Semarang, KPonline — Penguatan kapasitas pengurus menjadi bagian penting dalam membangun organisasi yang semakin solid. Hal itu dilakukan Khalimatus Sholekhah, atau yang akrab disapa Kaka, pengurus PUK SPAI FSPMI PT HWI Jepara, dengan mengikuti Organising Training DPP FSPMI yang berlangsung pada 26–27 September 2026 di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Pelatihan tersebut mempertemukan kader dan pengurus FSPMI dari berbagai daerah. Selama dua hari, peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai organising, tetapi juga terlibat dalam diskusi dan praktik yang mendorong peserta memahami bagaimana proses pengorganisasian dapat diterapkan di tingkat PUK.
Bagi Kaka, pelatihan tersebut memberikan pemahaman baru bahwa organising bukan sekadar aktivitas merekrut anggota. Ketika teori dipahami dan diterapkan dalam praktik, terdapat banyak ruang yang dapat dikembangkan untuk memperkuat organisasi.
“Saya tidak menyangka bahwa organising merupakan hal yang sangat menarik apabila kita memahami teorinya. Banyak hal yang bisa kita lakukan dan rencana yang bisa kita susun, namun tetap kami perlu kerja sama tim untuk mencapai tujuan bersama,” ujar Kaka.
Menurutnya, pemahaman terhadap teori organising menjadi bekal penting bagi pengurus untuk menyusun langkah secara lebih terarah. Namun, pengetahuan tersebut tidak akan berjalan tanpa adanya kerja bersama di dalam organisasi.
Sebuah rencana organising membutuhkan keterlibatan tim, mulai dari menyusun strategi, membangun komunikasi, melakukan pendekatan kepada pekerja, hingga memastikan proses tersebut terus berjalan.
Lebih dari sekadar mendapatkan pengetahuan baru, mengikuti Organising Training juga menjadi kesempatan bagi Kaka untuk melihat kembali kondisi organisasi di tingkat PUK.
Ia menyadari masih terdapat ruang yang perlu diperbaiki dan dikembangkan agar PUK SPAI FSPMI PT HWI Jepara dapat tumbuh menjadi organisasi yang semakin kuat.
“Pelatihan ini dapat menjadi refleksi untuk PUK saya di perusahaan untuk terus tumbuh, karena saat ini masih banyak yang perlu kami perbaiki dan kami tingkatkan untuk menguatkan kapasitas kami,” tambahnya.
Bagi Kaka, pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti pada dirinya sebagai peserta. Pengalaman, materi, serta praktik organising yang didapat menjadi bekal untuk dibawa kembali ke PUK dan dikembangkan bersama pengurus maupun anggota.
Dengan demikian, pendidikan organising memiliki arti yang lebih luas. Bukan hanya mengenai bagaimana mendapatkan anggota baru, tetapi juga bagaimana organisasi mampu membaca kondisi internal, menemukan persoalan, menyusun strategi, dan membangun kekuatan secara bersama-sama.
Pengalaman yang diperoleh Kaka juga menegaskan pentingnya kerja tim dalam proses organising. Pengorganisasian tidak dapat bergantung pada satu orang, melainkan membutuhkan pembagian peran dan keterlibatan banyak pihak.
Pengurus yang memiliki pemahaman organising dapat menjadi penggerak untuk membangun pengetahuan bersama di tingkat PUK. Dengan cara tersebut, kapasitas individu dapat berkembang menjadi kapasitas kolektif organisasi.
Bagi PUK SPAI FSPMI PT HWI Jepara, keikutsertaan Kaka dalam Organising Training DPP FSPMI menjadi bagian dari proses memperkuat fondasi organisasi. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata untuk melakukan evaluasi, memperluas ruang pengorganisasian, dan mendorong PUK terus tumbuh bersama anggotanya. (panji)