Bandung Barat, KPonline-Aksi unjuk rasa buruh PT. Namasindo Plas di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat pada hari ini Kamis, 5 Februari 2026 kembali menegaskan bahwa perlawanan kaum buruh belum padam. Di tengah ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), dugaan union busting, serta persoalan hak normatif yang belum ditunaikan, suara perlawanan menggema ditengah barisan massa aksi.
Salah satu orasi datang dari Wahyu Hidayat, Ketua Pimpinan Cabang Serikat pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Purwakarta. Dalam orasinya, Wahyu menegaskan bahwa aksi yang dilakukan buruh PT. Namasindo Plas bukan sekadar tuntutan ekonomi, melainkan perjuangan kemanusiaan.
“Hak-hak kita sebagai manusia patut kita syukuri, karena kita tidak berdiam diri. Allah masih memberikan kepada kita kekuatan untuk memperjuangkan sisi kemanusiaan buruh,” ujar Wahyu di hadapan ratusan massa aksi.
Ia mengingatkan bahwa diamnya buruh justru akan membuka ruang bagi konspirasi yang memadamkan api perlawanan. Menurutnya, perjuangan buruh adalah jalan yang penuh risiko, namun mulia.
“Kalau bukan karena petunjuk Alloh, bisa jadi saudara-saudara hari ini sudah bersama-sama dalam konspirasi untuk memadamkan api perlawanan kita,” tegasnya.
Wahyu dengan nada keras menyoroti realitas buruh di Indonesia yang kerap menjadi pihak paling dirugikan. Ia membandingkan kondisi buruh Indonesia dengan negara-negara lain.
“Kaum buruh di seluruh dunia memegang peran penting, kecuali di Indonesia. Hari ini kita yang berjuang selalu dibully, selalu disudutkan,” katanya.
Wahyu mencontohkan bagaimana di negara-negara maju, buruh justru menjadi kekuatan politik utama.
“Di Australia, Perdana Menterinya dari Partai Buruh. Di Inggris juga Partai Buruh. Di Selandia Baru Partai Buruh. Di Jepang, buruhnya kuat. Di mana negara kuat, di situ buruhnya kuat,” ujarnya.
Menurutnya, buruh Namasindo, khususnya Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Logam (SPL) FSPMI PT. Namasindo Plas tidak boleh minder atau berkecil hati, sebab sejarah membuktikan bahwa perubahan besar selalu lahir dari perjuangan kelas pekerja.
Wahyu dengan tegas mengingatkan massa aksi buruh di PT. Namasindo Plas untuk tetap menjaga gerakan buruh tetap bermartabat dan tidak terjebak tindakan anarkis.
“Tidak diizinkan, tidak direkomendasikan, tidak disarankan melakukan tindakan anarkis selama jalur komunikasi masih dibuka,” tegasnya.
Namun ia juga mengingatkan, jika komunikasi ditutup dan buruh hanya “didengar bisikan sengkuni-sengkuni”, maka perlawanan akan terus berlanjut.
“Ada hakmu, ada hak kalian, ada hak kita untuk bekerja. Kaum buruh di sini harus mempertahankan sisi kemanusiaannya,” katanya.
Wahyu pun menyinggung dugaan pelanggaran serius yang dilakukan manajemen PT. Namasindo Plas, mulai dari dugaan union busting, hingga tidak dibayarkannya iuran BPJS. Padahal, pemotongan iuran sudah dilakukan namun tidak disetorkan.
“Iurannya dipotong, tapi tidak dibayarkan. Ini kebangetan,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa buruh adalah aset utama perusahaan, bukan beban yang bisa dikorbankan demi kepentingan segelintir oknum.
“Jangan dikorbankan buruhnya. Ini aset utama. Mereka pejuang semua,” tegas Wahyu.
Kemudian, dalam kesempatan tersebut, Wahyu menyampaikan salam solidaritas dari buruh Purwakarta dan menegaskan kesiapan untuk mengirimkan massa aksi yang lebih besar bila konflik tidak segera diselesaikan.
“Apabila ada instruksi dari DPW atau DPP FSPMI, kami siap support, baik secara moral maupun material,” katanya.
Ia bahkan memastikan bahwa PT. Namasindo Plas akan menjadi prioritas perjuangan buruh lintas daerah.
“Kami pastikan dari Purwakarta, apabila dikomandokan, kami akan prioritaskan perjuangan buruh Namasindo sebagai barisan pertama,” ujarnya.
Singkatnya, Wahyu mengajak massa aksi untuk tetap mendoakan pimpinan perusahaan agar diberi hidayah dan menyingkirkan oknum-oknum pembisik yang dinilai memperkeruh suasana.
“Kita sudah dizolimi, tapi masih mendoakan yang baik. Karena hanya Alloh yang bisa membolak-balikkan hati,” tuturnya.
Aksi buruh PT. Namasindo Plas ini menjadi cermin nyata krisis hubungan industrial di Indonesia. Di satu sisi, buruh menuntut hak normatif dan kemanusiaan. Di sisi lain, manajemen perusahaan dituntut untuk memilih yakni berdiri bersama buruh demi keberlangsungan perusahaan, atau terperosok ke dalam kehancuran akibat mengabaikan suara kelas pekerja.
Satu hal pasti, seperti yang ditegaskan Wahyu Hidayat dalam orasinya bahwa buruh tidak akan diam, dan perjuangan ini belum akan berakhir.
Berikut tuntutan buruh PT. Namasindo Plas:
1. Jalankan PB (Perjanjian Bersama) yang sudah disepakati.
2. Penghormatan terhadap serikat pekerja dan hukum ketenagakerjaan. Stop Union Busting.
3. Penghentian PHK sepihak dan pengembalian hak bekerja. Pekerjakan kembali seluruh anggota PUK SPL FSPMI PT. Namasindo Plas.
4. Pembayaran penuh upah yang tertunggak sesuai upah yang diterima setiap bulannya.
5. Pelunasan dan penyetoran iuran BPJS Ketenagakerjaan. Bayarkan iuran BPJS Ketenagakerjaan yang sudah dipotong melalui upah pekerja.