Bekasi, KPonline – Di Bekasi marak pemotongan instalasi pembumian atau disebut juga grounding/arde. Pembumian atau Pentanahan (bahasa Inggris: Grounding) adalah sistem dalam bidang teknik kelistrikan, istilah pembumian listrik mengacu pada sambungan suatu peralatan atau instalasi listrik pada tanah (bumi) sehingga dapat mengamankan manusia dari sengatan listrik, dan mengamankan komponen-komponen instalasi dari bahaya tegangan arus abnormal.
Atas dasar kepedulian Keselamatan Ketenagalistrikan terhadap masyarakat maka anggota FSPMI bersurat ke PLN Bekasi untuk mencegah jatuhnya korban karena listrik di wilayah kerja PLN Bekasi. Dalam sebuah artikel disampaikan ada 1000 kematian akibat tersengat listrik. “Sengatan listrik merupakan salah satu kegawatan yang dapat dijumpai di rumah sakit. Sekitar 1000 kematian akibat sengatan listrik terjadi setiap tahunnya, di mana luka akibat sengatan listrik menyebabkan angka kematian sebesar 3-5% atau 3-5 kematian dari setiap 100 kejadian. Kasus ini umumnya terjadi di lingkungan kerja pada orang dewasa, dan di lingkungan rumah pada anak-anak”, demikian diuangkapkan dalam situs hallosehat yang per tanggal 8 Januari 2021 secara resmi bergabung dalam Aliansi Telemedik Indonesia (ATENSI).
Sebelumnya Dedi sebagai Ketua PUK SPEE FSPMI PT. Mahiza Karya Mandiri Bekasi mengumpulkan data dari setiap media terkait informasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang berhungan dengan PLN. Dia terkejut dengan informasi yang ada bahwa setiap hari selalu ada korban yang kesetrum listrik yang awalnya jika dirata-ratakan ada 1 orang meninggal akibat kesetrum.
“Awalnya saya sempat berkesimpulan ONE DAY ONE DIE atau 1 DIE A DAY. Tapi ketika terus saya kumpulkan datanya mengejutkan. Pantas kalau dalam situs hellosehat disampaikan ada 1000 kematian karena listrik setiap tahunnya”, ungkap Dedi. Oleh karena itu Dedi berinisiatif berkirim surat dengan KOP PUK SPEE FSPMI PT. Mahiza Karya Mandiri Bekasi agar menjadi perhatian ekstra bagi PLN Bekasi. Surat tersebut diterima oleh petugas satpam bernama Makmur pada hari Jum’at tanggal 20 Juni 2020.
Masalah yang diangkat oleh PUK SPEE FSPMI Bekasi adalah terkait dengan penggunaan pembumian yang dianggap tidak diperlukan oleh pekerja-pekerja PLN Bekasi dan disampaikan secara masif kepada masyarakat. Didapati di masyarakat ternyata pembumian sengaja diputus/dipotong.
Tim Koran Perdjoeangan Bekasi juga mencari info ke pekerja PLN yang lain. Masyarakat sendiri sampai tukang bangunan merasa heran dengan sistem kelistrikan sekarang. “Kata orang PLN sekarang sudah tidak perlu pakai arde lagi. Ya udah, saya juga ikutin orang PLN pasang listrik enggak pakai arde”, ungkap seorang tukang yang sedang mengerjakan perbaikan tempat praktek bidan di wilayah Rawa Lumbu.
Masalah pemotongan instalasi pembumian ini, Tim Koran Perdjoeangan Bekasi pada hari Jum’at 5 Februari 2021 melakukan konfirmasi ke manajemen PLN Bekasi, Ririn Rachmawardini melalui aplikasi WhatsApp. Namun pihak PLN seakang tidak mau menanggapi masalah tersebut dengan memberikan respon yang tidak diharapkan. Sikap tidak tanggap seperti ini seakan menjadi bukti bahwa benar PLN Bekasi melakukan pembenaran atas sikap pemotongan instalasi pembumian pada instalasi milik masyarakat sebagai pelanggan.
Pihak PUK SPEE FSPMI PT. Mahiza Karya Mandiri Bekasi berharap ada respon yang baik dari pihak PLN. Masalah ini muncul karena PLN tidak melakukan edukasi terhadap para pekerja sehingga pekerja mengambil langkah singkat untuk menyelesaikan masalah tanpa mempertimbangkan efek buruk yang akan timbul.
Penulis : Chandra
Foto : Chandra