Teriak Buruh PAKERIN: Jangan Sampai Sudah Kehilangan Kerja, Hak Kami Ikut Dihilangkan

Teriak Buruh PAKERIN: Jangan Sampai Sudah Kehilangan Kerja, Hak Kami Ikut Dihilangkan

Jakarta, KPonline-Aksi buruh PT Pabrik Kertas Indonesia (PAKERIN) kembali menguat di tenda Juang yang didirikan di depan Kantor Kemenkum Ham, Jakarta dengan pernyataan keras yang disampaikan Jazuli di hadapan massa aksi. Kamis, (29/1/2026).

Di tengah gelombang kegelisahan para buruh Pakerin, Jazuli sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jawa Timur menegaskan bahwa negara tidak boleh menutup mata terhadap nasib lebih dari dua ribu pekerja yang kini berada di ambang kehancuran hidup.

“Pak Menteri dan seluruh jajarannya harus mengerti kegelisahan kami. Jangan sampai kami ini sudah jatuh, masih juga ketiban tangga,” tegas Jazuli.

Menurutnya, buruh PAKERIN bukan hanya terancam kehilangan pekerjaan, tetapi juga hak-hak normatif yang selama puluhan tahun mereka kumpulkan melalui keringat dan tenaga.

Ia mempertanyakan sikap pemerintah terhadap nasib ribuan buruh tersebut. “Dua ribu sekian orang ini mau diapakan? Masyarakat di sekitar pabrik itu mau diapakan? Ini bukan sekadar masalah buruh, ini tantangan kita semua. Tantangan pemerintah,” ujarnya.

Jazuli mengaku masih menyimpan harapan setelah mendengar pemaparan sejumlah pejabat dalam audiensi yang sudah Ia lakukan selama empat hari ini di Jakarta. Ia menyatakan keyakinannya bahwa buruh PAKERIN masih bisa diselamatkan. “Saya sangat yakin, insya Alloh kawan-kawan bisa terselamatkan. Apapun caranya,” katanya.

Namun dibalik optimisme itu, ancaman nyata masih membayangi. Jazuli mengungkapkan bahwa uang milik PT PAKERIN yang kini berada di Bank Prima dan dibekukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencapai sekitar Rp900 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp400 miliar disebut merupakan hak buruh, mulai dari upah, jaminan pesangon, hingga hak normatif lainnya.

“Meski kami bukan nasabah langsung Bank Prima, uang PAKERIN itu adalah nasabah terbesar. Bahkan mungkin 90 persen dana di bank itu,” tegasnya. Jazuli menilai LPS dan pemerintah tidak bisa lepas tangan. “Itu yang harus dipikirkan oleh LPS dan pemerintah. Ini hak buruh Pakerin,” pungkasnya.

Ia juga menolak keras stigma yang kerap dilekatkan pada buruh yang berjuang. “Besok akan kita tunjukkan. Ini bukan orang bayaran, bukan preman. Ini asli karyawan PAKERIN. Secara hukum kami punya hak atas uang yang sekarang dikuasai LPS,” katanya.

Menurut Jazuli, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menegaskan bahwa dana tersebut adalah milik PT PAKERIN. “Siapa PT PAKERIN itu? Di dalamnya ada darah kalian, ada tetesan keringat kalian. Puluhan tahun bekerja, sedikit demi sedikit ditabungkan. Masa tiba-tiba lenyap? Itu sangat naif dan tidak masuk akal,” ucapnya.

Sebagai bentuk keseriusan perjuangan, buruh PAKERIN memutuskan untuk bermalam dan melanjutkan aksi keesokan harinya di LPS. Jazuli mengungkapkan bahwa koordinasi telah dilakukan dengan pimpinan serikat, aparat kepolisian, hingga unsur intelijen untuk memastikan aksi berjalan kondusif.

“Kami pegang komitmen, kami pegang janji yang sudah disampaikan pejabat. Mudah-mudahan tidak ada arah melintang,” katanya. Massa buruh kemudian diarahkan untuk bergeser ke area parkir Senayan sebelum melanjutkan aksi jalan kaki menuju LPS keesokan pagi.

Meski tekanan semakin besar, Jazuli menegaskan bahwa buruh tetap berkomitmen menjaga ketertiban. “Kita tetap kondusif, kita jaga negeri ini. Jangan sampai ada pihak tak bertanggung jawab merusak rencana baik perjuangan kita,” tutupnya.

Aksi buruh PAKERIN pun kini menjadi ujian nyata bagi pemerintah. Apakah negara hadir melindungi rakyat pekerja, atau justru membiarkan buruh kehilangan segalanya. Pekerjaan, hak, dan masa depan mereka.