Purwakarta, KPonline-Mobil komando (Mokom) legendaris Si Jalu, yang selama ini dikenal sebagai ikon perjuangan serikat pekerja FSPMI, khususnya di lingkungan Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI), kini tampil dengan energi baru.
Kendaraan yang kerap menjadi pusat perhatian dalam berbagai aksi tersebut menjalani perbaikan penting dengan mengganti perangkat sound system ke kualitas yang lebih mumpuni.
Bagi kalangan buruh, “Si Jalu” bukan sekadar kendaraan. Ia telah menjelma menjadi simbol suara kolektif, saksi bisu perjalanan panjang aksi-aksi besar Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Baik itu di Purwakarta, maupun Ibukota DKI Jakarta dan Wilayah Kabupaten Jawa Barat lainnya dalam menyuarakan tuntutan kesejahteraan kelas pekerja. Dari terik panas jalanan hingga guyuran hujan di tengah unjuk rasa, mobil komando ini tetap setia mengawal orasi, seruan, dan aspirasi.
Peremajaan sound system ini bukan tanpa makna. Di tengah dinamika hubungan industrial yang terus berubah, kekuatan komunikasi massa tetap menjadi urat nadi gerakan buruh. Suara yang lantang, jelas, dan berdaya jangkau luas bukan hanya soal teknis. Melainkan bagian dari strategi perjuangan.
“Ini bukan sekadar ganti speaker. Ini tentang memastikan suara buruh tidak lagi terdengar sayup-sayup,” ungkap salah satu pengurus PUK Hino yang juga biasa disebut sebagai Presiden Mokom, Kadir Sulistianto. Menurutnya, kualitas audio yang lebih baik akan memperkuat penyampaian pesan dalam setiap aksi, terutama ketika menyuarakan isu-isu krusial terkait hak normatif, upah layak, dan kepastian kerja.
“Selama bertahun-tahun, Si Jalu telah hadir di berbagai momentum penting. Ia berdiri di garis depan barisan massa, menjadi panggung bergerak bagi para orator, sekaligus penanda bahwa perjuangan belum usai. Setiap dentuman suara yang keluar dari perangkatnya kerap membakar semangat peserta aksi,” ujar Kadir.
Kemudian, kata Kadir, langkah perbaikan ini juga dipandang sebagai refleksi konsistensi organisasi. “Di saat sebagian pihak meragukan daya tahan gerakan buruh, pembaruan fasilitas aksi justru menunjukkan kesiapan menghadapi babak-babak perjuangan berikutnya,” ungkapnya.
Di mata anggota, Si Jalu adalah lebih dari sekadar aset organisasi. Ia adalah bagian dari sejarah kolektif, simbol keteguhan, dan pengingat bahwa perubahan tidak datang dari keheningan.
Dengan perangkat suara yang kini lebih “bertenaga”, mobil komando tersebut seakan menegaskan satu pesan sederhana namun kuat. Yaitu perjuangan buruh FSPMI akan terus menggema, lebih keras, lebih jelas, dan semakin sulit diabaikan.