Batam,KPonline -Di tengah geliat industri dan padatnya aktivitas kerja, Kota Batam menghadapi persoalan sosial yang semakin terasa di lingkungan pekerja. Meningkatnya angka perceraian dalam beberapa tahun terakhir menjadi cermin tekanan hidup yang dihadapi banyak keluarga muda, terutama di kalangan buruh dan pekerja sektor industri yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah ini.
Perhatian Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, terhadap tren perceraian yang terus meningkat menjadi sorotan penting. Berdasarkan data tahun 2024, persentase perceraian di Batam mencapai 6,32 persen, tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau. Berdasarkan catatan Pengadilan Agama Batam, sepanjang tahun 2024 tercatat sebanyak ±2.031 kasus perceraian yang diputuskan, dengan mayoritas perceraian diajukan oleh istri dan faktor ekonomi menjadi penyebab dominan di balik perceraian tersebut
Angka tersebut melampaui daerah lain seperti Tanjungpinang dan Kepulauan Anambas, sekaligus menandai bahwa persoalan ketahanan keluarga di Batam membutuhkan perhatian serius. Hal tersebut ditegaskan Amsakar saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Kota Batam Masa Bhakti 2025-2030 di Kantor Wali Kota Batam, Senin (29/12/2025).
Di balik angka-angka tersebut, terdapat realitas kehidupan pekerja yang tidak selalu mudah. Jam kerja panjang, target produksi tinggi, ketidakpastian kerja, serta biaya hidup yang terus meningkat menjadi tekanan tersendiri bagi keluarga muda. Banyak pasangan pekerja yang harus mengatur pengeluaran dengan sangat ketat demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, cicilan tempat tinggal, hingga biaya pendidikan anak.
“Kalau pulang kerja badan capek, pikiran juga capek. Begitu sampai rumah, yang dipikirkan masih soal uang,” ujar Andi, seorang buruh elektronik di kawasan industri Batamindo. Menurutnya, masalah ekonomi sering menjadi pemicu awal pertengkaran rumah tangga, terutama bagi pasangan muda yang baru membangun keluarga.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Budi Dermawan, mengungkapkan bahwa meskipun angka perceraian meningkat, jumlah pernikahan di Batam juga sangat tinggi, mencapai sekitar 26 ribu per tahun. Namun ia menegaskan bahwa persoalan ekonomi masih menjadi penyebab dominan perceraian, disusul Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan perselingkuhan. Dalam beberapa tahun terakhir, judi online turut muncul sebagai faktor baru yang memperparah kondisi ekonomi keluarga.
Fenomena judi online dan pinjaman online kini semakin dekat dengan kehidupan pekerja. Akses yang mudah melalui ponsel membuat sebagian pekerja tergoda untuk mencoba, baik sekadar hiburan maupun sebagai jalan pintas untuk mendapatkan uang tambahan. Namun, tidak sedikit yang akhirnya terjerat kerugian, utang, dan tekanan mental.
“Saya pernah lihat teman kerja yang awalnya cuma main kecil-kecilan. Lama-lama gajinya habis buat judi online, rumah tangga hancur,” tutur Rina, buruh perempuan di kawasan Mukakuning. Ia menilai judi online tidak hanya merusak keuangan, tetapi juga kepercayaan antara suami dan istri.
Hal serupa terjadi pada pinjaman online, khususnya yang ilegal. Pinjol sering dianggap solusi cepat saat kebutuhan mendesak, namun bunga tinggi dan cara penagihan yang menekan justru membuat keluarga semakin terpuruk. Banyak keluarga muda pekerja yang akhirnya terjebak dalam lingkaran utang dan konflik rumah tangga berkepanjangan.
Menanggapi kondisi tersebut, kalangan serikat pekerja di Batam menilai bahwa ketahanan keluarga tidak bisa dilepaskan dari ketahanan ekonomi pekerja. Namun di sisi lain, mereka juga mengajak sesama pekerja untuk lebih waspada terhadap godaan judi online dan pinjaman online yang berisiko.
“Kerja kita sudah berat. Jangan ditambah dengan masalah karena judi online atau utang pinjol. Itu bukan solusi, tapi jebakan,” ujar seorang pengurus serikat buruh Batam.
Upaya pemerintah melalui BP4 dan Kementerian Agama Batam yang fokus pada edukasi ketahanan keluarga sejak usia remaja dinilai sebagai langkah positif. Usulan pembentukan Peraturan Daerah Ketahanan Keluarga juga diharapkan dapat menjadi payung hukum yang memperkuat pembinaan keluarga di Batam. Namun, pekerja berharap kebijakan tersebut menyentuh realitas lapangan dan memberikan ruang edukasi finansial bagi keluarga muda.
Di tengah kerasnya kehidupan kota industri, para pekerja di Batam diingatkan kembali pada satu hal mendasar: keluarga adalah tempat pulang dan sumber kekuatan. Menjauhi judi online dan lebih bijak menyikapi pinjaman online bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal menjaga keutuhan rumah tangga dan masa depan anak-anak