Indramayu, KPonline-Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) ke-66 di Lapangan Tridaya, Indramayu pada Senin (28/9) menjadi hal penting bagi Partai Buruh untuk kembali menyuarakan perjuangan petani, khususnya masyarakat yang belum memiliki lahan pertanian.
Sekretaris Jenderal Partai Buruh, Henry Saragih, dalam pidato politiknya mengatakan bahwa Hari Tani Nasional merupakan salah satu momentum penting bagi Partai Buruh selain peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day setiap 1 Mei.
“Sesungguhnya hari ini adalah hari yang istimewa bagi Partai Buruh di Indramayu, karena hari ini adalah peringatan Hari Tani Nasional yang diselenggarakan oleh Partai Buruh,” ujar Henry dalam kegiatan tersebut.
Henry mengungkapkan, Partai Buruh tidak hanya memperjuangkan kepentingan kelas pekerja, tetapi juga masyarakat adat serta keberlangsungan dan keselamatan lingkungan di Indonesia.
Ia menyebut Indramayu memiliki posisi penting dalam perjuangan tersebut karena menjadi salah satu basis Partai Buruh yang memiliki akar dari kalangan petani. Henry juga menyoroti kondisi petani yang belum memiliki lahan.
“Partai Buruh adalah partainya kelas pekerja, masyarakat adat, dan juga tentang bagaimana menjaga kestabilan serta keselamatan alam Indonesia,” katanya.
Henry mengatakan, Indramayu dikenal sebagai salah satu daerah dengan tanah yang subur dan memiliki peran besar dalam produksi pangan, khususnya beras. Selain itu, Indramayu juga dikenal sebagai salah satu sentra produksi mangga yang hasilnya dipasarkan hingga mancanegara, termasuk ke kawasan Timur Tengah.
Namun, dibalik potensi pertanian tersebut, Henry menilai masih terdapat persoalan kemiskinan dan keterbatasan lapangan pekerjaan. Kondisi itu, menurut dia, turut mendorong sebagian masyarakat Indramayu untuk bekerja sebagai buruh migran di luar negeri.
“Di daerah ini juga masih ada kemiskinan dan banyak pekerjanya yang menjadi buruh migran di luar negeri. Tanah kita di sini tidak cukup sebagai lapangan pekerjaan dan masih ada ketimpangan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Henry juga mengapresiasi sebagian petani di Indramayu yang telah mendapatkan akses terhadap tanah, meskipun menurutnya proses tersebut tidak mudah. Karena itu, peringatan Hari Tani Nasional di Indramayu dinilai menjadi bagian dari perjuangan yang lebih luas untuk memperbaiki kehidupan petani dan masyarakat desa di seluruh Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Henry juga menyinggung perjuangan Partai Buruh bersama serikat petani dan organisasi gerakan reforma agraria dalam mendorong lahirnya kebijakan reforma agraria.
Ia mengatakan, undang-undang terkait reforma agraria telah disahkan pada 22 September 2026, setelah melalui proses pembahasan yang menurutnya berlangsung dalam waktu relatif singkat.
“Melalui peringatan Hari Tani ini, kami mewakili Serikat Petani Indonesia, organisasi gerakan reforma agraria, dan tentunya sebagai Partai Buruh, berharap UU reforma agraria bisa diimplementasikan dengan baik,” kata Henry.
Henry menegaskan, implementasi reforma agraria harus memastikan masyarakat yang belum memiliki tanah dapat memperoleh akses terhadap lahan, sementara masyarakat yang telah memiliki tanah mendapatkan perlindungan atas haknya.
“Yang tidak punya tanah bisa mendapatkan tanah dan yang sudah punya tanah, tanahnya tidak dirampas. Seperti buruh, petani, nelayan, dan masyarakat adat,” tegasnya.