Bekasi, KPonline-Musyawarah Nasional (Munas) V Garda Metal Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) yang digelar di Omah Buruh, Kawasan Industri Delta Silicon 3, Cikarang, Kabupaten Bekasi, resmi menetapkan Supriyadi atau yang akrab disapa Piyong sebagai Panglima Koordinator Nasional (Pangkornas) untuk periode 2026–2031.
Keputusan tersebut diambil setelah melalui rangkaian sidang paripurna yang berlangsung dinamis namun tetap kondusif. Sidang dipimpin oleh Isnaeni Marzuki yang juga merangkap sebagai anggota, didampingi Nurfahrozi sebagai sekretaris merangkap anggota, serta Erik Santoso, Ardian Farid, dan Samsul Arifin sebagai anggota.
Kemudian, dalam susunan kepengurusan hasil Munas tersebut pun, Isnaeni Marzuki dipercaya sebagai sekretaris, sementara posisi bendahara diamanahkan kepada Sugeng Yulianto.
Usai disumpah dan dilantik oleh Presiden FSPMI Suparno, Supriyadi Piyong menyampaikan pidato yang sarat pesan reflektif sekaligus ajakan tegas kepada seluruh kader Garda Metal di Indonesia. Ia menekankan bahwa kekuatan organisasi tidak boleh lagi hanya sebatas angka di atas kertas.
“Tanpa kawan-kawan semua, saya bukan apa-apa. Kita ini besar karena kebersamaan. Tapi ke depan, kita tidak mau lagi hanya bicara angka. Kita ingin tahu kekuatan riil di lapangan,” tegas Piyong di hadapan peserta Munas.
Ia menyoroti masih adanya ketimpangan antara klaim jumlah anggota dengan realitas kehadiran dalam setiap agenda organisasi. Menurutnya, kondisi tersebut harus segera dibenahi melalui konsolidasi nyata di tingkat daerah.
“Jangan lagi bilang ribuan, tapi yang hadir hanya segelintir. Kita butuh data nyata, butuh kekuatan riil. Ini penting untuk menentukan langkah organisasi ke depan,” lanjutnya.
Supriyadi Piyong juga menginstruksikan seluruh jajaran daerah untuk segera melaksanakan musyawarah daerah (Musda) setelah Munas selesai. Namun sebelum itu, ia meminta agar dilakukan konsolidasi akbar guna mengukur kekuatan sebenarnya di masing-masing wilayah.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat struktur organisasi hingga ke akar rumput, sekaligus memastikan Garda Metal hadir secara aktif di seluruh basis industri.
Ia bahkan menyinggung sejumlah daerah seperti Aceh dan Sumatera Utara yang telah memiliki Garda Metal, namun dinilai belum berkembang secara maksimal.
“Bukan hanya tugas nasional, tapi juga tugas kawan-kawan di daerah untuk membesarkan dan menjaga organisasi ini,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Supriyadi Piyong juga mengingatkan bahwa perjalanan organisasi tidak selalu mulus. Ia menyebut berbagai dinamika yang terjadi dalam kongres-kongres sebelumnya sebagai pelajaran berharga.
“Dari 2006, 2010, 2016, 2021 hingga 2026, banyak hal yang terjadi. Itu semua jadi pembelajaran untuk kita agar ke depan lebih solid dan tidak mengulang kesalahan yang sama,” katanya.
Tak hanya berbicara soal internal organisasi, Piyong juga menegaskan kesiapan Garda Metal dalam agenda perjuangan ke depan. Ia menyebut dua momentum penting, yakni aksi pada 16 April dan peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei.
Untuk aksi 16 April, Garda Metal ditargetkan mengerahkan sekitar seribu massa. Sementara pada May Day, jumlah peserta yang diharapkan mencapai 2.000 hingga 3.000 orang.
“Kita ingin lihat seberapa besar militansi kawan-kawan. Jangan hanya semangat di forum, tapi juga hadir di jalan perjuangan,” tegasnya.
Dalam nada yang lebih emosional, Supriyadi Piyong juga mengajak para anggota yang sempat menjauh atau bergabung dengan kelompok lain untuk kembali ke Garda Metal.
Ia menyebut organisasi sebagai “rumah besar” yang harus dijaga bersama, termasuk dengan merangkul kembali kawan-kawan lama.
“Ajak kembali mereka. Kita berjuang bersama, panas-panasan bersama. Ini rumah kita,” ujarnya.
Mengakhiri sambutannya, Supriyadi Piyong menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta Munas, pengurus daerah, serta anggota Garda Metal di seluruh Indonesia yang masih setia menjaga organisasi.
Ia juga menyadari bahwa perjalanan ke depan tidak mudah, namun dengan persatuan dan konsolidasi yang kuat, ia optimistis Garda Metal akan semakin solid.
“Terima kasih atas kepercayaan ini. Mari kita jaga dan besarkan organisasi ini bersama-sama,” pungkasnya.
Dengan terpilihnya kembali Supriyadi Piyong sebagai Pangkornas, Garda Metal FSPMI kini dihadapkan pada tantangan besar: membuktikan bahwa militansi tidak hanya slogan, melainkan kekuatan nyata yang terorganisir dan siap bergerak