Perjuangan Buruh Lewat Jalur Spiritual, Jamaah Istighosah PT Parin Ziarah ke Makam Mbah Sinari

Perjuangan Buruh Lewat Jalur Spiritual, Jamaah Istighosah PT Parin Ziarah ke Makam Mbah Sinari

Mojokerto, KPonline – Jumat, 16 Oktober 2026, Jamaah Istighosah Pekerja PT PARIN melakukan ziarah ke makam Syekh Sayyid Marzuki atau yang dikenal sebagai Mbah Sinari di Desa Manting, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

 

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali tradisi ziarah yang sempat vakum.

 

Bagi para jamaah, ziarah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan rohani untuk bertawasul, berdzikir, dan memanjatkan doa di suasana hening.

 

Dalam khusyuk, mereka mengirim doa dan membacakan Al-Fatihah untuk Mbah Sinari, almarhum Khamim Tohari (Ex Ketua PUK) serta rekan-rekan pekerja yang lebih dulu meninggal. Doa juga dipanjatkan untuk seluruh karyawan PT PARIN agar selalu diberi keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan.

 

Selain menjadi momen spiritual, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi untuk perjuangan buruh, termasuk upah 2027, di internal maupun eksternal perusahaan. Para jamaah berharap perjuangan buruh mendapatkan kemudahan dan ridha Allah SWT, sehingga tercipta kesejahteraan yang lebih baik.

 

Tak hanya lewat aksi demonstrasi, tapi juga lewat doa dan ikhtiar spiritual, perjuangan ditempuh beriringan. Kegiatan ini juga mempererat silaturahmi antarpekerja, termasuk menyapa Pak Ruswidi dan Pak Basuki yang sudah purna tugas, sebagai pengingat bahwa persaudaraan di antara buruh tak berhenti saat pensiun.

 

Ketua Jamaah Istighosah,Abah Wagiyanto menyampaikan bahwa Jamaah berharap ziarah dan doa bersama ini bisa menjadi agenda rutin, sebagai sarana menjaga kebersamaan, mendoakan para pejuang buruh yang telah wafat, dan menguatkan semangat perjuangan.

 

“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan PUK SPLP FSPMI PT PARIN sehingga acara ziarah ini bisa terlaksana” tutup abah Wagiyanto.

 

Melalui langkah sederhana ini, mereka ingin menjaga tradisi spiritual sekaligus merawat solidaritas di antara buruh. Sebab perjuangan bukan hanya tentang langkah kaki di jalanan, tapi juga tentang doa, kenangan, dan persaudaraan.

 

(Khoirul Anam)

Pos terkait