Di sebuah negeri yang jauh, ada seorang panglima perang yang terkenal dengan keberanian dan kecerdasannya. Dia telah memimpin banyak peperangan dan tidak pernah kalah. Namun, suatu hari, pimpinan tertinggi negara memutuskan untuk menurunkan jabatannya.
Panglima tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kekecewaan atau kemarahan. Beliau hanya tersenyum dan berkata, “Saya berperang untuk negara, bukan untuk pimpinan tertinggi negara.” Katanya tegas
Kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Dalam organisasi serikat pekerja, kita harus memiliki kesetiaan yang sama. Kita berjuang untuk kesejahteraan anggota, bukan untuk pimpinan serikat pekerja. Kita bergerak untuk kemajuan serikat pekerja, bukan untuk kepentingan pribadi.
Serikat pekerja akan tetap ada, dengan ada atau tidak adanya kita di dalamnya. Yang penting adalah kita telah melakukan yang terbaik untuk anggota dan organisasi. Karena hanya melalui serikat pekerja, kesejahteraan itu bisa dicapai dan diperjuangkan.
Panglima tersebut kemudian memutuskan untuk kembali ke desanya dan menjadi petani. Beliau tidak pernah lagi memikirkan tentang jabatan atau kekuasaan. Yang penting baginya adalah dapat melayani masyarakat dan memberikan kontribusi untuk negara.
Suatu hari, pimpinan tertinggi negara mengundangnya untuk menghadiri sebuah upacara kenegaraan. Panglima tersebut datang dengan pakaian sederhana dan duduk di antara rakyat biasa. Pimpinan tertinggi negara melihatnya dan tersenyum, “Kamu adalah contoh kesetiaan dan keberanian yang sebenarnya,” katanya.
Panglima tersebut hanya tersenyum dan berkata, “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan.”
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa kesetiaan dan keberanian tidak harus diukur dengan jabatan atau kekuasaan, tapi dengan tindakan dan niat yang tulus. Mari kita terus berjuang dengan kesetiaan dan dedikasi, tanpa mengharapkan pujian atau jabatan. Karena pada akhirnya, yang terpenting adalah kita telah melakukan yang terbaik untuk orang lain. (Yanto)