Di dunia sepak bola modern, ada satu fakta yang jarang diperdebatkan karena sudah terlampau biasa: gaji pemain hampir selalu lebih tinggi daripada pelatihnya. Bahkan di klub-klub besar, pemain bintang bisa digaji dua sampai tiga kali lipat dari orang yang tiap hari merancang strategi, menyusun formasi, dan jadi sasaran makian netizen kalau timnya kalah.
Cristiano Ronaldo, misalnya, saat bergabung dengan Al Nassr dilaporkan menerima bayaran yang jika dikonversi mencapai ratusan juta dolar per tahun, angka yang bukan hanya melampaui gaji rekan setimnya, tetapi juga jauh meninggalkan pelatih yang menanganinya. Saat Ronaldo dilatih oleh Stefano Pioli, perbandingan itu menjadi kontras yang mencolok: satu orang dibayar dengan nominal yang bisa menghidupi satu kota kecil, sementara yang lain meski tetap bergaji besar tetap berada di bayang-bayang sang pemain.
Hal serupa terjadi pada Lionel Messi di Inter Miami. Messi datang bukan hanya sebagai pemain, tetapi sebagai magnet global. Ia membawa sponsor, perhatian media, dan lonjakan nilai klub yang sebelumnya nyaris tak diperhitungkan di peta sepak bola dunia. Gajinya, bonus, dan skema bagi hasil komersial membuatnya berada di level yang nyaris tidak bisa disentuh siapa pun di klub, termasuk pelatihnya saat itu, Gerardo “Tata” Martino. Padahal, Martino adalah pelatih berpengalaman yang bertahun-tahun berkutat di sepak bola level tertinggi. Namun dalam hierarki ekonomi sepak bola, pengalaman dan strategi kalah pamor dibanding nama besar.
Kita melihat ini dan mengangguk pelan, seolah berkata, “Ya wajar.” Tidak ada demonstrasi. Tidak ada petisi. Tidak ada tuntutan keadilan. Karena sejak awal kita sudah diajari satu hal penting: yang laku dijual, pantas dibayar mahal.
Pemain bola itu produk. Bukan sekadar atlet, tapi etalase berjalan. Kakinya dinilai per meter, wajahnya per pixel kamera, dan namanya per engagement media sosial. Ia bukan hanya dituntut bermain bagus, tapi juga harus cukup fotogenik untuk dipasang di baliho sponsor. Kalau bisa cetak gol sambil selebrasi ikonik, nilainya naik. Kalau bisa viral, naik lagi. Soal taktik, disiplin, dan rapat tim? Itu urusan pelatih. Pemain tinggal eksekusi, lalu menunggu transfer berikutnya.
Pelatih, sebaliknya, hidup di wilayah yang kurang seksi. Ia bekerja dengan kepala, bukan dengan highlight. Kerjanya panjang, melelahkan, dan sering tidak kelihatan. Ia yang disalahkan pertama kali saat kalah, tapi jarang dipuji saat menang. Dan anehnya, kita tetap menganggap wajar kalau gajinya lebih kecil dari pemain. Padahal tanpa pelatih, pemain bintang cuma sekumpulan ego yang berebut bola.
Logika ini, kalau dipikir-pikir, sangat familiar. Bahkan terlalu familiar. Karena di luar stadion, di luar rumput hijau, di dunia nyata yang lebih sering berdebu dan berisik, logika yang sama sedang bekerja dengan sangat rajin. Namanya dunia kerja.
Buruh, misalnya. Mereka bekerja delapan jam sehari, kadang sepuluh, kadang dua belas. Datang pagi, pulang sore, pulang malam, atau tidak pulang sama sekali karena lembur. Mereka memastikan pabrik tetap menyala, gudang tetap penuh, pesanan tetap terkirim. Tanpa mereka, perusahaan tidak jalan. Tapi seperti pelatih dalam sepak bola, kerja mereka jarang masuk iklan. Jarang masuk berita. Jarang dianggap keren.
Upah buruh sering kali ditentukan bukan oleh seberapa penting peran mereka, tapi oleh seberapa mudah mereka diganti. Selama masih ada antrean panjang orang yang butuh kerja, selama masih ada narasi “banyak yang mau kok digaji segitu”, maka upah bisa ditekan serendah mungkin, lalu dibungkus dengan kalimat motivasi. Disuruh bersyukur. Disuruh sabar. Disuruh paham kondisi perusahaan, meski perusahaan jarang mau paham kondisi pekerjanya.
Di titik ini, pemain bola dan buruh sebenarnya berada di dua ujung spektrum yang sama. Pemain bola adalah pekerja dengan posisi tawar tertinggi. Buruh adalah pekerja dengan posisi tawar paling rapuh. Yang satu bisa menolak kontrak dan pindah klub, yang lain menolak upah rendah saja sudah dianggap pembangkang. Yang satu dilindungi agen, pengacara, dan fans, yang lain dilindungi oleh doa dan grup WhatsApp sesama karyawan.
Maka jangan heran jika gaji pemain bisa melonjak tak masuk akal, sementara upah buruh naik seribu dua ribu saja harus dibahas berbulan-bulan, diperdebatkan di ruang-ruang rapat yang ber-AC, lalu akhirnya diputuskan “belum memungkinkan”. Dalam sistem yang mengagungkan pasar, yang paling dihargai bukanlah kerja keras, tapi kelangkaan dan daya jual. Pemain langka, buruh melimpah. Selesai urusan.
Lucunya, publik sering ikut-ikutan logika ini tanpa sadar. Kita mudah memaklumi gaji pemain bola yang fantastis dengan alasan “dia menghibur kita”. Tapi kita juga mudah mengomentari buruh yang menuntut upah layak dengan kalimat “kerjanya juga begitu doang”. Seolah-olah kerja fisik dan kerja rutin tidak layak dibayar manusiawi. Seolah yang pantas hidup layak hanya mereka yang tampil di layar.
Padahal, kalau mau jujur sedikit saja, hidup kita lebih sering bergantung pada buruh daripada pemain bola. Tanpa buruh, tidak ada listrik stabil, makanan murah, pakaian terjangkau, atau layanan publik yang jalan. Tanpa pemain bola, ya kita cuma kehilangan tontonan akhir pekan. Tapi anehnya, yang satu digaji pas-pasan, yang lain bisa membeli jam tangan seharga rumah.
Ini bukan soal iri atau tidak rela. Ini soal cara kita mendefinisikan nilai. Dunia hari ini lebih menghargai yang menghibur daripada yang menopang. Lebih menghargai yang viral daripada yang vital. Lebih menghargai yang bisa dijual, ketimbang yang benar-benar dibutuhkan.
Gaji pemain bola yang lebih tinggi dari pelatihnya hanyalah gejala kecil dari penyakit yang lebih besar. Penyakit bernama ketimpangan nilai kerja. Penyakit yang membuat kita menganggap wajar ketika satu orang dibayar berlebihan, sementara jutaan orang lain diminta bertahan dengan alasan “realistis”.
Dan selama logika ini tidak pernah benar-benar dipertanyakan, selama kita terus menganggap pasar sebagai hakim paling adil, maka cerita ini akan terus berulang. Pemain akan tetap jadi raja, pelatih tetap jadi kambing hitam, buruh tetap jadi angka statistik, dan kita semua akan terus diajak bertepuk tangan sambil lupa bertanya: siapa yang bekerja paling keras, siapa yang paling dibayar layak, dan kenapa keduanya hampir tidak pernah bertemu di orang yang sama.



