Oleh : Yanto
Ada asap yang menyelimuti Indonesia. Udara terasa sesak, pandangan mengabur, dan langit seolah kehilangan warna birunya. Di balik asap yang mengepul, ada sesuatu yang lebih pekat daripada sekadar sisa pembakaran: keserakahan manusia yang tak pernah mengenal kata cukup.
Jangan buru-buru menyalahkan api. Api hanyalah api. Ia membakar ketika ada yang menyalakan, menjalar ketika ada yang membiarkan, dan meninggalkan kehancuran ketika tak ada yang peduli untuk menghentikannya.
Lalu, siapa yang harus disalahkan? Mereka yang dengan sengaja membakar demi keuntungan? Mereka yang mengetahui kerusakan, tetapi memilih diam? Atau mereka yang memiliki kuasa untuk mencegahnya, tetapi justru membiarkan semuanya terjadi?
Sebab di balik asap yang menyelimuti negeri ini, ada kehidupan yang dipertaruhkan. Ada anak-anak yang membutuhkan udara bersih untuk bernapas. Ada orang tua yang tubuhnya semakin rentan. Ada petani yang kehilangan harapan, dan ada buruh yang tetap harus berangkat bekerja, meski udara yang dihirupnya tak lagi ramah bagi kesehatan.
Mereka tidak menyalakan api. Mereka tidak meminta langit menjadi kelabu. Mereka hanya ingin hidup dengan layak, menghirup udara bersih, dan pulang ke rumah tanpa harus membawa ancaman penyakit bagi keluarganya.
Namun, sering kali mereka pula yang harus menanggung akibat dari keputusan orang lain.
Sementara itu, di tempat yang jauh dari kepulan asap, mungkin ada yang tetap menghitung keuntungan. Ada yang sibuk menghitung hasil, tetapi lupa menghitung kerusakan. Ada yang pandai berbicara tentang pembangunan, tetapi lupa bahwa pembangunan seharusnya membuat kehidupan menjadi lebih baik, bukan menjadikan manusia sebagai korban dari keserakahan.
Betapa ironisnya, negeri yang dianugerahi hutan luas, tanah subur, dan kekayaan alam yang melimpah justru harus berhadapan dengan ancaman asap yang merampas kenyamanan hidup rakyatnya.
Kita sering berbicara tentang kemajuan, tetapi apakah kemajuan layak dirayakan jika udara bersih menjadi barang mahal? Apakah kekayaan pantas dibanggakan jika sebagian orang harus mengorbankan kesehatan demi keuntungan segelintir pihak?
Apa gunanya kekayaan alam jika manusia kehilangan hak untuk menghirup udara yang sehat?
Apa artinya pembangunan jika keselamatan rakyat hanya menjadi catatan kecil di tengah besarnya angka keuntungan?
Dan apa arti kekuasaan jika ia tak mampu melindungi kehidupan?
Asap mungkin akan hilang ketika angin berubah arah atau hujan turun membasahi bumi. Langit mungkin kembali biru. Namun, hilangnya asap bukan berarti persoalan selesai. Hutan yang rusak membutuhkan waktu untuk pulih. Kesehatan yang terganggu tidak selalu kembali seperti semula. Dan kepercayaan rakyat tidak mudah tumbuh kembali ketika berkali-kali dikhianati oleh kelalaian.
Karena itu, jangan biarkan persoalan ini berhenti pada keluhan tentang udara yang sesak. Jangan pula membiarkan tanggung jawab menguap bersama asap yang perlahan menghilang.
Yang diperlukan bukan sekadar penyesalan, melainkan keberanian untuk mengungkap penyebab, menindak pihak yang terbukti bertanggung jawab, memperbaiki kerusakan, dan memastikan tragedi serupa tidak terus berulang.
Sebab alam tidak pernah meminta banyak. Hutan hanya perlu dijaga. Udara hanya perlu dipelihara. Dan manusia hanya perlu memiliki hati untuk memahami bahwa kehidupan tidak boleh dikorbankan demi keserakahan.
Barangkali persoalan terbesar kita bukan karena negeri ini kekurangan kekayaan, melainkan karena sebagian manusia terlalu rakus untuk berbagi ruang hidup dengan sesamanya.
Mereka ingin menguasai tanahnya, mengambil hasilnya, menikmati keuntungannya, tetapi menyerahkan asap, kerusakan, dan penderitaan kepada orang lain.
Di situlah nurani seharusnya berbicara. Sebab mencintai Indonesia bukan hanya soal mengibarkan bendera dan meneriakkan kebanggaan terhadap tanah air. Mencintai Indonesia juga berarti menjaga hutan, melindungi kehidupan, menghormati hak rakyat atas lingkungan yang sehat, dan berani melawan keserakahan yang merusak masa depan bersama.