Jangankan Berfikir, Bermimpi Pun Tidak

Jangankan Berfikir, Bermimpi Pun Tidak

(Sajak tentang perjuangan, pena, dan mimpi yang tumbuh di FSPMI)

Oleh : Ardi Wiranata

Dulu, menulis terasa begitu jauh, mimpi menjadi penulis pun terasa rapuh. Jangankan berpikir namaku hadir di media, bermimpi saja, aku tak berani memulainya.

Aku hanyalah buruh dengan peluh di badan, menukar waktu demi sesuap kehidupan. Tak pernah terbayang kata-kata menjadi karya, apalagi menyuarakan kebenaran lewat pena.

Namun, di sini… di rumah perjuangan bernama FSPMI, aku belajar mengenali diri, menemukan keberanian yang lama tersembunyi.

Dari tangan yang kaku menggenggam pena, lahirlah kata, tersusun menjadi makna. Dari hati yang dahulu dipenuhi keraguan, tumbuh tekad untuk menyuarakan kebenaran.

Ternyata, menulis bukan soal siapa paling hebat, bukan pula tentang bakat yang melekat. Ia tumbuh dari kemauan untuk belajar, dari keberanian mencoba, meski berkali-kali harus mengejar.

Kini, pena bukan sekadar alat menulis, ia menjadi suara yang tak boleh terkikis. Kata-kata bukan sekadar rangkaian berita, ia menjadi saksi perjuangan kaum pekerja.

Sebab perjuangan tak hanya di jalanan, tak hanya dalam kepalan tangan dan teriakan. Ada perjuangan dalam setiap huruf yang dituliskan, ada perlawanan dalam fakta yang disuarakan.

Terima kasih, FSPMI… Kau bukan sekadar tempat kami berdiri, bukan sekadar wadah untuk berjuang dan berorganisasi. Di sini, kami belajar melampaui batas diri, menemukan potensi yang tak pernah kami sadari.

Dulu, jangankan berpikir, bermimpi pun tidak. Kini, pena di tangan mulai merajut asa. Yang dahulu diam, kini berani bicara. Yang dahulu ragu, kini mulai berkarya.

Kami sadar, perjalanan masih panjang, masih banyak ilmu yang harus diperjuangkan. Namun, selama kemauan tak pernah padam, kami akan terus menulis, meski langkah tertatih dan malam kian kelam.

Sebab setiap buruh punya cerita, setiap perjuangan punya makna, dan setiap suara layak didengar dunia.

FSPMI, terima kasih telah membuka jalan. Dari ruang perjuangan, kami belajar menuliskan harapan. Dari tangan buruh yang terbiasa bekerja, kini lahir pena yang ikut menjaga suara.

Dan jika suatu hari tulisan kami dibaca zaman, biarlah ia menjadi jejak sebuah perjalanan: bahwa pernah ada buruh yang tak berani bermimpi, lalu belajar menulis, hingga berani menginspirasi.

Sebab mimpi tak selalu lahir dari mereka yang punya segalanya. Terkadang, mimpi tumbuh dari tangan-tangan pekerja, dari peluh yang jatuh di antara kerasnya dunia, dan dari sebuah organisasi yang mengajarkan kita bahwa kita pun mampu berkarya.

Jangankan berpikir, bermimpi pun tidak… Kini, kami punya pena, kami punya suara. Dan selama kebenaran masih harus dibela, kami akan terus menulis, agar suara buruh tak pernah tenggelam ditelan masa.