mengira keindahan di atas ranting itulah tanda utama pohon itu hebat dan kuat.
Padahal, pohon itu bisa terus hidup bukan karena bunganya sibuk memikat mata di pucuk ranting. Pohon itu sanggup berdiri tegak karena akarnya bekerja luar biasa keras menembus tanah yang gelap, kotor, dan senyap. Akar tidak pernah dapat tepuk tangan dan tidak pernah masuk ke dalam bingkai foto. Tugas akar sederhana tetapi menentukan hidup mati pohon, yaitu mencengkeram tanah sedalam-dalamnya dan menyerap air agar seluruh bagian pohon tetap bernapas.
Hukum alam sangat jujur dan tidak bisa dibohongi oleh riasan luar. Kalau akarnya rapuh, mau seindah apa pun bunganya mekar, pohon itu bakal tumbang saat angin kencang datang menerpa.
Pelajaran dari pohon ini sangat nyata kalau kita melihat keadaan organisasi dan serikat pekerja hari ini. Banyak dari kita yang tanpa sadar lebih sibuk mengurus pajangan luar. Uang kas, waktu, dan tenaga sering habis hanya untuk acara seremonial, pasang spanduk megah dengan foto pengurus yang rapi, bikin panggung perayaan, atau sibuk berburu tanda suka di media sosial. Semua itu dipamerkan seolah-olah organisasi kita sudah berhasil dan maju.
Sementara itu, kerja nyata di tingkat bawah justru sering terlupakan. Mengedukasi anggota baru, mendampingi kawan-kawan yang tertimpa masalah di tempat kerja, serta merapatkan barisan di tingkat akar rumput malah dibiarkan jalan tertatih-tatih tanpa biaya dan perhatian yang cukup.
Ketika anggota di bawah menuntut perhatian lebih, jawaban yang sering keluar dari meja pengurus adalah kita harus seimbang. Katanya, kerja lapangan memang penting, tetapi acara panggung dan pencitraan ke luar juga harus jalan terus.
Disinilah letak salah kaprahnya. Kata seimbang dipakai hanya untuk bagi-bagi anggaran secara rata biar tidak ada pengurus yang tersinggung, bukan berdasarkan kebutuhan yang mendesak. Menentukan prioritas memang butuh keberanian untuk berkata tidak pada hal-hal yang tidak penting. Namun karena takut menyinggung mereka yang suka tampil di depan panggung, jalan kompromi bernama seimbang akhirnya dipilih.
Ini bukan perkara remeh seperti membagi giliran makan atau minum secara adil. Ini soal fondasi mana yang menopang seluruh napas gerakan kita.
Tampilan luar, liputan berita, atau hubungan dengan pihak luar tentu ada manfaatnya. Namun semua itu hanyalah bunga di pucuk ranting. Kekuatan tawar kita di meja perundingan tidak pernah ditentukan oleh seberapa sering nama pimpinan masuk berita atau foto pengurus terpampang di internet.
Kekuatan kita ditentukan oleh seberapa kompak dan patuhnya barisan kawan-kawan di depan gerbang pabrik ketika ada instruksi bersama. Kalau barisan anggota di bawah sudah rapuh, diplomasi manis pengurus di atas hanyalah gertakan kosong yang mudah dipatahkan lawan.
Sekarang ini angin kencang itu sudah nyata berhembus di depan mata kita. Aturan kerja yang makin menyulitkan, ancaman kehilangan pekerjaan, hingga beban hidup buruh yang makin berat adalah badai yang siap merobohkan barisan kita kapan saja.
Saat badai sebesar itu datang, badai tidak akan peduli pada indahnya kelopak bunga di pucuk ranting. Satu-satunya hal yang diuji oleh badai hanyalah seberapa dalam akar mencengkeram tanah.
Sudah saatnya kita berhenti memakai kata seimbang sebagai alasan untuk lari dari kenyataan. Jangan lagi buang-buang tenaga hanya untuk mempercantik dahan yang rapuh demi pujian sesaat.
Mari kembali mengurus akar rumput. Berikan perhatian terbesar, waktu, dan biaya untuk memperkuat barisan anggota di bawah. Hanya dengan akar yang menancap kokoh ke dalam tanah, organisasi ini akan tetap berdiri tegak, tidak peduli seberapa dahsyat badai datang menerjang.