Mendobrak Batas : Cak Meimura Pukau Sidoarjo lewat Ludruk Garingan “Besut Jajah Deso Milangkori”

Mendobrak Batas : Cak Meimura Pukau Sidoarjo lewat Ludruk Garingan “Besut Jajah Deso Milangkori”

Sidoarjo, KPonline – Panggung Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) menjadi saksi bisu sebuah pergelaran seni yang merdeka dan sarat makna pada Jumat malam (10/4). Maestro ludruk asal Surabaya, Cak Meimura, tampil memukau dalam edisi Sidoarjo pentas keliling bertajuk “Besut Jajah Deso Milangkori”.

Berbeda dengan pertunjukan konvensional, Cak Meimura mengusung konsep Ludruk Garingan. Di sini, seni ludruk dipentaskan secara mandiri dan “telanjang” tanpa iringan pengrawit maupun gamelan lengkap. Suara latar hanya bersumber dari bunyi-bunyian gamelan sederhana yang dihasilkan dari mulut, sementara Cak Meimura memerankan tokoh ganda sekaligus menari dengan lincah layaknya seorang dalang.

Bacaan Lainnya

Spontanitas yang Jenius dan Kolaboratif
Konsep cerita yang dibawakan pun tergolong unik karena digali melalui diskusi bersama seniman lokal hanya dua hari menjelang pementasan. Di Sidoarjo, Cak Meimura berkolaborasi dengan dua aktor ludruk kawakan, Cak Robert Bayoned dan Didik Jogoyudo.

Kejutan terjadi saat klimaks cerita, di mana Cak Meimura secara spontan mengajak tiga penonton naik ke panggung. Dialog yang lahir tanpa naskah baku ini menciptakan banyak plot twist. Pendapat penonton yang tidak terduga justru memberikan solusi segar dalam narasi cerita, mengubah pesimisme sang sutradara menjadi senyum kepuasan yang menutup pertunjukan dengan indah.

Melalui tokoh Besut yang diperankannya, Cak Meimura membawa misi besar: menggairahkan kembali seni ludruk agar tidak punah ditelan zaman.
“Pentas ludruk sesungguhnya dapat dilakukan tanpa tergantung pada gedung mewah, panggung megah, grup besar, atau perlengkapan rumit yang selama ini dianggap menjadi penghalang,” tegasnya. Ludruk Garingan adalah bukti bahwa seni kerakyatan ini bisa tetap eksis dengan cara yang lebih genuine dan fleksibel.

Sebelum pentas utama dimulai, suasana telah dihangatkan oleh penampilan berbagai kelompok seni, antara lain:
1. Karawitan Sri Kahuripan asuhan Joko Susilo.
2. Karawitan dan Tari Komunitas Kain dan Kebaya Indonesia (KKI) DPC Sidoarjo pimpinan Drg. Izzatul Aini, S.Perio.
3. Karawitan SNJ pimpinan Titik Purwanti.
4. Tari anak dari Raff Dance.

Malam itu ditutup dengan sarasehan budaya yang menghadirkan Arif Rofiq dan Ribut Wiyoto. Forum diskusi ini melengkapi konsep Besut Jajah Deso Milangkori menjadi sebuah kesatuan seni yang utuh—menunjukkan kerukunan antar-seniman sekaligus memberikan edukasi mendalam bagi penonton.

Inisiatif Cak Meimura ini bagaikan oase di tengah padang pasir bagi ekosistem seni Jawa Timur. Setelah Sidoarjo, perjalanan Besut akan berlanjut ke Jombang (18/4) dan Nganjuk (25/4), disusul kota-kota lain seperti Mojokerto, Kediri, Madiun, Malang, hingga Jember. Sebuah perjalanan panjang untuk memastikan bahwa detak jantung ludruk akan terus berdenyut di tanah kelahirannya.
(Khoirul Anam)

Pos terkait