19 Tahun Media Perdjoeangan: Bertahan, Berisik, dan Tetap di Barisan Buruh

19 Tahun Media Perdjoeangan: Bertahan, Berisik, dan Tetap di Barisan Buruh

Sembilan belas tahun itu umur yang nanggung. Dibilang muda, sudah kenyang pengalaman. Dibilang tua, masih labil. Tapi untuk ukuran media alternatif yang lahir dari rahim gerakan buruh, 19 tahun itu bukan sekadar angka. Itu napas panjang yang berhasil dipertahankan di tengah badai.

Media Perdjoeangan tidak lahir dari ruang redaksi mewah dengan kopi artisan dan investor yang siap bakar uang. Ia lahir dari rapat-rapat serikat, dari diskusi panas soal upah, dari selebaran yang dulu difotokopi seadanya. Ia tumbuh bukan karena algoritma, tapi karena kebutuhan. Kebutuhan untuk didengar.

Di negeri ini, suara buruh sering cuma jadi figuran. Muncul saat demo bikin macet, hilang saat rapat penentuan kebijakan. Ketika upah diperdebatkan, yang bicara panjang lebar biasanya pengusaha dan pejabat. Buruhnya sendiri cuma dikutip dua baris. Selebihnya ya sudah, tenggelam.

Di situlah Media Perdjoeangan mengambil peran. Bukan jadi media netral yang berdiri di tengah sambil pura-pura tak punya sikap. Tapi jelas berpihak. Berpihak pada pekerja. Dan itu pilihan yang tidak selalu nyaman.

Karena mari kita jujur saja. Mengelola media buruh itu tidak romantis. SDM terbatas. Kadang satu orang merangkap reporter, editor, fotografer, sekaligus admin yang begadang upload berita. Dana juga bukan tipe yang tinggal gesek kartu. Server bisa tumbang kapan saja. Semangat bisa naik turun tergantung situasi organisasi dan kondisi lapangan.

Sembilan belas tahun perjalanan Media Perdjoeangan pasti penuh pasang surut. Ada masa ketika beritanya jadi rujukan. Ada masa ketika pembacanya ramai. Ada juga masa ketika yang bertahan cuma orang-orang yang keras kepala percaya bahwa tulisan adalah bagian dari perjuangan.

Kadang yang paling berat bukan serangan dari luar, tapi gesekan di dalam. Kritik internal. Perbedaan pandangan. Ego yang bertabrakan. Apalagi di tengah hiruk pikuk organisasi buruh yang dinamis, penuh strategi, penuh kepentingan, dan kadang penuh drama. Di situ godaannya besar sekali. Godaan untuk ikut terseret arus. Godaan untuk kehilangan arah. Bahkan godaan untuk lelah dan akhirnya menyerah.

Semoga itu tidak terjadi. Semoga Media Perdjoeangan tetap ingat alasan awal ia berdiri. Bukan untuk jadi alat saling serang, bukan untuk jadi panggung ego, tapi untuk menyuarakan yang sering tak terdengar. Tetap kritis, bahkan kepada rumahnya sendiri. Tetap berani, tanpa harus kehilangan akal sehat.

Yang menarik, di era ketika semua orang bisa jadi media lewat satu akun media sosial, Media Perdjoeangan masih memilih jadi rumah bersama. Rumah yang mungkin atapnya bocor sedikit, temboknya belum dicat ulang, tapi pintunya tetap terbuka untuk suara buruh dari berbagai sudut.

Apakah ia sudah sempurna. Jelas belum. Apakah ia selalu tajam. Kadang iya, kadang tumpul. Apakah ia bebas dari kekurangan. Jauh dari itu. Tapi bertahan 19 tahun dalam ekosistem media yang makin brutal itu sendiri sudah jadi pernyataan sikap.

Selama masih ada upah yang diperdebatkan, selama masih ada PHK sepihak, selama masih ada pekerja yang merasa suaranya lebih sering dipotong daripada didengar, media seperti ini tidak akan kehilangan relevansi.

Usia 19 itu fase mencari jati diri yang lebih matang. Bukan lagi sekadar semangat, tapi juga strategi. Bukan cuma keras, tapi juga cerdas. Bukan hanya reaktif, tapi reflektif.

Hari ini, yang paling layak dirayakan bukan sekadar umur medianya, tapi orang-orang di belakangnya. Mereka yang menulis tanpa dibayar layak. Mereka yang meliput aksi dengan ongkos pribadi. Mereka yang tetap kirim berita meski sinyal dan tenaga sama-sama sekarat.

Selamat merayakan hari ini untuk seluruh anggota Media Perdjoeangan di manapun berada. Yang masih aktif di lapangan, yang sibuk di balik layar, yang mungkin jarang terlihat tapi tetap setia menjaga api kecil ini tetap menyala. Tanpa kalian, media ini cuma nama.

Apresiasi setinggi-tingginya untuk semua yang sudah membersamai perjalanan 19 tahun ini. Dan dengan penuh hormat, kita juga menundukkan kepala untuk anggota-anggota yang telah lebih dulu berpulang. Jejak mereka tidak ikut hilang. Semangatnya tetap tinggal, menyatu dalam setiap berita yang ditulis, setiap suara buruh yang diperjuangkan.

Media Perdjoeangan mungkin tidak pernah bercita-cita jadi raksasa media. Tapi ia sudah membuktikan satu hal penting. Suara yang dianggap kecil pun bisa bertahan lama, asal ada yang terus merawatnya.

Dan selama masih ada yang percaya bahwa tulisan adalah bagian dari perjuangan, usia hanyalah angka. Yang utama adalah nyala yang tidak padam.