Solidaritas Global Dari Filipina di Kongres V Partai Buruh: Kelas Pekerja Dunia Bersatu

Solidaritas Global Dari Filipina di Kongres V Partai Buruh: Kelas Pekerja Dunia Bersatu
Foto by Galih R | Media Perdjoeangan Cianjur

Jakarta, KPonline-Kongres V Partai Buruh bukan sekadar giat rutin organisasi politik. Ia menjelma menjadi panggung perlawanan global ketika solidaritas lintas negara digaungkan secara terbuka dalam Deklarasi Perjuangan dan pembukaan kongres tersebut. Dari podium kongres, Emmanuel Hizon, Vice Presiden Akbayan Party, partai progresif asal Filipina menyampaikan pesan bahwa vperjuangan kelas pekerja tidak lagi bisa dibatasi oleh batas negara.

“Terima kasih dan salam solidaritas dari Progressive Alliance,” ucapnya membuka pidato. Progressive Alliance sendiri merupakan asosiasi partai-partai progresif dunia yang menaungi 102 partai politik dari berbagai benua, sebuah fakta yang menegaskan bahwa Partai Buruh Indonesia kini berdiri dalam jejaring perjuangan internasional.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Partai Buruh atas undangan dan kesempatan menjadi bagian dari momen penting tersebut. Menurutnya, Kongres V Partai Buruh bukan hanya peristiwa internal sebuah partai, melainkan titik temu pergerakan progresif global yang memiliki nilai dan tujuan yang sama yaitu kebebasan, keadilan sosial, dan solidaritas.

“Kongres ini adalah kesempatan untuk membangun unit yang lebih besar. Bukan hanya oleh pergerakan di Indonesia, tetapi oleh partai-partai dan gerakan politik di seluruh dunia yang berbagi nilai kebebasan dan keadilan sosial,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kongres bukan semata-mata forum kebersamaan atau seremoni politik. Kongres, menurutnya, adalah ruang strategis, tempat nilai, gagasan, dan arah politik dirumuskan untuk menghadapi situasi global yang kian genting.

“Kita semua tahu, saat ini pergolakan politik dan sosial sedang terjadi di berbagai belahan dunia. Masyarakat sedang dipecah oleh oligarki, otoritarianisme, dan bahkan bentuk-bentuk baru penjajahan,” ujarnya lantang.

Dalam konteks itu, ia menilai bahwa persatuan sosial bukan pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Kemenangan rakyat dan kelas pekerja, katanya, hanya bisa dicapai melalui agenda progresif yang konsisten dan terorganisir.

Ia mengingatkan bahwa kekuatan oligarki global memiliki tujuan yang jelas. Memotong kesejahteraan, melemahkan perlindungan sosial, dan menundukkan buruh pada logika pasar yang kejam. Karena itu, tugas gerakan progresif adalah menciptakan tandingan politik yang nyata.

“Tugas kita adalah menciptakan kesetaraan, derajat yang sama dan keadilan bagi seluruh pekerja,” katanya.

Vice Presiden Akbayan Party tersebut pun kembali menegaskan bahwa ide-ide yang lahir dari Kongres V Partai Buruh tidak boleh berhenti sebagai dokumen atau slogan. Ia harus diterjemahkan menjadi realitas politik dan sosial yang dirasakan langsung oleh kelas pekerja.

“Kisah-kisah, ide, dan tuntutan kuat yang ditulis di tempat ini harus diubah menjadi realitas,” ujarnya. Ia memastikan bahwa jaringan progresif dari lebih dari 100 negara siap berdiri dalam solidaritas bersama Partai Buruh Indonesia untuk mewujudkan agenda tersebut.

Menurutnya, perjuangan mengembalikan kesejahteraan kelas pekerja bukan hanya agenda nasional, melainkan perjuangan global. Partai-partai progresif di berbagai negara, kata dia, memiliki tanggung jawab yang sama untuk memimpin pergerakan rakyat menuju keadilan sosial.

Pidato tersebut juga menyinggung agenda politik ke depan, termasuk persiapan menuju Pemilu 2029. Kongres V Partai Buruh dinilai sebagai momentum penting untuk mempersatukan kekuatan, memperkuat solidaritas, dan menyiapkan kemenangan politik.

“Ajang ini adalah ruang untuk mempersatukan kekuatan dan mencapai kemenangan,” katanya. Bukan hanya kemenangan elektoral bagi Partai Buruh di Indonesia, tetapi juga kemenangan ideologis bagi gerakan pekerja di tingkat global, termasuk di negara-negara utara global yang selama ini menjadi pusat kekuatan ekonomi dunia.

“Membangun Indonesia yang lebih adil bagi kelas pekerja, sekaligus memperkuat solidaritas internasional sebagai benteng melawan ketidakadilan global,” pungkasnya.