Nikaragua, KPonline-Perusahaan pakaian kerja asal Amerika Serikat, UniFirst, mengajukan gugatan ke pengadilan untuk membubarkan serikat pekerja di fasilitas produksinya di Nikaragua. Langkah ini diambil setelah 293 anggota serikat mengundurkan diri dalam waktu kurang dari sepekan dan lima anggota lainnya dipecat. Serikat pekerja menduga rangkaian peristiwa tersebut berkaitan dengan tekanan manajemen terhadap karyawan agar keluar dari organisasi pekerja.
Kasus ini menjadi sorotan di tengah rencana akuisisi UniFirst oleh Cintas, perusahaan seragam dan pakaian kerja terbesar di Amerika Utara. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai perlindungan hak-hak pekerja menjelang perubahan kepemilikan perusahaan.
Menurut Federasi Nasional Serikat Pekerja Tekstil, Garmen, Kulit, dan Alas Kaki (FESITEX), yang berafiliasi dengan IndustriALL, hubungan antara serikat pekerja dan manajemen UniFirst mulai memburuk pada Januari 2026. Perselisihan dipicu oleh persoalan tunjangan serta tindakan disipliner terhadap sejumlah pemimpin serikat pekerja.
Ketegangan semakin meningkat setelah serikat pekerja bergabung dengan FESITEX dan mengajukan proposal perundingan kolektif pada akhir Juli 2026.
FESITEX menduga sejumlah pengawas, orang-orang yang dekat dengan manajemen, serta mantan pemimpin serikat pekerja menekan karyawan agar meninggalkan keanggotaan mereka. Para pekerja disebut-sebut mendapat peringatan mengenai kemungkinan penutupan fasilitas dan kehilangan pekerjaan jika tetap bertahan di serikat.
Dalam waktu kurang dari sepekan, sebanyak 293 anggota dilaporkan mengundurkan diri. Cepatnya penurunan keanggotaan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kebebasan para pekerja dalam mengambil keputusan dan mendorong tuntutan agar dilakukan penyelidikan independen.
Situasi semakin rumit setelah lima anggota serikat pekerja dipecat. Akibatnya, jumlah anggota turun di bawah ambang batas minimum 20 orang yang disyaratkan secara hukum. UniFirst kemudian mengajukan gugatan untuk membubarkan serikat pekerja tersebut.
Persoalan utama dalam kasus ini bukan hanya apakah jumlah anggota serikat telah memenuhi ketentuan hukum, melainkan juga apakah pengunduran diri tersebut benar-benar dilakukan secara sukarela atau terjadi akibat tekanan. Karena itu, penyebab merosotnya keanggotaan dinilai perlu diperiksa secara menyeluruh sebelum pembubaran diputuskan.
IndustriALL, federasi serikat pekerja internasional yang menaungi organisasi pekerja di berbagai sektor industri, mengambil langkah untuk membela kebebasan berserikat di fasilitas UniFirst di Nikaragua.
Dalam surat tertanggal 9 September 2026 kepada UniFirst, IndustriALL mendesak perusahaan menghentikan proses hukum untuk membubarkan serikat pekerja. Organisasi tersebut juga meminta agar proses hukum ditangguhkan setidaknya sampai pengunduran diri anggota dan pemecatan pekerja diperiksa secara independen.
IndustriALL turut mendesak perusahaan menghentikan segala bentuk tekanan dan tindakan pembalasan terhadap pekerja. Organisasi itu meminta agar para pekerja yang dipecat karena aktivitas serikat pekerja dipekerjakan kembali disertai kompensasi.
Selain itu, UniFirst diminta kembali membuka dialog dengan itikad baik bersama serikat pekerja dan FESITEX, termasuk melanjutkan proses perundingan kolektif.
IndustriALL menilai, apabila dugaan tekanan dan pembalasan terhadap pekerja terbukti, tindakan tersebut berpotensi melanggar Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) Nomor 87 tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak Berorganisasi serta Konvensi ILO Nomor 98 tentang Hak Berorganisasi dan Perundingan Kolektif. Kedua konvensi tersebut telah diratifikasi oleh Nikaragua.
Di tengah perkembangan kasus tersebut, Cintas tengah bersiap mengakuisisi UniFirst. Rencana transaksi ini membuat persoalan hak-hak pekerja di fasilitas UniFirst di Nikaragua turut menjadi perhatian dalam proses uji tuntas sebelum akuisisi.
Dalam surat tertanggal 5 Oktober 2026, IndustriALL mendesak Cintas segera menindaklanjuti persoalan tersebut sebagai bagian dari uji tuntas hak asasi manusia dan hak-hak buruh dalam rencana akuisisi.
Meski kedua perusahaan masih beroperasi secara independen hingga transaksi selesai, IndustriALL menilai Cintas memiliki pengaruh yang dapat digunakan untuk mendorong UniFirst menghentikan gugatan pembubaran serikat, menyelidiki dugaan pelanggaran, dan memulihkan kondisi hubungan industrial.
IndustriALL juga menegaskan bahwa risiko terhadap hak-hak pekerja harus dinilai secara menyeluruh sebelum akuisisi diselesaikan.
Sekretaris Jenderal IndustriALL, Atle Hoie, menegaskan bahwa penurunan jumlah anggota serikat secara drastis seharusnya menjadi alasan untuk menyelidiki kemungkinan adanya tekanan, bukan langsung dijadikan dasar untuk membubarkan organisasi pekerja.
“Ketika 293 pengunduran diri dan lima pemecatan mendorong serikat pekerja di bawah batas minimum hukum, jawabannya adalah menyelidiki apa yang terjadi, bukan membubarkan serikat pekerja,” kata Hoie.
Ia menyampaikan kekhawatiran bahwa proses hukum tersebut berpotensi digunakan untuk membubarkan serikat pekerja yang diduga telah dilemahkan oleh campur tangan terhadap kebebasan berserikat. Sebab, kata Hoie situasi ini juga dapat menimbulkan kesan bahwa serikat pekerja sedang disingkirkan menjelang rencana akuisisi UniFirst oleh Cintas.
Hoie mendesak Cintas menggunakan pengaruhnya untuk memastikan UniFirst menarik gugatan pembubaran serikat pekerja dan menjamin bahwa karyawan dapat menjalankan hak-hak berserikat tanpa tekanan maupun ancaman pembalasan.
Kasus ini kini menempatkan UniFirst dan calon pengakuisisinya, Cintas, di bawah sorotan terkait komitmen terhadap kebebasan berserikat dan perlindungan hak-hak buruh. Hasil penyelidikan atas dugaan tekanan terhadap pekerja akan menjadi faktor penting untuk menilai apakah penurunan jumlah anggota serikat benar-benar merupakan keputusan sukarela atau berkaitan dengan pelanggaran hak pekerja.

