Satria Putra Terpilih Kembali, Misi Perjuangkan Hak Buruh Perkebunan Di Riau Terus Berlanjut

Satria Putra Terpilih Kembali, Misi Perjuangkan Hak Buruh Perkebunan Di Riau Terus Berlanjut

Pekanbaru, KpOnline- Satria Putra secara resmi kembali dipercaya untuk menakhodai Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Provinsi Riau masa bakti 2026-2031. Keterpilihan kembali Satria Putra dalam musyawarah wilayah ini menjadi sinyal kuat akan keberlanjutan regenerasi kepemimpinan yang progresif pada tubuh organisasi di Bumi Lancang Kuning tersebut. Amanah ini disambut hangat oleh seluruh anggota sebagai momentum untuk memperkuat posisi tawar buruh di tengah dinamika industri yang kian kompleks, Jum’at (06/03/2026).

​Ucapan selamat dan apresiasi mengalir deras dari berbagai sektor pekerja, terutama para buruh yang menggantungkan hidup di sektor perkebunan. Dalam pidato sambutannya, Satria menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan bukan sekadar jabatan struktural, melainkan sebuah tanggung jawab moral untuk memastikan hak-hak dasar pekerja tetap terlindungi. Motivasi perjuangan ini menjadi energi baru bagi para pengurus untuk tetap konsisten berada di garis terdepan dalam membela kepentingan rakyat kecil.

​Fokus utama FSPMI Riau di periode ini akan memberikan atensi besar terhadap nasib buruh perkebunan kelapa sawit yang tersebar luas di seluruh pelosok Riau. Hingga saat ini, persoalan status kerja, jaminan keselamatan kesehatan kerja (K3), serta upah yang layak bagi pekerja harian lepas di perkebunan masih menjadi tantangan yang belum tuntas. FSPMI berkomitmen untuk terus mengadvokasi perubahan regulasi yang lebih memihak kepada para pemanen dan buruh rawat yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

​Perjuangan ke depan dipastikan tidak akan mudah, mengingat tantangan global dan digitalisasi yang mulai merambah sektor agraris. Satria Putra menekankan pentingnya soliditas dan militansi anggota dalam menghadapi potensi degradasi hak-hak normatif. Di bawah kepemimpinannya, FSPMI Riau berencana memperkuat edukasi hukum bagi buruh perkebunan agar mereka memiliki daya kritis dan keberanian dalam menuntut keadilan terhadap kebijakan perusahaan yang merugikan.

​Selain advokasi di lapangan, strategi perjuangan ke depan juga akan menyasar pada penguatan lobi-lobi politik dan dialog bipartit yang lebih konstruktif dengan pemerintah daerah. FSPMI Riau menargetkan adanya standar upah sektor perkebunan yang lebih manusiawi serta jaminan hari tua yang pasti bagi para buruh. Transformasi organisasi akan terus digalakkan guna memastikan setiap buruh di pelosok kebun merasa memiliki pelindung yang tangguh dan nyata.

​Menutup narasinya, Satria mengajak seluruh elemen buruh di Riau untuk merapatkan barisan dan membuang ego sektoral demi kesejahteraan bersama. Ia meyakini bahwa dengan kebersamaan di bawah bendera FSPMI, suara buruh perkebunan yang selama ini sering terabaikan akan terdengar lebih lantang di meja perundingan. Perjuangan 2026-2031 ini bukan hanya tentang mempertahankan apa yang ada, tetapi tentang merebut kembali martabat buruh Riau menuju kehidupan yang lebih sejahtera.