Mojokerto, KPonline – Umar Sobirin (50 Tahun). Seorang pejuang keluarga gugur dalam hikmadnya menunaikan janji mensejahterakan keluarga dan menjalankan tugas organisasi.
Ia meninggal saat perjalanan pulang selepas memperjuangkan 4 bulan gajinya yang tak kunjung dibayarkan. Ia berangkat dengan semangat menuntut OJK, LPS dan Pemerintah membayar 4 bulan gajinya yang sedang diharapkan keluarganya.
Tragisnya, ia pulang tinggal nama, sementara gaji yang ia minta, belumlah ia terima. Kecelakaan di jalan telah merenggut nyawanya. Ia terjatuh akibat jalan berlubang di jalan raya Trosobo – Krian Sidoarjo.
Ayah tiga anak ini adalah pekerja PT. Pakerin dan anggota FSPMI dikenal pendiam, tekun beribadah dan militan. Ia aktif mengikuti kegiatan organisasi dan teguh berjuang demi masa depannya.
Sekretaris PUK SPAI FSPMI PT. Pakerin, Sugiyanto dalam keterangan persnya menyampaikan rasa bela sungkawa dan penghormatan terakhir untuk almarhum.
“Kami menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya. Kami kehilangan seorang pejuang yang pantang menyerah. Pengabdian dan semangat beliau menjadi tauladan untuk perjuangan. Semoga almarhum husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ucapnya.

(Foto : dok PUK)
Menurutnya, organisasi akan memastikan hak-hak almarhum sebagai pekerja dan siap membantu keluarga yang ditinggalkan untuk pemberkasannya.
Meninggalnya Umar, menunjukkan beratnya perjuangan karyawan PT. Pakerin untuk meraih kesejahteraan. Apa salah karyawan sehingga harus menjadi korban kepentingan? Apakah Pemerintah cuma bisa berpangku tangan?
Tidak hanya Umar, tercatat puluhan karyawan PT. Pakerin juga telah meninggal disaat kekosongan hukum dan ambigunya sikap pemerintah. Bagaimana hak-hak mereka? Kepada siapa lagi mereka meminta? Pemerintah jangan diam.
PT. Pakerin yang sedang terjadi sengketa para pemegang saham perusahaan. Makin parah dengan munculnya surat keputusan Kementrian Hukum, yang akhirnya menyeret seluruh karyawan dalam ketidakpastian dan ketidakadilan.
Darah telah tertumpah, nyawa sudah melayang, tidak ada kata mundur dalam perjuangan. Ini bukan lagi soal gaji 4 bulan yang belum dibayarkan atau THR yang sebentar lagi harus diberikan.
Ini tentang ribuan masa depan dan nasib anak istri yang menunggu. Apakah besok masih bisa makan, masih bisa sekolah dan masih bisa hidup di negara yang katanya makan gratis dan berobat gratis itu.
Kontributor Jawa Timur
Ki Gondrong



