Upah Minimum Kota (UMK) Batam selama ini kerap dipuji sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia. Bahkan, per Januari 2026, UMK Batam resmi menyentuh angka Rp5.357.982 per bulan, menempatkannya di jajaran 10 besar nasional. Di atas kertas, angka ini seolah menjanjikan kehidupan layak bagi para pekerja.
Namun realitas di lapangan berkata lain. Di balik gemerlap kawasan industri dan deretan pabrik multinasional, masih banyak pekerja di Batam, terutama di sektor usaha kecil, UMKM, dan pekerjaan informal, yang menerima upah jauh di bawah standar minimum tersebut. Tanpa kontrak jelas, tanpa jaminan, dan tanpa perlindungan yang memadai.
Rina (25), bukan nama sebenarnya, adalah salah satu dari mereka.
Selama hampir satu tahun penuh, Rina bekerja dengan upah Rp1.500.000 per bulan. Jumlah itu bahkan tidak sampai separuh UMK Batam. Padahal, ia bukan pekerja tanpa latar belakang pendidikan.
Rina adalah lulusan sarjana dari salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa. Ia menyelesaikan studinya pada pertengahan 2023, sebuah capaian akademik yang sempat menumbuhkan harapan besar. Dalam bayangannya, gelar sarjana akan membuka pintu menuju pekerjaan yang layak dan stabil.
Kenyataan berkata sebaliknya.
Selepas wisuda, Rina justru berhadapan dengan masa kosong yang panjang. Bulan demi bulan berlalu tanpa pekerjaan. Sebelumnya, saat masih kuliah dan hidup pas-pasan, orang tua masih bisa membantu sebisanya. Namun setelah lulus, ia merasa tidak punya pilihan selain mandiri sepenuhnya.
“Paling kerasa itu soal uang,” tuturnya saat diwawancarai, Senin (5/1/2026).
“Dulu kalau butuh jajan, pulsa, atau ongkos, masih bisa minta ke orang tua. Sekarang semuanya harus dari usaha sendiri.”
Mencari kerja pun menjadi beban tersendiri. Berasal dari keluarga sederhana, Rina tidak memiliki koneksi atau relasi yang bisa membantunya masuk ke perusahaan.
“Orang tua cuma pekerja biasa. Tidak ada kenalan, tidak ada orang dalam. Jadi ya semua cari sendiri,” katanya.
Batam memang dikenal sebagai kota industri, tetapi bagi pencari kerja muda tanpa jaringan, peluang tidak selalu terbuka lebar. Ia sempat berpikir untuk merantau ke luar pulau, namun niat itu urung karena tanggung jawab keluarga yang tidak bisa ditinggalkan.
Rina tidak tinggal diam. Ia mengirimkan puluhan lamaran kerja ke berbagai perusahaan, mulai dari pabrik, kantor, hingga perusahaan jasa yang membuka lowongan di Batam. CV dan portofolio ia siapkan sebaik mungkin.
Namun hasilnya nihil. Tidak satu pun panggilan wawancara datang.
“Awalnya aku narget, paling lambat akhir 2023 sudah kerja. Biar tidak malu juga kalau ditanya orang,” katanya lirih.
Waktu terus berjalan. Memasuki pertengahan 2024, statusnya masih menganggur. Frustrasi mulai menumpuk. Selama masa itu, hampir tidak ada penghasilan. Sesekali orang tua masih memberi uang saku, tetapi rasa sungkan dan malu kerap menghantui.
Tekanan psikologis makin terasa saat melihat kehidupan teman-teman seangkatannya.
“Depresi banget lihat story teman-teman di medsos. Mereka sudah gajian, nongkrong pakai uang sendiri. Aku malah masih nganggur panjang,” ujarnya.
Awal 2025, sebuah tawaran datang dari seorang kenalan. Posisi yang ditawarkan adalah staff admin di sebuah online shop . Sejak awal, Rina sudah diberi tahu bahwa gajinya berada di bawah UMK, dengan iming-iming bonus jika performa kerja bagus.
“Waktu ditawarin, aku tidak mikir panjang. Langsung terima,” katanya.
Rasa lelah karena lama menganggur membuatnya menurunkan standar. Selain itu, bekerja di Batam berarti ia bisa tetap tinggal bersama orang tua, tanpa perlu mengeluarkan biaya kos.
“Pikirku, gaji kecil tidak apa-apa. Tidak perlu kos mahal seperti kalau kerja di luar kota. Masih bisa hemat,” tambahnya.
Namun realitas di tempat kerja jauh dari perkiraan.
Gaji pokok Rina ternyata hanya Rp1.500.000 per bulan. Bonus yang dijanjikan tidak memiliki nominal pasti dan jarang terealisasi. Sepanjang tahun, kondisi keuangannya nyaris tidak pernah stabil.
Yang lebih mengejutkan, beban kerja jauh melampaui deskripsi awal.
“Katanya cuma admin, kelola akun Shopee dan Tokopedia, balas chat pembeli,” ujarnya.
Dalam praktiknya, ia harus merangkap banyak peran. Ia menjadi talent live streaming, mengedit video promosi, melakukan packing barang, hingga mengantar paket ke ekspedisi. Tim usaha itu hanya berisi lima orang, termasuk pemilik, tanpa pembagian tugas dan jam kerja yang jelas.
“Katanya tim kecil, jadi semua harus serba bisa,” kata Rina.
Bagian paling melelahkan adalah jadwal live streaming malam hari. Kegiatan yang seharusnya selesai pukul 22.00 sering kali molor hingga lewat tengah malam.
“Mulai jam empat sore. Tapi live bisa sampai jam satu atau dua pagi,” ungkapnya.
Live streaming menuntut energi besar. Rina harus berdiri lama di depan kamera, berbicara tanpa henti, dan menjaga ekspresi tetap ramah meski tubuh dan mata sudah lelah. Sayangnya, tidak ada uang lembur.
Saat Rina menanyakan kompensasi, jawaban pemilik usaha singkat dan tegas.
“Bonus hanya kalau target sales tercapai.”
Masalahnya, target itu jarang terpenuhi.
“Aku jarang banget dapat bonus. Padahal melek sampai subuh. Rasanya tidak dihargai sama sekali,” keluhnya.
Seiring waktu, kesehatan mental Rina memburuk. Ia merasa dieksploitasi. Permintaan kenaikan gaji atau kejelasan bonus selalu berujung pada jawaban yang sama.
Bahkan saat hari raya, ia hanya menerima parcel kecil dan amplop dengan isi minim.
Puncaknya terjadi pada pertengahan Desember 2025, ketika Rina jatuh sakit demam tinggi dan harus absen hampir dua minggu. Setelah sembuh, ia menyadari satu hal. Ia sudah terlalu lelah untuk bertahan.
Tanpa pemberitahuan, ia mendapati posisinya telah diisi orang lain.
“Sebelum aku resmi resign, ternyata sudah direkrut orang baru waktu aku sakit,” katanya.
“Mungkin langsung gantiin posisiku.”
Akhirnya, Rina mengirim pesan singkat untuk menyatakan pengunduran diri secara resmi.
“Biar lega. Tidak ada beban lagi,” ujarnya.