Ketika Lembur Menjadi Candu

Ketika Lembur Menjadi Candu

Awalnya, lembur hanya tamu sementara. Datang ketika tenggat mengancam, lalu pergi setelah tugas beres. Namun seperti tamu yang terlalu sering diundang, lembur akhirnya merasa berhak tinggal. Kantor yang seharusnya tutup pukul lima sore berubah menjadi rumah kedua hingga larut malam. Lampu menyala terang, AC dingin menusuk tulang, dan kopi instan naik pangkat menjadi penopang hidup. Sungguh suasana yang layak diromantisasi di poster motivasi.

Namun jangan buru-buru mengira lembur adalah hak istimewa pekerja kantoran. Di pabrik, lembur sudah lama menjadi kewajiban tak tertulis. Shift pagi selesai, tubuh belum pulih, mesin sudah memanggil lagi. Pilihannya sederhana dan kejam. Lembur atau target tidak tercapai. Target gagal, bonus lenyap. Bonus lenyap, gaji terancam. Bos menyebutnya strategi bertahan di pasar global. Buruh menyebutnya capek, meski jarang ada yang benar-benar mendengar.

Bacaan Lainnya

Lembur lalu dipoles sebagai simbol dedikasi. Kerja keras. Loyalitas. Pengorbanan. Kata-kata besar yang terdengar gagah di ruang rapat. Padahal isinya sering kali remeh. Dedikasi yang mengharuskan seseorang pulang ketika anak sudah tidur. Loyalitas yang menuntut tubuh tetap bekerja saat tenaga habis. Pengorbanan demi atasan yang sudah lama tiba di rumah dan membuka Netflix. Semua sepakat ini normal, karena disebut budaya kerja.

Bagi buruh, lembur bukan soal pilihan hidup, melainkan soal bertahan hidup. Pulang tepat waktu berarti gaji pas-pasan. Cukup makan, tidak cukup harapan. Lembur berarti ada tambahan untuk sekolah anak, cicilan motor, atau sekadar menunda lapar minggu depan. Tubuh boleh protes. Pinggang pegal, mata perih, kepala berat. Namun dompet yang tipis selalu lebih dulu memenangkan perdebatan. Lembur pun diambil, bukan karena ingin, melainkan karena perlu.

Anehnya, candu lembur juga menjangkiti pekerja kantor. Awalnya karena terpaksa. Proyek mendadak, revisi tidak masuk akal, pesan singkat dari atasan di luar jam kerja. Lama-lama, pulang tepat waktu terasa mencurigakan. Kantor masih terang, meja masih ada, mengapa harus pulang? Maka dicari-cari alasan untuk bertahan. Membuka email lama, merapikan file yang tak pernah diminta rapi, atau sekadar duduk menatap layar sambil berharap terlihat penting. Candu, tetapi dibungkus profesionalisme.

Dalihnya selalu sama. Lembur membuat diri merasa produktif. Di rumah hanya buang waktu. Di kantor, setidaknya waktu terasa sah untuk dihabiskan. Padahal produktivitas tidak pernah ditentukan oleh lamanya duduk, melainkan oleh kemampuan bekerja dengan waras. Namun budaya kerja keras lebih menyukai angka jam daripada hasil nyata. Delapan jam dianggap tidak cukup, sepuluh jam mulai dipuji, dua belas jam dipuja.

Uang lembur kemudian hadir sebagai pembenaran moral. Tambahan penghasilan dianggap kompensasi yang adil. Pekerja kantor bisa membeli gawai baru atau liburan singkat. Buruh pabrik bisa menutup kebutuhan dasar yang seharusnya sudah dipenuhi tanpa harus mengorbankan kesehatan. Tubuh lelah, mata menghitam, risiko penyakit meningkat, semua ditebus dengan angka yang habis sebelum tubuh sempat pulih. Transaksi yang terasa sah, meski jelas timpang.

Yang paling menghibur sekaligus menyedihkan adalah kebanggaan kolektif. Cerita lembur sampai dini hari diperlakukan seperti prestasi. Siapa paling pulang malam, dia paling berdedikasi. Padahal di banyak tempat lain, lembur berlebihan justru menandakan kegagalan manajemen. Perencanaan buruk, distribusi kerja berantakan, dan pemimpin yang tidak tahu batas. Di sini, semua itu disebut pengorbanan.

Sudah saatnya lembur berhenti diperlakukan sebagai kebajikan. Pulang tepat waktu bukan tanda malas, melainkan tanda sehat. Kantor bukan rumah. Pabrik bukan tempat tinggal. Bos bukan keluarga. Jika lembur sudah menjadi kewajiban harian atau bahkan candu, mungkin yang perlu diperbaiki bukan jam kerjanya, melainkan sistemnya.

Lembur sesekali mungkin tak terhindarkan. Namun ketika lembur dijadikan standar, ada yang jelas salah. Hidup tidak seharusnya dihabiskan demi tenggat, mesin, dan kopi pahit. Apalagi jika yang dikorbankan adalah tubuh sendiri, sementara keuntungan terus mengalir ke atas dengan tenang dan tepat waktu.

Pos terkait