Dibuang di Ambang Pensiun

Empat puluh tahun keringat tercurah,
pagi gelap hingga senja redup di pabrik China.
Tangan kasar membangun mesin-mesin raksasa,
loyalitasnya tak pernah goyah,
namun saat hari pensiun tiba,
hanya surat pendek dan jabat tangan dingin.

Tak ada tabungan tebal, tak ada pesangon layak,
dompet kosong, rumah kecil semakin reyot.
Perusahaan yang dulu ia junjung seperti keluarga,
kini membalikkan punggung,
seolah ia barang bekas yang tak lagi berguna,
dibuang begitu saja ke pinggir jalan waktu.

Ia duduk sendirian di teras bambu rapuh,
memandang jalan sepi yang dulu ramai anak-anak.
Mata keruh penuh pertanyaan tak terjawab:
“Apakah ini balasan atas pengorbanan?”
Anak-anak jauh di kota, sibuk dengan hidup sendiri,
telepon jarang berbunyi.Hanya angin sore yang menemani,
dan secangkir kopi pahit tanpa gula.

Di hatinya, luka yang tak berdarah,
rasa dikhianati oleh dunia yang ia bangun.
Pensiun baginya bukan kedamaian,
melainkan kesunyian yang menusuk,
seperti dibuang hidup-hidup
oleh tangan yang dulu ia genggam erat.