Jakarta, KPonline-Kongres VII dan Musyawarah Nasional (Munas) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) yang diselenggarakan di Mercure Hotel, Jakarta selama tiga hari, Minggu-Selasa (8-10/2/2026) menjadi panggung penegasan arah perjuangan organisasi ke depan. Dalam sesi pidato di akhir Kongres, Presiden FSPMI terpilih periode 2026-2031, Suparno, mengingatkan seluruh peserta kongres agar tidak mengorbankan persatuan hanya demi kepentingan pribadi maupun kelompok.
Kemudian, dihadapan peserta Kongres VII yang hingga hari terakhir masih bertahan, Suparno menyampaikan rasa bangganya terhadap militansi kader dan pimpinan serikat yang tetap setia menjaga kapal besar bernama FSPMI.
“Saya sangat bangga dengan kawan-kawan yang masih bertahan sampai hari ini. Ini demi mempertahankan kapal besar kita, federasi yang sudah kita bangun bersama,” tegas Suparno.
Tidak berhenti pada pujian, Suparno mengingatkan bahwa tantangan ke depan jauh lebih berat, terutama terkait ancaman regulasi ketenagakerjaan yang terus menghantui kaum buruh.
“Undang-undang ketenagakerjaan itu terus terngiang di pikiran saya. Itu PR besar kita bersama. Jangan sampai perjuangan kita dikalahkan oleh kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok,” ujarnya.
Suparno secara terbuka menolak praktik saling menjatuhkan di internal organisasi. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun pihak yang paling hebat di tubuh FSPMI, sebab kekuatan federasi justru terletak pada soliditas seluruh anggotanya.
“Tidak ada yang paling hebat di FSPMI. Yang hebat adalah seluruh anggota FSPMI, termasuk Anda semua,” katanya.
Suparno juga menyampaikan apresiasi kepada para pendiri dan tokoh senior yang tetap setia mendampingi organisasi hingga puluhan tahun. Nama-nama seperti Haji Suleman dan Ridwan Panjaitan disebut sebagai simbol kesetiaan dan konsistensi perjuangan buruh yang tidak lekang oleh waktu.
Selanjutnya, Suparno memberi peringatan agar FSPMI tidak mudah dipecah belah oleh kepentingan luar maupun konflik internal yang sengaja dipelihara.
“Jangan mudah dipengaruhi, jangan mudah dipecah belah demi kesejahteraan kaum buruh di negeri ini. Jangan pecah belah FSPMI,” tegasnya.
Dalam komitmen kepemimpinannya, Suparno menegaskan bahwa dirinya tidak akan memimpin secara sepihak. Ia berjanji akan melibatkan seluruh Serikat Pekerja Anggota (SPA) dalam setiap pengambilan kebijakan strategis organisasi.
“Organisasi ini bukan milik Suparno sebagai presiden. Organisasi ini milik seluruh anggota. Semua keputusan akan kita putuskan bersama,” ujarnya.
Kongres VII pun tidak hanya sekadar menjadi ajang pergantian kepemimpinan, tetapi momentum peringatan bahwa perjuangan buruh belum selesai dan hanya bisa dimenangkan dengan solidaritas, bukan perpecahan.



