Jakarta, KPonline-Di Forum Kongres V Partai Buruh. Thomas berdiri bukan sebagai juru kampanye, melainkan sebagai penerjemah zaman. Ia tidak membawa poster, tidak pula slogan keras penuh seruan. Yang ia bawa justru angka, kebiasaan, dan satu mantra baru dalam politik modern: jangan sok menggurui, nanti pemilih kabur ke TikTok.
Riwayat Thomas sendiri seperti ringkasan perjalanan ekosistem digital Indonesia. Pernah singgah di NTV, ikut arus live streaming saat Shopee sedang mabuk popularitas, membangun komunitas kreator di Indozone, hingga kini berlabuh di HCN, sebuah konsultan yang juga merangkap komunitas. Politik? Jangan salah. Thomas dan timnya ikut berada di balik layar kampanye Prabowo–Gibran 2024. Dimana semua dikerjakan di dunia digital.
“Timnya banyak, kami salah satunya,” katanya ringan, seolah ingin bilang bahwa politik hari ini bukan lagi soal siapa paling keras teriak, tapi siapa paling sering lewat di layar 6 inci.
Masuk ke inti paparannya, Thomas seperti membuka peta harta karun. Total penduduk Indonesia 287 juta jiwa. Hampir separuh pemilih 2029, dimana sekitar 49,3 persen adalah Gen Z dan Milenial. Rentang usianya 14 sampai 45 tahun. Artinya, anak SMP hari ini adalah pemilih esok hari. Dan, menurut Thomas, cara bicara ke mereka tidak bisa pakai bahasa rapat pleno.
Ia memberi contoh sederhana. Menyuruh anak mematikan AC dengan alasan tagihan listrik? Gagal. Tapi bilang bahwa mematikan AC berarti menyelamatkan lingkungan? Berhasil. Bukan soal benar atau salah, tapi soal narasi.
“Kalau kita pakai cara lama, mereka nggak dengar,” katanya. “Kalau pakai cara mereka, baru masuk”.
Gen Z, kata Thomas, adalah generasi digital murni. Mereka visual, cepat bosan, partisipatif, peduli isu benar-salah, tapi alergi digurui. Mereka lebih percaya teman daripada institusi. Lebih percaya obrolan grup daripada pernyataan resmi partai.
Dan satu penyakit massal yang justru jadi peluang adalah FOMO, yaitu fear of missing out. Begitu sesuatu viral, mereka datang. Bukan untuk mendukung, tapi untuk memastikan. “Ini apaan sih?” Dari situlah proses politik dimulai.
“Kalau Partai Buruh viral, mereka akan cari tahu,” ujarnya. “Bukan karena ideologinya dulu, tapi karena nggak mau ketinggalan”.
Data bicara lebih keras dari spanduk. 80,6 persen penduduk Indonesia menggunakan internet, dan separuhnya adalah Gen Z dan Milenial. Aktivitas utamanya? Media sosial. Bukan membaca rilis resmi, bukan artikel panjang. Tetapi scroll, swipe, dan skip.
Platformnya jelas. TikTok di puncak, disusul Instagram, YouTube, dan Facebook (yang kini lebih mirip papan pengumuman generasi senior). Bahkan mesin pencari pun tergeser. Kalau dulu “Google aja”, kini berubah jadi, “Cek TikTok dulu”.
“Kalau TikTok bilang A, mereka ikut A,” kata Thomas.
Masuk ke analisis, satir mulai terasa pahit. Media sosial Partai Buruh dinilai masih berjalan di tempat. Penambahan pengikut TikTok sekitar 125 per bulan, angka yang terlalu kecil untuk partai dengan gaung nasional. Konten didominasi dokumentasi aksi dan pernyataan formal. Bahasa gerakan, tapi dikemas seperti pengumuman rapat.
Masalahnya bukan isu. Isu Partai Buruh kaya raya. Masalahnya ada pada cara menyampaikan. Mulai dari terlalu formal, minim cerita personal, kurang visual, dan miskin interaksi. Kuat sebagai gerakan, tapi belum menjadi brand politik digital.
“Anak muda nggak mau dengar partai ngomong soal dirinya sendiri,” ujar Thomas. “Mereka mau dengar temannya yang ngomong”.
Di akhir paparan, Thomas berpesan. “waktu masih ada tiga tahun. Masih cukup untuk berbenah. Masih cukup untuk belajar bercanda tanpa kehilangan ideologi. Masih cukup untuk turun dari mimbar dan duduk di kolom komentar,” ujarnya.
Sebab menurutnya, di 2029 nanti, pemilih bukan lagi menunggu pidato. Mereka menunggu notifikasi. Dan politik, suka tidak suka, kini harus rela dinilai dari satu pertanyaan paling kejam di era digital, “Masuk FYP nggak?”