Upah Minimum: Batas Negara, Bukan Batas Kesejahteraan kaum Buruh

Upah Minimum: Batas Negara, Bukan Batas Kesejahteraan kaum Buruh

Medan,KPonline, – Buruh tidak seluruhnya mengetahui bahwa Upah minimum adalah penetapan negara tentang batas paling rendah yang boleh dibayarkan kepada buruh dan bukan standar hidup layak,

Bukan pula ukuran kesejahteraan.Namun dalam praktiknya, upah minimum justru diperlakukan seolah-olah itulah puncak keadilan sosial bagi kaum buruh.

Negara menetapkan upah minimum bukan untuk membuat buruh sejahtera, melainkan hanya untuk mencegah bentuk eksploitasi paling kasar. Artinya jelas, upah minimum adalah pagar bawah, bukan tangga menuju kehidupan yang bermartabat.

Ketika buruh dipaksa bertahan hidup hanya dari upah minimum, yang terjadi bukan keadilan sosial, melainkan kemiskinan yang dilegalkan oleh kebijakan.

Ironisnya, banyak pengusaha menjadikan upah minimum sebagai upah maksimum. Tak peduli produktivitas meningkat, target kerja bertambah, lembur menumpuk, atau keuntungan perusahaan melonjak,upah buruh tetap dikunci pada angka minimum.

Di sinilah wajah ketimpangan terlihat telanjang, buruh dipaksa bekerja maksimal, tetapi dihargai secara minimal.

Lebih menyakitkan lagi, negara kerap memilih berdiri sebagai penonton. Alih-alih mendorong peningkatan kesejahteraan, kebijakan pengupahan justru tunduk pada logika investasi, pertumbuhan ekonomi semu, dan stabilitas pasar, bukan pada kebutuhan riil buruh.

Padahal buruh bukan angka statistik. Buruh adalah manusia, dengan keluarga, kebutuhan hidup yang terus naik, pendidikan anak, kesehatan, dan masa depan yang tidak bisa ditunda.

Jika upah minimum terus diposisikan sebagai batas kesejahteraan, maka kemiskinan struktural akan terus diwariskan dari generasi ke generasi, dilegalkan oleh hukum, dan dipoles dengan istilah “kebijakan”.

Buruh tidak membutuhkan belas kasihan. Yang dibutuhkannya adalah keadilan. Dan keadilan hanya mungkin terwujud jika upah dipandang sebagai alat untuk hidup layak, bukan sekadar alat untuk bertahan hidup.

Maka kesadaran harus dibangun: Upah minimum bukan tujuan perjuangan, melainkan titik awalnya.

Kesejahteraan tidak lahir dari angka minimum, melainkan dari keberanian melawan ketimpangan yang dilembagakan.

Karena buruh tidak diciptakan untuk hidup pas-pasan, melainkan untuk hidup bermartabat.

Buruh tidak melarang pengusaha dan penguasa menjadi kaya raya.Namun kekayaan itu tidak boleh dibangun di atas upah murah dan kehidupan buruh yang dimiskinkan. (Anto Bangun)