Suara Keras dari MUSCAB II SPAI FSPMI Kabupaten Tuban: Jabatan Adalah Amanah, Bukan Panggung Kepentingan Pribadi

Suara Keras dari MUSCAB II SPAI FSPMI Kabupaten Tuban: Jabatan Adalah Amanah, Bukan Panggung Kepentingan Pribadi

Tuban, KPonline – Dalam Musyawarah Cabang (Muscab) II SPAI FSPMI Kabupaten Tuban yang digelar di Hotel De La Charis Tuban, Minggu (11/10/2026), Eka Hernawati, S.H., M.H., Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Pekerja Muda Pimpinan Pusat Aneka Industri (PPAI) FSPMI, mengingatkan pentingnya menjaga sejarah, soliditas, dan semangat perjuangan organisasi.

 

Bacaan Lainnya

Eka Hernawati bukan sosok asing bagi kalangan buruh, khususnya di Jawa Timur. Ia dikenal sebagai orator ulung yang lantang menyuarakan aspirasi buruh dalam berbagai aksi perjuangan.

 

Dalam forum tersebut, ia menegaskan bahwa sejarah berdirinya FSPMI di Kabupaten Tuban tidak boleh dilupakan. Perjalanan organisasi hingga mendapatkan pengakuan dari perusahaan maupun pemerintah daerah merupakan hasil perjuangan panjang yang harus dijaga bersama.

 

“5 tahun yang lalu, kalian mungkin tidak mengenal siapa itu Duraji, tapi hari ini terbukti, satu periode berdirinya FSPMI di kabupaten tuban, semuanya baik dari tingkat perusahaan, pemerintah daerah menghargai apa yang sudah kalian perjuangkan sampai detik ini,” tegasnya.

 

Menurutnya, nilai-nilai perjuangan yang telah dibangun selama ini tidak boleh berhenti hanya karena sudah terbentuk kepengurusan baru. Keutuhan, kekompakan, dan rasa memiliki terhadap organisasi harus menjadi pondasi utama untuk melangkah ke depan.

 

“Membentuk sebuah organisasi memang mudah, mempertahankan, mempertanggungjawabkan, memberikan rasa nyaman dan juga mensejahterakan itu yang menjadi tanggung jawab kita bersama.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa Muscab II bukan hanya agenda lima tahunan untuk memilih pemimpin, melainkan momentum menentukan arah perjuangan SPAI FSPMI Kabupaten Tuban untuk periode 2026–2031.

(dari kiri) Rahmat Binsar, Eka Hernawati dan Duraji. Tiga tokoh, satu semangat perjuangan di Muscab II SPAI FSPMI Kabupaten TUBAN, Minggu, 11 Oktober 2026, Bertempat di Hotel De La Charis Tuban.

 

Eka juga menegaskan bahwa setiap peserta yang hadir merupakan bagian penting dari perjalanan organisasi. Ia mengingatkan pentingnya tanggung jawab bersama dalam mendukung kepemimpinan Duraji untuk memimpin PC SPAI FSPMI Kabupaten Tuban satu periode ke depan.

 

19 PUK: Kekuatan Buruh Fspmi Tuban yang Tidak Bisa Dipandang Sebelah Mata

 

Eka menyoroti perkembangan FSPMI Tuban yang kini memiliki 19 Pimpinan Unit Kerja (PUK). Jumlah tersebut menjadi bagian dari kekuatan organisasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata, terlebih Tuban berada di jalur strategis Pantura.

 

“Di tuban ini memiliki 19 PUK, ini kalau sudah melakukan aksi sudah menjadi perhitungan bukan hanya seluruh Jawa Timur, tapi ini adalah pantura, sekali teman-teman turun nutup jalan pantura, sudah langsung kolep semua.”

 

Pernyataan itu menggambarkan besarnya daya tekan gerakan buruh ketika dilakukan secara terorganisasi. Namun, kekuatan tersebut harus dibarengi dengan konsistensi perjuangan, kedisiplinan organisasi, dan keberanian memperjuangkan hak-hak pekerja.

 

“Poros pergerakan FSPMI Tuban ini luar biasa dan saya Salut untuk kawan-kawan tuban yang selama ini gencar melakukan gerakan. Kenapa, karena gerakan itu menjadi tolak ukur bagaimana teman-teman dihargai, bagaimana kawan-kawan mendapatkan martabat disaat bekerja di perusahaan.”

 

Gerakan buruh bukan cuma soal turun ke jalan. Perjuangan merupakan upaya membangun posisi tawar, menjaga martabat pekerja, dan memastikan hak-hak buruh mendapatkan penghormatan di tempat kerja.

 

Jabatan Bukan Kehormatan Semata, Melainkan Amanah Perjuangan

 

Di hadapan peserta Muscab II, Eka Hernawati mengingatkan bahwa jabatan dalam organisasi serikat pekerja bukan sekedar kedudukan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

 

“Dan hati-hati kalau anda ditunjuk jadi pimpinan, karena jabatan itu harus betul-betul di pertanggung jawabkan nanti. Kita tidak akan dikenal oleh siapapun dan kita bukan siapa-siapa, tetapi jika kita menjadi anggota FSPMI, perangkat FSPMI, pimpinan FSPMI, maka disitulah kalian akan dihargai orang.”

 

Pesan itu menegaskan bahwa kehormatan seorang pimpinan tidak ditentukan oleh jabatan yang disandang, melainkan oleh kesungguhan menjalankan amanah dan keberpihakan terhadap anggota.

 

“Kalau kalian berjuang tidak sungguh-sungguh, maka kalian akan tersisih dengan sendirinya. Karena hukum alam itu pasti ada. FSPMI adalah gen perjuangan, FSPMI adalah gerakan buruh yang betul-betul murni dari hati dan nuraninya untuk kesejahteraan dirinya di perusahaan beserta keluarganya.”

 

FSPMI harus tetap menjadi rumah perjuangan yang berorientasi pada kesejahteraan pekerja dan keluarganya, bukan tempat untuk mengejar kepentingan pribadi.

 

“Disaat kita memilih FSPMI menjadi organisasi dan payung hukum untuk perlindungan. Maka disitulah waktumu, rumah keduamu, ikhlasmu, langkahmu, harus benar-benar kalian laksanakan dengan sungguh-sungguh, dengan benar tanpa adanya kepentingan diri sendiri.”

 

Kekompakan Adalah Modal, Komunikasi Adalah Kunci

 

Eka mengaku bangga melihat semangat dan respons kawan-kawan FSPMI Tuban ketika menghadapi persoalan ketenagakerjaan. Menurutnya, keberanian bergerak dan militansi anggota merupakan karakter yang harus dijaga, tanpa mengabaikan komunikasi serta kepercayaan antar pengurus.

 

“Saya itu selalu bangga dengan kawan-kawan tuban, karena melihat antusiasme kalian di saat bergerak kalau terjadi masalah, nek gak dituruti, gontok-gontokan dan kelebihan ini yang mungkin belum banyak dimiliki di tempat lain.”

 

Ia mengingatkan bahwa setiap daerah memiliki karakter perjuangan masing-masing. Karena itu, soliditas yang telah tumbuh di Tuban harus dipertahankan melalui komunikasi terbuka, saling percaya, dan kesediaan menyelesaikan perbedaan secara dewasa.

 

“Karena tiap daerah punya ciri khas sendiri-sendiri. Maka untuk itu pertahankan kekompakan ini, rasa percaya sesama perangkat. Kalau ada hal-hal yang mungkin kurang berkenan, silahkan dikomunikasikan, komunikasi ini untuk membangun gerakan yang utuh dan kompak.

 

Kalau komunikasi ini renggang, kalau komunikasi ini terputus maka disitulah organisasi akan jadi hancur karena komunikasi”.

 

Menurutnya, perpecahan tidak boleh diberi ruang untuk melemahkan organisasi. Perbedaan harus diselesaikan melalui komunikasi, bukan dibiarkan berkembang menjadi konflik yang merugikan anggota dan menghambat perjuangan.

 

Muscab II SPAI FSPMI Kabupaten Tuban harus menjadi titik tolak perjuangan yang lebih besar. Sejarah wajib dijaga, soliditas harus diperkuat, dan amanah kepemimpinan harus dibuktikan. Sebab, di dalam FSPMI, jabatan bukan panggung untuk kepentingan pribadi, melainkan tanggung jawab untuk memperjuangkan martabat, hak, dan kesejahteraan kaum buruh.

Pos terkait