Akhir Kongres V, Said Iqbal Singgung Politik Kerakyatan dan Perjuangan Buruh

Akhir Kongres V, Said Iqbal Singgung Politik Kerakyatan dan Perjuangan Buruh

Jakarta, KPonline-Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menyampaikan sejumlah pesan penting terkait arah perjuangan politik Partai Buruh dalam pidato penutupan Kongres V Partai Buruh yang digelar di Golden Boutique Hotel, Jakarta pada Kamis (22/1/2026).

Dalam pidato politiknya, Said Iqbal menegaskan bahwa Partai Buruh harus tetap konsisten berada di jalur politik kerakyatan, dengan menjadikan isu buruh, rakyat kecil, dan kelompok rentan sebagai agenda utama perjuangan politik ke depan.

Menurut Said Iqbal, persoalan upah layak, jaminan sosial, kepastian kerja, dan perlindungan tenaga kerja masih menjadi masalah mendasar yang dihadapi jutaan buruh di Indonesia. Oleh karena itu, Partai Buruh tidak boleh bergeser dari mandat sejarahnya sebagai alat perjuangan kaum pekerja.

“Isu buruh bukan hanya soal upah, tapi juga soal masa depan, soal jaminan sosial, dan soal perlindungan kerja yang adil,” tegas Said Iqbal.

Said Iqbal secara khusus juga menyinggung praktik outsourcing dan sistem kerja tidak pasti yang dinilainya semakin memperlemah posisi buruh. Ia menegaskan perlunya negara hadir untuk memperkuat perlindungan kerja dan mengakhiri praktik yang merugikan pekerja.

Selain itu, ia juga menyoroti kondisi kerja di sektor-sektor khusus seperti pelaut, pekerja sektor jasa, dan pelayan, yang hingga kini masih minim perlindungan hukum dan kesejahteraan.

Tak hanya isu ketenagakerjaan, Said Iqbal menegaskan bahwa reforma agraria dan isu lingkungan harus menjadi bagian penting dari agenda politik Partai Buruh. Menurutnya, persoalan lingkungan memiliki irisan langsung dengan kehidupan rakyat, terutama masyarakat di daerah dan wilayah Indonesia Timur.

“Kalau kita bicara lingkungan, maka kita sedang bicara tentang rakyat. Di situlah Partai Buruh harus hadir,” ujarnya.

Ia menilai isu lingkungan juga sangat relevan bagi generasi muda, sehingga dapat menjadi pintu masuk Partai Buruh untuk memperluas basis dukungan politik.

Tak hanya itu, Said Iqbal pun menekankan pentingnya media sosial sebagai alat perjuangan politik. Berdasarkan berbagai data dan riset, ia menyebutkan bahwa lebih dari 185 juta penduduk Indonesia aktif di internet, sehingga ruang digital harus dimanfaatkan secara maksimal.
Selain itu, Said Iqbal menegaskan bahwa Partai Buruh tidak ingin terjebak dalam politik elitis atau pencitraan semata. Ia mendorong seluruh kader dan simpatisan untuk menggerakkan partisipasi rakyat secara luas, baik di lapangan maupun di ruang digital.

Singkatnya, Said Iqbal mengajak seluruh elemen Partai Buruh untuk tidak menganggap Kongres V sebagai akhir perjuangan, melainkan sebagai awal konsolidasi besar menuju penguatan partai dan perjuangan rakyat.

“Jangan berpikir ini sudah berakhir. Justru di sinilah perjuangan kita dimulai kembali,” pungkasnya.