Jakarta, KPonline – Pendidikan ideologi bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses membentuk kader yang disiplin, berprinsip, dan siap mengambil tanggung jawab perjuangan.
Dalam rangkaian pendidikan kader Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Muhamad Yadun Mufid selaku kepala sekolah ideologi FSPMI menegaskan pentingnya pemahaman ideologi sebagai fondasi utama dalam membangun kepemimpinan dan menjaga arah perjuangan organisasi. Penegasan tersebut disampaikan saat memberikan pandangan dalam Sekolah Ideologi Dasar (SEIDA) 2 Perempuan FSPMI.
Pendidikan kader FSPMI dirancang secara berjenjang melalui tiga tingkatan, yakni Sekolah Ideologi Dasar (SEIDA), Sekolah Komando (SESKOM), dan Sekolah Ideologi Pimpinan (SESPIM). Ketiga jenjang ini menjadi bagian dari proses pembentukan kader, mulai dari penguatan pemahaman ideologi, pembentukan karakter dan kemampuan komando, hingga kesiapan memikul tanggung jawab kepemimpinan.
Dalam pemaparannya, Muhamad Yadun Mufid menekankan bahwa seluruh materi dan pandangan yang disampaikan para pemateri dalam pendidikan ideologi harus dirangkum menjadi pemahaman yang utuh, kemudian dibawa pulang untuk diterapkan dalam kehidupan berorganisasi maupun dalam perjuangan kaum buruh.
Menurutnya, ideologi tidak boleh berhenti sebagai teori, catatan pelatihan, atau sekadar slogan yang terdengar lantang di ruang pendidikan. Ideologi harus menjadi pedoman dalam bersikap, mengambil keputusan, membangun solidaritas, serta menentukan keberpihakan ketika kepentingan dan hak-hak pekerja menghadapi tantangan.
FSPMI, melalui pendidikan kader yang terstruktur, berupaya mencetak kader dengan disiplin, arahan yang jelas, dan orientasi perjuangan yang terukur. Pola kaderisasi semacam ini menjadi modal penting bagi organisasi serikat pekerja untuk menyiapkan pemimpin yang tidak hanya memahami persoalan perburuhan, tetapi juga mampu mengorganisasi anggota, menjaga konsistensi perjuangan, dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan.
Namun, pendidikan ideologi tidak cukup dinilai dari terselenggaranya kegiatan atau banyaknya materi yang disampaikan. Ukuran sesungguhnya terletak pada perubahan sikap, keteguhan prinsip, keberanian membela kepentingan anggota, dan kemampuan kader menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan nyata. Di titik inilah kualitas kaderisasi diuji: apakah ideologi benar-benar hidup dalam gerakan atau hanya menjadi formalitas organisasi.
Di hadapan peserta SEIDA 2 Perempuan FSPMI, Muhamad Yadun Mufid juga menyampaikan pesan yang tegas dan menggugah: “Jadilah pemimpin, bukan pemimpi!”
Pesan tersebut bukan sekadar permainan kata, melainkan penegasan tentang perbedaan antara mereka yang berani mengambil tanggung jawab dan mereka yang hanya berhenti pada angan-angan. Pemimpin akan terus bergerak, berjuang, menghadapi tantangan, dan mencari jalan keluar. Sementara itu, pemimpi hanya akan terus berandai-andai tanpa keberanian untuk mewujudkan perubahan.
Bagi kader perempuan FSPMI, pesan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan tidak lahir hanya dari jabatan atau pengakuan, tetapi dari kapasitas, keberanian, kedisiplinan, serta kesediaan untuk berdiri bersama anggota dalam menghadapi persoalan. Kader perempuan bukan sekadar pelengkap struktur organisasi, melainkan bagian penting dari kekuatan perjuangan yang harus terus diperkuat melalui pendidikan dan pengorganisasian.
Setelah menyampaikan pandangannya, Muhamad Yadun Mufid secara resmi menutup rangkaian SEIDA 2 Perempuan FSPMI. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama sebagai penutup, sekaligus harapan agar ilmu, nilai, dan semangat yang diperoleh selama pendidikan dapat menjadi bekal nyata dalam menjalankan amanah organisasi.
Penutupan tersebut menandai berakhirnya satu tahapan pendidikan, tetapi bukan akhir dari proses belajar dan perjuangan. Sebab, kader yang telah dibekali ideologi memiliki tanggung jawab untuk membuktikan pemahamannya melalui tindakan, menjaga solidaritas, serta memastikan bahwa setiap langkah organisasi tetap berpijak pada kepentingan dan kesejahteraan kaum buruh.
Pada akhirnya, keberhasilan sekolah ideologi tidak diukur dari berapa banyak kader yang telah mengikuti pendidikan, melainkan dari berapa banyak kader yang benar-benar tumbuh menjadi pemimpin berintegritas, berani mengambil sikap, dan konsisten memperjuangkan hak-hak pekerja.
Ideologi harus menjadi kompas, disiplin menjadi karakter, dan perjuangan menjadi tindakan. Karena FSPMI tidak hanya membutuhkan kader yang pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga pemimpin yang berani bekerja, bertahan dalam tekanan, dan menghadirkan perubahan nyata bagi kaum buruh.
Jadilah pemimpin, bukan pemimpi. Sebab perjuangan tidak membutuhkan sekadar orang yang pandai berandai-andai, tetapi mereka yang berani melangkah dan bertanggung jawab atas masa depan gerakan.