Oleh : Budi Setiawan
Pagi itu bukan pagi biasa
Pukul delapan,
lima puluh dua jiwa berkumpul
Bukan untuk upah lembur,
melainkan belajar, cara melawan dengan pena
Kita berdiri,
Indonesia Raya menggema,
Mars FSPMI menggetarkan dada.
Lalu Kabiro, Mba Wiwik melangkah maju memberikan sambutannya,
Kalimatnya sederhana, tapi mengguncang asa,
Membakar kembali semangat yang hampir padam,
Mengingatkan kami untuk apa kami berada di sini.
Kemudian, datang Paman Yanto,
Ia ajarkan kami merangkai kata
Bahwa berita bukan sekadar kalimat
Tapi harus jelas, terstruktur, dan jujur
Agar kaum buruh mampu mengeja makna.
Lalu Bang Ocha bicara tentang cahaya
Tentang lensa dan keberanian
Bahwa satu foto bisa lebih nyaring dari seribu orasi
Ia ajarkan kami membidik, bukan sekadar memotret
melainkan mendokumentasikan kebenaran.
Mas Indrayana menyalakan api di dunia maya
Katanya, ini era Propaganda Cyber
Jika kita diam, algoritma akan dikuasai lawan.
Maka ruang digital harus kita rebut, demi cerita kita, demi garis perjuangan kita!
Dan Mba Wiwik Aswanti, SH., MH.
hadir membawa palu hukum
Ia mengingatkan kami, bahwa pena kami tajam,
Namun harus tahu alurnya, harus tahu batasnya
Agar pena tak berbalik melukai sang pejuang.
Dari delapan pagi hingga lima sore
Kami duduk, mencatat, dan bertanya
Hingga tiba saatnya pesan dan kesan diutarakan
Ada suara yang bergetar
Ada mata yang berkaca-kaca.
Sebab kami baru menyadari, media ini milik kita
Lalu selembar sertifikat dibagikan
Bukan sekadar kertas formalitas,
Melainkan sebuah mandat
Mandat untuk pulang ke pabrik masing-masing
Dan menuliskan apa yang selama ini dibungkam
Pelatihan memang telah usai,
Namun perjuangan yang sesungguhnya baru dimulai Lima puluh dua pena telah diasah hari ini
siap mengabdi untuk Media Perjuangan FSPMI
Bekasi, Minggu – 18 Oktober 2026
#MediaPerjuanganFSPMI
#BanggaBerjuangBersamaFSPMI