Pelalawan, KPonline- Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (DPW FSPMI) Provinsi Riau, Satria Putra, menghadiri langsung Kongres VII FSPMI yang digelar di hotel Mercure kawasan Ancol, Jakarta,
sebagai forum tertinggi organisasi dalam menentukan arah perjuangan kaum buruh ke depan. Minggu (08/02/26).
Kehadiran Satria Putra bersama delegasi DPW FSPMI Riau menjadi bentuk komitmen kuat untuk memastikan aspirasi buruh di Provinsi Riau turut diperjuangkan dalam keputusan strategis organisasi secara nasional.
Kongres VII FSPMI mengusung tema “Bangga Berjuang Bersama FSPMI”, yang menegaskan bahwa solidaritas dan kekuatan organisasi tetap menjadi senjata utama buruh dalam menghadapi tantangan dunia kerja, termasuk ancaman praktik kerja tidak adil, upah murah, hingga lemahnya perlindungan jaminan sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Satria Putra menegaskan bahwa Kongres bukan sekadar agenda rutin lima tahunan, tetapi momentum penting untuk memperkuat persatuan buruh serta memastikan FSPMI tetap berdiri di garis depan perjuangan.
“Kongres VII FSPMI bukan hanya ajang konsolidasi organisasi, tetapi menjadi momentum memperkuat barisan perjuangan buruh. Tema Bangga Berjuang Bersama FSPMI adalah seruan bahwa buruh tidak boleh berjalan sendiri. Kita harus solid, terorganisir, dan terus bergerak melawan segala bentuk praktik kerja yang tidak adil,” tegas Satria Putra.
Satria Putra juga menegaskan bahwa FSPMI akan terus mengawal isu-isu utama yang menyangkut kehidupan buruh, mulai dari upah layak, jaminan sosial, hingga kebijakan ketenagakerjaan yang berpihak pada pekerja.
“FSPMI harus tetap berada di garis depan mengawal upah layak, memperjuangkan jaminan sosial, dan mendorong lahirnya kebijakan politik yang benar-benar berpihak kepada kaum buruh. Ini bukan sekadar slogan, tetapi mandat perjuangan yang harus kita jalankan,” tambahnya.
Menurutnya, Kongres VII FSPMI menjadi bukti bahwa FSPMI bukan organisasi yang hidup dari cerita masa lalu, melainkan terus bergerak dan menyusun strategi untuk memastikan masa depan buruh tidak ditentukan sepihak oleh kekuasaan dan modal.
“Di ruang-ruang sidang Kongres ini, kita sedang merajut ulang sejarah perlawanan buruh metal. Estafet perjuangan diteruskan bukan untuk dikenang, tetapi untuk dilawan dan dimenangkan. Riau siap menjadi bagian dari barisan besar perjuangan itu,” tutup Satria Putra.
Kongres VII FSPMI juga menjadi ajang memperkuat konsolidasi nasional, mempertegas garis perjuangan organisasi, serta menyatukan tekad untuk menghadapi tantangan ketenagakerjaan yang semakin kompleks di masa depan.