Tiga Bulan ke Depan Jadi Penentu, Serikat Pekerja FSPMI PT Transportasi Jakarta Fokus Gebrak Basis Anggota

Tiga Bulan ke Depan Jadi Penentu, Serikat Pekerja FSPMI PT Transportasi Jakarta Fokus Gebrak Basis Anggota

Jakarta, KPonline-Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Digital Platform dan Transportasi (SPDT) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT Transportasi Jakarta menegaskan komitmen memperkuat organisasi hingga ke tingkat basis anggota. Komitmen tersebut mengemuka dalam agenda Konsolidasi Penguatan yang digelar pada 29 September 2026 di Sekretariat PUK SPDT FSPMI PT Transportasi Jakarta.

Konsolidasi tersebut diikuti jajaran perangkat organisasi dan menghadirkan sejumlah pimpinan untuk memberikan arahan terkait penguatan struktur, keanggotaan, pelayanan, komunikasi internal, kaderisasi hingga pembenahan administrasi organisasi.

Ardi selaku Pimpinan Pusat menegaskan bahwa bidang organisasi merupakan salah satu motor utama dalam menjalankan roda organisasi. Menurutnya, tugas bidang organisasi bukan sekadar mengurus administrasi, tetapi memastikan struktur berjalan, komunikasi dengan anggota terjaga, pendataan dilakukan dengan baik, serta seluruh perangkat menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya.

Untuk tiga bulan ke depan, organisasi diarahkan lebih fokus melakukan penguatan ke bawah atau penguatan basis anggota.

Pengurus diminta lebih banyak hadir di lapangan, membangun komunikasi langsung dengan anggota, memahami kondisi dan persoalan yang dihadapi, serta memastikan keberadaan serikat benar-benar dirasakan oleh anggota.

“Organisasi harus hadir dan dirasakan anggota,” menjadi salah satu semangat yang ditekankan dalam konsolidasi tersebut.

Faisal selaku Sekretaris Pimpinan Cabang menambahkan bahwa kekuatan organisasi sangat ditentukan oleh kekuatan basis anggotanya. Karena itu, pendataan, komunikasi, pelayanan, perlindungan dan keterlibatan anggota harus menjadi perhatian utama pengurus.

Sementara itu, sejumlah masukan lainnya menyoroti pentingnya menjaga etika dan komunikasi internal. M. Syahroni mengingatkan agar pengurus tidak menyampaikan janji yang belum dapat dipastikan realisasinya. Media komunikasi organisasi juga diharapkan digunakan untuk membangun komunikasi dan memperkuat persatuan, bukan memperkeruh suasana.

Hal senada disampaikan Heri Dwi. Ia menekankan agar tidak ada janji mengenai uang maupun hak anggota yang belum memiliki kepastian. Serikat pekerja juga diharapkan menjalankan fungsi kontrol sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku serta tetap mengedepankan hubungan industrial yang baik.

Ali Assegaf menekankan pentingnya perangkat Pimpinan Cabang maupun Pimpinan Pusat untuk mengayomi PUK. Persoalan yang muncul di internal organisasi diharapkan terlebih dahulu diselesaikan melalui mekanisme dan forum organisasi sebelum dibawa ke luar.

Penguatan organisasi juga menyentuh persoalan pendidikan, kaderisasi dan pelayanan anggota. Sugeng mendorong agar pembahasan standar skala upah segera dijalankan sesuai mekanisme perusahaan, sementara bidang pendidikan perlu diperkuat untuk mencetak kader-kader organisasi.

Ahmad Ismail mengingatkan pengurus agar tidak melupakan basis setelah mendapatkan posisi dalam kepengurusan. Sementara Hidayatullah menekankan pentingnya perhatian kepada seluruh anggota, termasuk menjenguk anggota yang sakit maupun mengalami musibah tanpa membeda-bedakan.

Di bidang komunikasi, Sriyanto meminta agar grup organisasi kembali difungsikan sebagai sarana diskusi dan komunikasi yang efektif. Informasi kepada anggota harus disampaikan secara jelas, terarah dan tidak membuat fungsi grup kehilangan arah.

Sementara itu, pembenahan data menjadi salah satu agenda penting. Farida mendorong terbentuknya database keanggotaan yang jelas dan terperinci, termasuk sistem yang mampu mencatat perubahan status anggota.

Penguatan tersebut akan diarahkan melalui pembuatan dashboard database keanggotaan, pembaruan data secara berkala, serta digitalisasi proses pendaftaran anggota baru.

Nurlaksono Aji juga mengingatkan agar tidak terjadi praktik calo di dalam kepengurusan. Posisi organisasi tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi maupun memberikan janji kemudahan terkait persoalan PHK atau pensiun dini.

Selain itu, proses pencetakan KTA diminta segera diselesaikan. Organisasi juga diharapkan mengawal hak anggota yang meninggal dunia hingga diterima oleh ahli waris sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam bidang pendidikan, Yulian Winda Ringga menyampaikan bahwa anggota perlu diberikan ruang untuk mengusulkan bidang pendidikan yang diminati. Dengan demikian, program pendidikan tidak hanya ditentukan oleh pengurus, tetapi juga berdasarkan kebutuhan dan minat anggota.

Ahmad Zuhdi Amin menyoroti pentingnya mempercepat komunikasi antara PUK, Pimpinan Cabang dan perangkat organisasi di tingkat atas. Komunikasi yang lebih terstruktur diperlukan agar persoalan anggota tidak terlambat ditangani. Ia juga mendorong pembahasan konsep standar skala upah, termasuk formulasi berdasarkan level jabatan.

Ius Andi Rahman menekankan perlunya sosialisasi mengenai iuran keanggotaan agar anggota memahami kewajiban, mekanisme pembayaran serta fungsi iuran bagi organisasi.

Arsep menambahkan bahwa data keanggotaan harus terus diperbarui dan disesuaikan dengan kondisi aktual karyawan, termasuk melalui penyesuaian dengan sistem payroll.

Di bagian akhir konsolidasi, Deven Nopliyandi menyampaikan sejumlah rencana penguatan organisasi. Di antaranya pembentukan KW atau Korwil Lapangan untuk memperkuat koordinasi, penambahan jumlah pleno, pengadaan kendaraan operasional, serta pelaksanaan konsolidasi akbar.

Deven menegaskan bahwa seluruh rencana tersebut harus diarahkan untuk memperkuat organisasi dan menyatukan langkah seluruh perangkat serta anggota.

“Organisasi ini besar, jangan kita kecilkan oleh kita sendiri,” tegasnya.

Hasil konsolidasi kemudian menempatkan penguatan basis anggota sebagai prioritas utama dalam tiga bulan mendatang. Penguatan tersebut akan dilakukan melalui konsolidasi langsung di lapangan, pembenahan struktur, digitalisasi database, peningkatan pelayanan anggota, pendidikan dan kaderisasi, penguatan komunikasi serta penyelesaian persoalan melalui mekanisme organisasi.

Kepengurusan juga didorong untuk menjalankan program kerja yang realistis, transparan dan dapat dibuktikan melalui aksi nyata.

Dengan konsolidasi tersebut, PUK SPDT FSPMI PT Transportasi Jakarta menegaskan langkah untuk membangun organisasi yang lebih solid, terbuka dan responsif terhadap persoalan anggota.

Penguatan organisasi tidak berhenti pada struktur kepengurusan, tetapi harus berujung pada semakin kuatnya basis dan semakin dirasakannya manfaat serikat oleh anggota.