Upah Layak Tak Hanya Dipertaruhkan di Jalanan, Medsos pun Kini Jadi Medan Tempur Baru

Upah Layak Tak Hanya Dipertaruhkan di Jalanan, Medsos pun Kini Jadi Medan Tempur Baru

Purwakarta, KPonline-Pertarungan buruh dalam menuntut upah layak tak lagi hanya berlangsung di jalanan melalui aksi demonstrasi. Medan perlawanan kini melebar ke ruang digital. Media sosial berubah menjadi arena pertempuran baru, tempat narasi, opini, hingga serangan terhadap gerakan buruh saling berhadap-hadapan.

Ketua FSPMI (Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia) Purwakarta, Fuad BM, saat di konfirmasi koran perdjoeangan, Sabtu (3/1) menegaskan bahwa serangan terhadap gerakan buruh di media sosial bukanlah hal kebetulan. Ia menyebut ada pola sistematis berupa komentar-komentar provokatif yang berupaya melemahkan, menyudutkan, bahkan mendiskreditkan perjuangan buruh dalam menuntut upah layak.

“Alhamdulillah, setelah saya mengamati, seluruh FSPMI di semua daerah bersatu melawan para buzzer bayaran yang ingin melemahkan gerakan buruh. Ini kebangkitan perlawanan kita, dan momentumnya sangat tepat,” tegas Fuad.

Menurutnya, serangan di media sosial justru menjadi indikator bahwa perjuangan buruh berada di jalur yang benar. Ketika fakta dan data disampaikan secara terbuka, pihak-pihak yang selama ini nyaman dengan ketimpangan mulai merasa terusik.

“Jangan menyerah. Semakin banyak penjelasan dari kita yang berbasis fakta dan data, mereka justru makin sewot,” ujarnya.

Fuad menilai, narasi yang dilontarkan para buzzer seringkali tidak berdasar, cenderung menakut-nakuti publik, dan memutarbalikkan realitas. Salah satu komentar yang kerap muncul adalah ancaman bahwa perusahaan akan hengkang ke luar negeri jika buruh terus melakukan aksi.

Menanggapi hal tersebut, Fuad dengan tegas membantahnya.
“Coba bang, ada berapa perusahaan yang benar-benar kabur ke luar negeri? Dan perusahaan apa saja?” katanya, seraya menantang narasi kosong yang kerap dijadikan alat propaganda.

Ia pun menegaskan, hingga saat ini tidak ada data valid yang menunjukkan gelombang perusahaan pindah ke luar negeri semata-mata karena aksi buruh. Justru banyak perusahaan tetap bertahan dan berkembang di tengah dinamika hubungan industrial.

Tak hanya itu, Fuad juga menyoroti komentar bernada merendahkan dari warganet yang menyebut buruh “bodoh” karena masih melakukan demonstrasi meski sudah digaji “besar”. Salah satu komentar bahkan datang dari seseorang yang mengaku berasal dari Bali.

“Dia bilang buruh bego, sudah dikasih gaji gede masih demo saja. Saya jawab sederhana: coba abang hitung pengeluaran keluarga abang sebulan,” ujar Fuad.

Jawaban dari komentator tersebut justru membuka fakta lain. Orang tersebut mengaku juga digaji UMR.
“Dan tanpa sadar, UMR yang dia terima itu bisa jadi hasil dari perjuangan panjang gerakan buruh,” tambah Fuad.

Menurutnya, banyak pekerja yang menikmati hasil perjuangan buruh, namun ironisnya justru ikut menghujat gerakan itu sendiri. Padahal, sejarah mencatat bahwa kenaikan upah minimum, jaminan sosial, hingga perlindungan kerja tidak pernah lahir dari kemurahan hati, melainkan dari tekanan dan perjuangan kolektif.

Komentar lain yang dianggap Fuad paling konyol adalah pertanyaan soal siapa yang bertanggung jawab jika buruh di-PHK akibat aksi demo. Dengan nada tegas, ia menjawab tanpa ragu.

“Yang bertanggung jawab ya yang mem-PHK. Ngapain orang lagi kerja di-PHK?” tegasnya.

Fuad menilai, logika menyalahkan buruh atas PHK adalah bentuk pembalikan fakta. Aksi buruh dilindungi undang-undang dan merupakan hak konstitusional. Jika terjadi PHK sepihak, itu adalah keputusan manajemen perusahaan, bukan kesalahan pekerja yang memperjuangkan haknya.

Lebih jauh, Fuad menegaskan bahwa perang opini di media sosial tidak akan menghentikan gerakan buruh. Justru sebaliknya, serangan digital menjadi bahan bakar konsolidasi dan solidaritas antar buruh lintas daerah.

“Media sosial hari ini jadi alat penting. Kalau dulu kita hanya turun ke jalan, sekarang kita juga harus melawan narasi sesat di ruang digital,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh buruh untuk tidak takut, tidak minder, dan tidak diam ketika gerakan mereka diserang. Menurutnya, diam justru memberi ruang bagi kebohongan untuk tumbuh subur.

“Perjuangan upah layak adalah perjuangan hidup. Bukan hanya untuk buruh hari ini, tapi untuk generasi berikutnya,” pungkas Fuad.

Dengan medan perjuangan yang kini meluas hingga ke dunia maya, satu hal menjadi jelas bahwa pertarungan buruh belum usai. Jalanan dan media sosial kini menjadi dua sisi dari satu perlawanan yang sama, perlawanan untuk hidup layak dan bermartabat.