Potret Sulitnya Lapangan Kerja: Lulusan SMK Beralih Profesi Menjadi Tukang Pijat

Potret Sulitnya Lapangan Kerja: Lulusan SMK Beralih Profesi Menjadi Tukang Pijat
Ketua Jaringan Rakyat Jelata (Jareta) Kota Depok, Subagya, terlihat berbincang dengan Revi, seorang tukang pijat yang beraktivitas di kawasan ITC Depok

Depok,KPonline – Di tengah sorotan publik terhadap kemewahan hidup sebagian pejabat negara serta maraknya kasus mega korupsi, Revi justru harus berjuang keras untuk sekadar bertahan hidup. Lulusan SMK Muhammadiyah Bogor jurusan Teknik Jaringan Komputer ini terpaksa menerima kenyataan pahit bahwa mencari pekerjaan sesuai dengan disiplin ilmunya bukanlah perkara mudah, meski Indonesia dikenal sebagai negara kaya akan sumber daya alam.

Kesulitan mendapatkan pekerjaan di sektor formal akhirnya mendorong Revi untuk beralih profesi menjadi tukang pijat. Pekerjaan tersebut jelas jauh dari latar belakang pendidikan yang ia tempuh selama bertahun-tahun. Namun, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, pilihan itu harus diambil.

Bacaan Lainnya

Di sudut pusat perbelanjaan ITC Depok, Ketua Jaringan Rakyat Jelata (Jareta) Kota Depok, Subagya, bertemu dengan Revi, seorang tukang pijat yang mencari nafkah dari balik kesibukan pusat ekonomi kota. Pertemuan tersebut menjadi potret kontras realitas kehidupan masyarakat kecil di tengah gegap gempita pembangunan dan klaim kemajuan ekonomi nasional.

Subagya menilai kondisi yang dialami Revi bukanlah kasus tunggal. Menurutnya, masih banyak lulusan sekolah kejuruan dan perguruan tinggi yang mengalami nasib serupa—terpaksa bekerja di sektor informal karena minimnya kesempatan kerja yang layak dan sesuai keahlian.

“Ini adalah potret nyata bangsa Indonesia hari ini. Di saat pemerintah menyampaikan janji akan membuka 19 juta lapangan pekerjaan, faktanya masih banyak anak bangsa yang kesulitan mengakses pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka,” ujar Subagya.

Kisah Revi menjadi cermin ketimpangan antara janji kebijakan dan realitas di lapangan. Ia sekaligus mengingatkan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan pendidikan, tetapi juga harus diiringi dengan penyediaan lapangan kerja yang adil, merata, dan berkelanjutan.

Pos terkait