Bekasi, KPonline – Media Perdjoeangan Bekasi menggelar Pelatihan Dasar Jurnalistik yang salah satu materinya adalah pentingnya pengetahuan tentang propaganda dan cyber di kalangan buruh pada Minggu, 18 Oktober 2026, di Gedung Konsulat Cabang (KC) FSPMI Tambun Selatan, Kab. Bekasi.
Kegiatan yang diikuti 52 perwakilan Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPA FSPMI) se-Kabupaten/Kota Bekasi, dari empat pemateri salah satu pemateri adalah Mohamat Indrayana, SH. yang membawakan materi Cyber dan Propaganda.
Dalam materinya, Mohamat Indrayana menjelaskan bahwa ruang cyber kini menjadi bagian penting dari perjuangan buruh. Penyebaran berita bohong (hoaks), propaganda yang menyesatkan, dan pembentukan opini publik yang merugikan serikat pekerja menjadi tantangan yang perlu dihadapi dengan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman teknologi.
“Perjuangan buruh hari ini tidak lagi hanya terbatas pada aksi turun ke jalan atau perundingan di meja bipartit. Ruang cyber adalah garis depan yang baru. Jika kita tidak melek teknologi dan tidak memahami bagaimana propaganda dimainkan, kita akan dengan mudah dipatahkan oleh narasi-narasi yang merugikan buruh,” ungkap Mohamad Indrayana.
Peserta juga mendapatkan pemahaman dasar tentang keamanan cyber, termasuk pentingnya melindungi data pribadi dan informasi organisasi dari peretasan maupun doxing, yaitu penyebaran informasi pribadi tanpa izin yang dapat membahayakan aktivis pergerakan.
Selain bertujuan meningkatkan literasi digital kaum buruh agar mampu menghadapi tantangan informasi di era media sosial, melalui pelatihan ini Media Perdjoeangan Bekasi mendorong kaum buruh untuk tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga aktif menyebarkan berita yang akurat dan membangun narasi positif mengenai perjuangan, hak, serta kesejahteraan pekerja
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 17.00 WIB tersebut ditutup dengan komitmen peserta untuk meningkatkan kemampuan digital dan memperkuat solidaritas organisasi, baik di dunia nyata maupun di ruang siber.
Dengan literasi digital yang lebih baik, buruh diharapkan mampu menangkal informasi menyesatkan, menjaga keamanan organisasi, serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana advokasi untuk memperjuangkan hak-hak pekerja.