Sukseskan Kongres VII FSPMI 2026, Garda Metal Bergerak Lebih Awal

Sukseskan Kongres VII FSPMI 2026, Garda Metal Bergerak Lebih Awal
Giat Briefing Garda Metal | Foto by Galih Rahmayadi (MP Cianjur)

Jakarta, KPonline-Awal tahun 2026 menjadi penanda penting bagi arah perjuangan buruh Indonesia. Bukan sekadar pergantian kalender, tetapi momentum penentuan masa depan gerakan buruh, khususnya bagi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Kongres VII dan Musyawarah Nasional (Munas) FSPMI yang akan digelar selama tiga hari, Minggu hingga Selasa (8–10 Februari 2026), di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta, dipandang sebagai arena krusial. Apakah FSPMI tetap kokoh sebagai kekuatan perlawanan kelas pekerja, atau justru goyah oleh dinamika internalnya sendiri.

Kongres VII dan Munas FSPMI bukan agenda seremonial lima tahunan. Ia adalah ruang pemilihan pemimpin, pertarungan gagasan, adu arah strategi, sekaligus cermin kedewasaan organisasi dalam menjaga marwah perjuangan rakyat pekerja, serta keputusan-keputusan yang lahir dari forum ini akan sangat menentukan langkah FSPMI ke depan.

Menariknya, denyut Kongres sudah jauh terasa. Sejak Sabtu malam (7/2/2026), Garda Metal FSPMI. Salah satu pilar penting federasi telah tiba lebih awal di lokasi. Mereka langsung bergerak, melakukan persiapan teknis, mulai dari pemasangan atribut dan bendera federasi, hingga pengaturan lapangan. Kehadiran lebih awal ini bukan tanpa makna. Di tubuh FSPMI, Garda Metal dikenal bukan sekadar barisan pengamanan, tetapi simbol disiplin, militansi, dan kesetiaan terhadap organisasi.

Panglima Koordinator Nasional (Pangkornas) Garda Metal FSPMI, Supriyadi atau yang akrab disapa Piyong, menegaskan bahwa tugas Garda Metal selama Kongres dan Munas berlangsung adalah memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman dan tertib.

“Kita sebagai pilar organisasi, tugas kita selama tiga hari ke depan adalah menjadi satuan tugas pengamanan selama prosesi Kongres dan Munas berlangsung. Semoga Kongres dan Munas besok bisa berjalan lancar,” ujar Piyong dalam briefing internal Garda Metal.

Pernyataan tersebut menegaskan satu hal bahwa stabilitas internal menjadi harga mati. Di tengah isu, perbedaan pandangan, dan potensi gesekan, Garda Metal diposisikan sebagai penjaga marwah organisasi. Bukan untuk menekan kritik, melainkan memastikan dinamika yang terjadi tetap berada dalam koridor organisasi dan tidak berubah menjadi konflik destruktif.

Nada serupa disampaikan Wakil Presiden FSPMI bidang Aksi, Eddy Kuntjoro. Ia mengapresiasi kehadiran Garda Metal yang datang lebih awal, bahkan di malam hari, demi memastikan kesiapan Kongres. Eddy secara terbuka mengakui masih adanya kekurangan dalam persiapan teknis, namun menekankan bahwa hal tersebut adalah bagian dari proses pembelajaran organisasi.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan yang malam ini sudah hadir. Mungkin masih banyak kekurangan, mohon dimaklumi. Ini memang hal-hal yang harus terus kita perbaiki,” ujar Eddy.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya menjaga sikap dan emosi selama Kongres berlangsung. “Untuk tugas-tugas ke depan, saya mohon dengan sangat agar kita menjaga keamanan sebaik-baiknya. Jangan terpancing oleh hal-hal yang justru bisa membuat Kongres kisruh. Tidak ada anggota Garda Metal yang justru membuat organisasi ini rusak. Semua harus menahan diri agar Kongres berjalan baik dan lancar,” tegasnya.

Pernyataan tersebut seolah menjadi pesan tersirat bahwa Kongres VII FSPMI tidak sepenuhnya steril dari dinamika internal. Ada perbedaan pandangan, ada ketegangan, dan ada isu-isu yang belum sepenuhnya menemukan titik temu.

Namun justru di situlah ujian kedewasaan organisasi berada. Apakah perbedaan disikapi sebagai kekuatan demokrasi, atau berubah menjadi perpecahan.

Sementara itu, Sekretaris Nasional Garda Metal FSPMI, Isnaeni Marzuki, menekankan pentingnya disiplin teknis dan koordinasi dengan panitia pelaksana (OC). Ia menjelaskan bahwa tugas Garda Metal pada malam persiapan difokuskan pada area sekitar hotel, sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Kita malam ini hanya bertugas di sekitar hotel. Keluar area tidak diperbolehkan. Kita bantu panitia OC untuk persiapan teknis, pemasangan bendera, materi, dan kebutuhan lainnya. Semua dikoordinasikan, nanti dibagi tugasnya,” jelas Isnaeni.

Ia juga memaparkan gambaran teknis pelaksanaan Kongres, mulai dari pemusatan kegiatan di Mercure Ancol, pengaturan ruang rapat di Balroom hotel, hingga distribusi peserta dan panitia. Sekitar 80 persen anggota Garda Metal disebutkan berada di lokasi utama, sementara sisanya menempati titik lain yang telah ditentukan. Semua pengaturan ini, menurutnya, bertujuan menjaga efektivitas, keamanan, dan kelancaran Kongres.

Di balik teknis dan pengamanan, tersimpan pesan yang lebih besar yakni FSPMI sedang berada di persimpangan jalan. Kongres VII bukan hanya soal memilih kepemimpinan atau merumuskan program kerja, tetapi juga tentang merawat persatuan di tengah perbedaan. Isu-isu internal, termasuk perbedaan sikap sebagian elemen terhadap juknis dan mekanisme Kongres, menjadi realitas yang tidak bisa dihindari.

Namun sejarah gerakan buruh menunjukkan satu hal bahwa organisasi besar tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan mengelola perbedaan. Kongres VII FSPMI menjadi panggung pembuktian, apakah federasi ini masih mampu berdiri tegak sebagai rumah besar kaum buruh federasi Serikat pekerja metal Indonesia, atau justru tersandera oleh konflik internalnya sendiri.

Ketika Garda Metal bergerak lebih awal, memasang bendera, dan menjaga arena Kongres, pesan yang disampaikan sangatlah jelas, dimana perjuangan buruh tidak boleh runtuh oleh ego dan perpecahan. Di tengah gempuran kapital dan kebijakan yang sering kali menekan buruh, persatuan bukan pilihan, melainkan keharusan.

Kongres VII FSPMI 2026 pun menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Ia adalah ujian sejarah bagi arah dan masa depan gerakan buruh Indonesia.