Aktivis Sekarang Nyebelin

  • Whatsapp

Jakarta, KPonline – Kisah ini saya dengar dari seorang kawan dari Nusa Tenggara Timur.  Ketika itu, kami sama-sama menghadiri satu Lokakarya di Jakarta yang dihadiri beberapa penggiat NGO dari berbagai daerah. Dia bercerita, jika dia membenci hampir semua aktivis gerakan sosial yang ada di kotanya. Mereka, kata teman saya ini, nyebelin.

“Bayangkan, mereka selalu merasa yang paling benar dan hebat sendiri. Nggak mau mendengar pendapat orang lain, sok jagoan,” katanya.

“Sudah songong begitu, nggak asyik banget. Hampir setiap saat yang diomongin pergerakan. Seolah dunia ini nggak ada yang lain. Sebelum rapat ngomongin gerakan, sesudah pun rapat yang diomogin gerakan. Padahal rapatnya sendiri ngebahas soal program gerakan. Bahkan saat ngopi dan makan yang dibahas masih soal gerakan,” lanjutnya.

“Coba sesekali aktivis ngomongin sasta atau puisi biar hidupnya nggak basi…,” dia masih nyerocos. “Atau tanyain kabar keluarganya gimana. Nggak sedikit aktivis yang di rumahnya nggak ada beras sementara gerakan harus jalan terus.”

“Hey, bung. Tidak semua  kayak gitu,” sela seseorang.

“Ya, tentu saja nggak semua. Yang kayak gitu adalah pengecualian,” dia mempertahankan argumentasinya.

Saya tersenyum, persis ketika kawan yang duduk di samping saya menyenggol bahu saya sambil berkata lirih. “Orang ini sama nyebelinnya dengan para aktivis yang sedang diomongin. Klaim dulu kebenaran yang diyakininya, baru ketika ada yang membantah dengan enaknya bilang yang beda itu sebagai pengecualian.”

Saya menganggukkan kepala. Sementara di depan, dia terus berbicara.

Hal lain yang nyebelin dari aktivis sekarang adalah menganggap orang-orang yang tidak mau bergabung dalam gerakan adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu diri. Mereka hidup dengan menitipkan nasib pada orang lain.

“Padahal kalau para aktivis itu tahu, orang-orang tidak mau gabung ya karena ada aktivis model gini,” ujarnya.

“Harusnya mengajak orang untuk bergabung dalam gerakan adalah dengan menumbuhkan kesadaran. Bukan dengan memaki-maki kayak gitu. Gimana organisasi akan membesar kalau kebanyakan memukul ketimbang merangkul.”

“Saya pernah hadir dalam konsolidasi dengan basis. Kebetulan, dalam acara tersebut banyak pengurus di basis yang tidak hadir. Itu aktivis yang bicara di depan malah marah-marah ke orang-orang yang hadir, mempermasalahkan minimnya tingkat kehadiran. Harusnya kan yang sudah capek-capek hadir dihargai karena sudah memperlihatkan konsistensinya, bukannya justru dipaksa mendengarkan kata-kata yang nggak penting. Mungkin maksudnya baik untuk mengingatkan pentingnya kehadiran dalam sebuah forum konsolidasi. Tetapi caranya tidak tepat. Ngomelnya seharusnya ke yang tidak hadir,” katanya.

“Sudah begitu lagaknya kayak bos. Main perintah aja. Gimana mau bilang kesetaraan dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan, kalau orang lain dianggap bawahan. Itulah sejak beberapa tahun ini aku nggak mau lagi gabung ke organisasi. Kelakuannya mereka udah kayak borjuis,” tutupnya.

Kalimat teman saya tadi, buat saya adalah otokritik bagi mereka yang terlibat dalam gerakan sosial. Termasuk para pemimpin serikat pekerja.